Entah

Posted in Uncategorized on Februari 19, 2011 by Mas Yon

Aku tak tahu harus menulis apa.
Blogku lama tak kutengok dan aku tetap tidak mengisinya
Entah harus bagaimana mengungkapkannya
manakal bahagia dan sedih berbaur dalam keheningan.
entah sampai kapan. Aku hanya bisa menikmatinya

Seperti biasa. Selalu indah.

Posted in Cinta & Obsesi on Desember 25, 2010 by Mas Yon

Entah untuk keberapa ratus kali kita bertemu
Dari berbincang ala kadarnya….
hingga diskusi (setengah) serius
bahas hal-hal yang kadang di luar jangkauan
nalar kita
Di restoran
Di bawah pohon kelapa di sebuah pantai
Di mobil
Di warung bakso tepi jalan
Di toko buku
Di tepi danau buatan
Di kursi taman
Di warung bubur ayam
Di warung nasi uduk
Di kantor(mu)
Di mall
Di tempat-tempat lain yang sudah terlupakan.
Seperti biasa. Selalu indah

Di sana selalu saja ada kedamaian
kebahagiaan
Canda tawa, sesekali tangis bersama
mengisi relung luka dan cita-cita

Aku suka kau gembira
aku senang kau bahagia
sebab
aku juga akan bahagia
Seperti biasa. Selalu indah.
Cinta tak harus selalu bersama
tapi akan tetap indah dan indah
selama kita percaya
Seperti biasa. Selalu indah, ya?

BCD, 00.05 (26/12/10)
kepadamu, seorang yang lain daripada yang lain

biarkan hatiku menari

Posted in Debu Pencinta on September 14, 2010 by Mas Yon

Bersama irama jantung
hatiku menari laksana penari padang pasir
tangannya melambai, tubuhnya gemulai
memutar,
meliuk. kepalanya mendongak.
tak jarang menunduk dan menggeleng
Matanya menatap tajam
kadang melirik liar ke kiri
ke kanan. bola mata nanar!

Hatiku menari bersama gelisah
bersama mimpi menyenandungkan cinta
menyemangati tubuh untuk tetap hidup
berproses.
mendorong otak untuk berpikir

Hatiku jalang menari telanjang
memamerkan pusarnya. auratnya.
Menari, berdendang sambil sesekali
mendesis dan menggumam,
“Adakah cinta itu untukku?”
Lalu pada saat lain berteriak lantang
memekik, “Aku cinta padamuuuuuu!!!!”

Dia begitu berani memutar-mutar pinggang dan pinggulnya
membusungkan dadanya,
membuka cadarnya, melemparkan selendangnya
bahkan memamerkan kemaluannya
juga memelehkan air matanya

karena hanya kamu yang ada di hadapannya!

Montong, maghrib 13 Sept. 10

Tempat Sampahku

Posted in Cinta & Obsesi on September 12, 2010 by Mas Yon

Kalian tahu apa tempat sampah itu
Ya… tempat sampah,
Tempat membuang aneka sampah yang tersisa
tak terpakai, tak layak digunakan, tak bermanfaat

Tempat sampah identik dengan kotor dan bau
Betul begitu, bukan?
Tapi tidak bagiku.
Tempat sampahku terlalu anggun
teramat manis
Meski di sana-sini ada luka
goresan lama yang tak juga hilang
luka baru yang juga membekas
bahkan derita berkepanjangan
akibat kurang perhatian dan perawatan

Sudah dua tahun aku memiliki tempat sampah itu
Selama irtu, dia tetap kupergunakan untuk membuang
aneka sampah….. karena memang dia tempat sampah!
Sampahku menumpuk di sana
Dia tetap sabar dan tahan hingga luber, penuh
dan hilang ditelan waktu
Sampah kerinduan, sampah cinta, sampah kemunafikan
Banyak kutimbun di sana
Tak jarang sampah sisa kejujuran pun kulemparkan

Dua tahun pula kusayangi tempat sampah itu
Dengan caraku… bersama segenap cintaku
kucoba menambal luka2nya
kucoba membersihkan jahitan-jahitan luka barunya
kucoba melaburnya dengan warna-warna lain
karena aku mengharapkan harmoni tercipta
di sana
Ini bukan mengharapkan simpati darinya agar dia
tetap bersedia jadi tempat sampahku
Bukan itu… sama sekali bukan.
Karena aku pun terlalu tulus menjaganya
Merawatnya dengan cintaku agar dia tetap mewangi
di antara bau busuk dunia.
tentu sambil tetap kulempari sampah-sampah baru
tetap sampah yang sama
(sampah cinta, sampah kerinduan, sampah kemunafikan,
dan sampah sisa kejujuran)

Tempat sampahku terlalu anggun untuk disia-siakan
terlalu mulia untuk dihinakan
sungguh, aku bersumpah
tak rela jika ada tangan, hati, serta otak kotor dan kerdil
menyakitinya, menambah luka-luka di keliling temboknya
di relung dalam, hatinya!
aku bersumpah akan menjaganya hingga sang waktu
menghentikanku
Hingga Tuhan memutuskan melarangku membuang sampah
kepadanya
Hingga Dia meluluh-lantakkan cintaku kepadanya.
Karena dia tempat sampahku yang istimewa.
Dia yang selalu kurindukan dan kucinta!

Depok 12/09/10. (23.05)
Dan air mataku pun meleleh lagi….

Sakitku Karenamu

Posted in Cinta & Obsesi on Juli 8, 2010 by Mas Yon

Bukan bayangan indah tubuhmu
yang bangkitkan birahiku
bukan kecantikanmu yang membuatku
terpesona….
Bukan itu.
Entah, sejak kita pertama bertemu
aku begitu sayang padamu
sayang seorang sahabat
sayang sebagai saudara
lebih dari sedarah…..

Sejak itu, sejak pertama bertemu
sakitmu sering kurasakan
deritamu tak jarang kuderita juga

Kini, dilemamu…. keinginan di antara ketakutanmu
justru menghantuiku.
Dan, sungguh membuatku sakit
Tapi sakit itu kunikmati
karena aku tahu sakitku
adalah rasa sayang padamu
yang tak terhingga….

Jangan bersedih Dinda.

Jagakarsa, 8/7/10 20.53

Doa untuk Dinda

Posted in Uncategorized on Juli 8, 2010 by Mas Yon

Dinda….

sakit tentu ada obatnya
luka pasti ada keringnya
seperti banjir ada habisnya
layaknya hujan
pun ada berhentinya

sebagai sahabat , saudara
yang sangat menyayangimu
aku hanya mampu memberi saran:
“Berdoa, tawakal, istikharoh….,
Allah SWT akan menjawab yang terbaik!:

Dan aku hanya bisa membantu dengan
sedikit doa:
“Ya Allah, ya Khaliq yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang, Maha Adil, dan Maha Bijak,
tunjukkan jalan terbaik bagi saudariku
yang kusayangi ini.
Aku yakin titah-Mu, kehendak-Mu, dan
bantuan-Mulah yang terbaik.
Terindah. Amin”

With love…
Yon

Montong, 8/7/10

Tragedi Bocah Ganteng

Posted in Uneg-uneg on Juni 8, 2010 by Mas Yon

Kamu tampan… kamu rupawan

Kamu biduan… kamu ternama

Kamu pujaan…. kamu bajingan

Kamu pejantan…. kamu buktikan

Bukan di panggung, tapi di ranjang

Lagumu mengharu biru generasiku

Gayamu ditiru penuh cemburu

Ketampananmu membuat rindu pemujamu

Tapi kenapa kamu tebar napsu di segala penjuru?

Dari pelukan penggemarmu

Ke pelukan kekasihmu, lalu temanmu

Kamu reguk sejuta madu tak juga jemu

Kamu nikmati tubuh-tubuh itu

Dengan gaya Don Yuan-mu

Ooohh….. hingga sang waktu

Melemparkanmu, mencibirmu,

Mencemoohmu…

Meludahimu…..

Jakarta, 8 Juni 10