PEMILU SEBULAN LAGI

Posted in Debu Pencinta on Maret 10, 2009 by masyon

Pesta demokrasi coy……
Awali dengan demonstrasi coy….
Demonstrasi para capres menggumbar janji
Demonstrasi para caleg menebar mimpi…
Demonstrasi parpol uji nyali meski cekak rezeki
Demonstrasi bikin baliho, spanduk, backdrop, poster, banner, kaos, syal partai……
Tempel di sana-sini….
Bentangkan di tiang listrik, telepon, pepohonan yang merangas
Gak peduli trotoar makin gak nyaman, pepohonan merana, jembatan penyeberangan semrawut……
Masa bodoh dengan estetika….. yang penting bisa jadi model
minimal model bahan tertawaan rakyat…… Banggakah engkau?

Pemilu sebulan lagi……
Rasa acuh tak acuh, masa bodoh, bercampur dengan keinginan kami–rakyat kecil–mencoba mengingat lambang dan nomor urut partai
Sambil membayangkan mata yang penat menatap wajah dan (juga nomor urut) caleg yang hendak mewakili (padahal memaksakan diri menjadi wakil kami) di lembar-lembar suara nanti

Harap-harap cemas bercampur takut apa jadinya negeri nanti, bangsa ini kemudian hari…..
Capres, caleg, partai akankah benar2 menepati janji
adakah mereka ingin memperbaiki negeri, mengangkat derajat kami?

Aku bukan meramal, hanya memprediksi…….. satu dua minggu, dua tiga bulan setelah pemilu
akan ada banyak calon yang tak jadi….. stres dan depresi…..
RSJ pada akhirnya penuh penghuni……….
Suami istri akan banyak yang cerai berai!

Sahabatku semua, terutama sahabatku yang mencalonkan diri,
aku hanya berpesan:
“Kuatkan niat dan tekadmu jika memang itu panggilan nurani memperbaiki negeri….
Bangun optimismemu dengan ridho Illahi, bangkitkan semangatmu untuk kesejahteraan kami.
Namun, jika engkau hanya ingin cari rezeki, berniat memperkaya diri, lebih baik urungkan niatmu, mundurlah jauh-jauh hari……
mumpung engkau sekalian belum bangkrut, belum merugi,
agar engkau sekalian tidak depresi!” (Depok, 11 Maret 09/00.34)

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Posted in Debu Pencinta on Februari 24, 2009 by masyon

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Entah, tiba2 aku begitu saja menuliskan kalimat itu di “status” FBku. Setelah kutulis, aku sendiri bingung. Apa maksudku? Kupikir sejenak kalimat itu. Kalimat sederhana itu aku maksudkan sbg spirit yang memotivasi diriku sendiri.

Aku memang harus mengejar apa yang kuinginkan, meraih cita-cita, merajut cinta dan persaudaraan, merenda masa depan, memungut kebajikan di mana pun berada, menggali sumur kearifan, menelusuri belantara kehidupan, menerjang badai tantangan, menghajar musuh2 yang menghadang, merobohkan tembok2 penghalang, mendaki tebing terjal keangkuhan, menuruni lembah keniscayaan, untuk meraih matahari. Matahari tak boleh hanya dipandang sebagai pembawa cahaya, tak bisa dilihat sebagai penerang saja. Matahari adalah sumber kehidupan yang harus kita genggam, kita telan, hingga kita menjadi dirinya. Menjadi penerang dunia, menjadi sumber kehidupan……

Matahari memang harus kuraih dengan senyum, semangat, cinta, optimisme, kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, hati, otak, dan keringat. Matahari akan melumat dan membakar habis siapa saja yang berusaha menggapainya dengan keculasan, kebimbangan, kemunafikan, kebohongan, kemalasan, ketidakjujuran, kepicikan, ketamakan, kedengkian, keraguan, ketidaksadaran.

“Ayooo, raihlah matahari, jadilah dirinya tanpa syarat, paling tidak buat dirimu sendiri!” begitu teriak sang jiwa tenang yang bersemayam. (11.55)

Selamat Pagi Indonesia

Posted in Cinta & Obsesi on Februari 5, 2009 by masyon

Pagi ini, sebuah SMS manis masuk ke HPku, “Selamat pagi Mas, selamat pagi Indonesia, selamat pagi semua. Selamat beraktivitas, smg Allah SWT selalu meridhoi apa yang kita lakukan. Amien YRB”

Sebelum membalas, aku sempet berpikir, “Tumben nih orang, bawa-bawa Indonesia segala? Apakah dia mengingatkan aku bahwa kita punya sesuatu bernama Indonesia? Atau sekadar iseng krn dia tiba2 teringat bahwa dia juga bagian yang bernama Indonesia?” Apa pun maksudnya, SMS itu ternyata memang mengingatkanku akan INDONESIA.

Dulu (abad 19), orang yang pertama kali menemukan kata “Indonesia” itu adalah Abel Tasman (penemu Tasmania, kepulauan di selatan Australia). Kemudian pada zaman Pergerakan Nasional (awal 1900an), nama itu disepakati oleh para founding fathers untuk menamai negara kepulauan kita sekarang ini. Sekaligus untuk menyebut diri sebagai bangsa yang besar, majemuk (heterogen) dalam segala hal, unik, sopan santun (konon), di wilayah bekas jajahan bangsa Kincir Angin alias Walanda di wilayah Asia Tenggara. Ini berarti sebuah konsensus, kesepakatan.

Maka, lahirlah ormas/orpol dg membawa nama “INDONESIA”, spt Indische Partij (Partai Indonesia), PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI, dan lainnya, bahkan dalam Sumpah Pemuda 28 Okt 1928, tiga keputusannya menyebutkan Indonesia, dan sejak itu pula ada lagu W.R. Supratman “Indonesia Raya” menjadi lagu kebangsaan….. Dan seterusnya hingga 17 Agustus 1945, “INDONESIA” menjadi “trade mark” kita, sebagai nama negara, bangsa, kebudayaan, semangat, hingga cita-cita bersama.

Ya, Indonesia yang indah dengan segala problematikanya sekarang ini adalah milik kita. Berarti kita memiliki INDONESIA. Namun, sayang sekali, karena kita merasa memiliki, kita sering melupakannya, mencampakkannya, mengoyaknya, mencibirnya, mencurinya. Banyak di antara kita yang korupsi karena, “toh Indonesia milik kita”. Ada yang menjarah hutan habis2an karena “hutan Indonesia adalah punya saya”. Tidak sedikit pula yang merampas, memeras, mencopet, mencuri milik orang Indonesia (yang lain) karena “toh sama2 Indonesia”. Bahkan, ada yang membela mati2an pemimpinnya yang keblinger karena mengindentikkannya sebagai “Pemimpin Indonesia”, sehinga swargo katut neroko nunut (ke surga terbawa, ke neraka ikut juga), hingga sangat fanatik “Right or wrong is my country!”. Intinya banyak yang tersesat, tidak jelas jutrungannya.

Selamat pagi Indonesia. Barangkali semakin indah jika mind set kita sedikit digeser, yakni “memiliki” digeser sekian derajat “menjadi”. Ini adalah istilah yang aku pinjam dari Erick Form. Kita “memiliki Indonesia” berarti kita “menguasai Indonesia”, dengan “menjadi” berarti kita “menjadi Indonesia”. Dengan “menjadi Indonesia”, kita akan semakin bijak dalam menata, mengelola, memanfaatkan, menumbuhkembangkan, mencintai, memaknai, menyanyangi, bahkan membenci sekalipun. Karena Indonesia adalah diri kita sendiri.

Selamat pagi Indonesiaku. Tersenyumlah menyambut pagi yang indah ini. Cumbulah kehidupan dengan birahi Indonesia. Setubuhilah bumi pertiwi dengan penis Indonesia. Orgasmelah bersama ejakulasi kedamain bernama Indonesia. Salam super sukses luar biasa! (09.59)

Maklum, Mohon Maklum, & Memaklumi

Posted in Uneg-uneg on Februari 3, 2009 by masyon

Istilah “maklum” termasuk istilah familiar di telinga kita. Dia sangat dekat dengan kita dalam keseharian. Dia sering menjadi modal dasar “kepengecutan” kita dalam segala hal. Dia pun tidak jarang menjadi kambing hitam atas keterlambatan, kesalahan, kesengajaan, kekurangan, kegilaan, bahkan kebakhilan dan kepicikan kita.

“Maklum, saya ngejar setoran,” alasan sopir angkot yang melanggar aturan.

“Maklumlah, kita ini kan orang timur,” begitu celetuk Fulan saat mengomentarai suatu keadaan.

“Harap maklum,” kata penutup surat yang sering salah kaprah.

“Mohon dimaklumi, saya kan hanya tamatan SMA,” bilang Wati yang kalah debat dengan temennya yang tamatan SMP.

“Maklum lah Ma, si Iyem itu kan hanya orang kampung,” jelas Tuan Majikan kepada Nyonya Majikan saat mengomentari kekurangan pembantunya.

Dalam KBBI, istilah “maklum” diartikan (v) paham, mengerti, tahu, dan (a) dapat dipahami. Memaklumi diartikan memahami, mengetahui. Mohon maklum di KBBI tidak ada, tapi bisa diartikan sebagai permohonan agar dipahami, dimengerti, atau diketahui……

Sayang sekali ya, sehari-hari sebagian besar dari kita ini hanya memakai yang “maklum” dan “mohon maklum”. Kita sangat enggan “memaklumi”. Akibatnya, jalanan sering macet nggak keruan, bahkan menimbulkan kecelakaan fatal; banjir dengan sampah bertebaran masuk ke rumah-rumah; gas elpiji sering jadi langka; tengah malam berisik gak “memaklumi” tetangga; perkelahian antarpelajar merajalela; guru menampar murid-muridnya; oknum artis foto-foto bugil; perceraian bertebaran akibat “mohon dimaklumi”; teror menjadi tradisi; bahkan perang menjadi alasan untuk berdamai.

Kultur dan psikis kita memang masih senang mengemis daripada memberi. Masih suka “memohon maklum” daripada “memaklumi”. Masih sering “menyesalkan” ketimbang “menyesali”. Padahal, jika setiap saat kita semua bersedia “memaklumi”, yakin seyakin-yakinnya, tidak akan ada lagi “maklum” dan “mohon maklum” yang membikin bumi memanas menyaingi matahari. Bumi menjadi damai. (09.46)

Ke manakah gerangan dia sekarang?

Posted in Uncategorized on Desember 16, 2008 by masyon

Pancasila

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluaruh rakyat Indonesia

Masih dasar negarakah dia? Ke mana dia sembunyi?

Dulu, pada rezim Orde Baru ditampilkan di langit dengan penuh kesakralan dengan makna absurd di balik ketiak penguasa…. Kini, disebut pun jarang, apa lagi diingat. Tragisnya Pancasilaku….

Menangislah Bung Karno dalam kuburmu

Merataplah Yamin dalam barzahmu

Menjeritlah Supomo dalam tidur panjangmu

Bersedihlah Prapanca, Tantular,

Basahi Sutasoma dengan air matamu….

Rendam Negarakertagama dengan rintihanmu

Kita?

Ayooooo teriak sekuat tenaga

Mari anarkhi!

Budayakan korupsi!

Sembahlah materi…….

:( :( :(

SEJARAH & KITA

Posted in Uneg-uneg on Desember 2, 2008 by masyon

“Historia vitae magistra”, sejarah adalah guru kehidupan. Begitu kata Cicero, filsuf Yunani Kuno. “Pengalaman adalah guru terbaik”, begitu kata orang-orang bijak. Bagaimana dengan sejarah Indonesia?

Barangkali kita termasuk bangsa yang kurang atau tidak memahami sejarah. Bahkan, mungkin tidak mau peduli dengan sejarah. Ketika sejarah diputar-balikkan, peran orang-orang berjasa (pahlawan sejati) diberangus, dan tokoh-tokoh munafik ditonjolkan sebagai pahlawan sebagai tokoh sentral sejarah selama bertahun-tahun, kita hanya diam, tak mampu berkata apa-apa, apa lagi berbuat. Namun, ketika sejarah yang sebenarnya ditulis, ketika kebenaran diungkapkan, kita menjadi kebakaran jenggot. Marah! Kita bereaksi hingga kebenaran sejarah menjadi kontroversial.

Sebagai sebuah peristiwa, sejarah adalah ein maleg, sekali terjadi. Namun, sebagai kisah, dia sering berulang dengan model dan bentuk yang mirip. Di sini, kita lah yang harus mengarifinya. Mampukah? Dulu, multipartai dianggap gagal, tetapi kini kita mengulanginya lagi atas nama demokrasi. Dulu, negara kita hancur akibat ulah petinggi yang pada korupsi, kini pun berulang kembali. Dulu, bangsa kita dijajah oleh bangsa asing, kini terulang kembali dalam bentuk dominasi ekonomi asing habis-habisan, kita tak pernah mau peduli.

Sejarah menjadi sekadar catatan buram yang harus kita tinggalkan karena “kesibukan” kita menyongsong masa depan? Tragis sekali kita ini. Bukankah sebagai masa lalu, sejarah adalah cermin yang paling bijaksana untuk berkaca dan menata masa depan kita?

Ya Azzawajalla, lindungi kami dari ketidak-benaran, ampuni kekeliruan kami, terangi hati kami dengan cahaya kebenaran-Mu. Jadikanlah sejarah kami sebagai pedoman bagi kami untuk menjadi makhluk paling bijak yang Engkau kehendaki. Amien.

Kerja

Posted in Uneg-uneg on November 18, 2008 by masyon

Apa yang kamu cari dengan bekerja? Apa yang dia dapatkan saat berkarya? Apa yang kita peroleh dengan cucuran peluh dan tegangnya otak?

“Aku cari uang untuk keluarga,” begitu kata beberapa teman.

“Aku sih cuma daripada nganggur, ” kata teman yang lain.

“Aku ingin melunasi utang-utangku,” tegas Fulan

“Aku pengen beli rumah dan mobil, ” alasan si Badu.

“Biar bisa dugem dan cari cewek,” kilah Bidu

“Cari kenalan dan jodoh, kalau udah dapet berhenti,” celetuk Sinta

“Buat beli lipstick dan peralatan make-up lainnya,” jelas Santi

Lalu?

Sejatinya apa yang berada di balik kata-kata, alasan, dan penjelasan tersebut ketika kita semua tidak pernah merasa sampai kepadanya? Ketika rumah dan mobil terbeli kita pun masih terus bekerja, saat lipstick  sudah tersedia toh kita tetap berangkat ke kantor, bahkan saat jodoh sudah di pelukan pun kita harus bangun pagi-pagi agar terhindar dari kemacetan saat berangkat kerja.

Begitulah romantika bekerja. Semakin kita keras mencapainya semakin tak terkejar apa yang ingin kita temukan. Bekerja telah menjadi nafsu, bahkan pada sampai titik terendah: kita korupsi. Entah sendiri, entah berjamaah!

Terus gimana dong?

Kalau aku salah ngomong bisa menjerumuskan. Kalau benar omonganku nanti disangka ngutip pendapat para ahli.

Ya sudah, aku coba mendefinisikan buat diriku sendiri, “Kerja adalah aktualisasi diri sambil berinvestasi, terutama investasi rohani menyongsong panggilan Illahi.”

Setuju? Ambil! Nggak setuju? Delete! Gitu aja kok repot ya Gus? :)

Pagi Ini Aku Menangis

Posted in Debu Pencinta on November 3, 2008 by masyon

Pukul 07.15, Senin, 3 November 2008, tidak seperti biasa (berangkat ke kantor agak siang), setelah mengantar sekolah Nino (anak lelakiku), aku langsung berangkat ke kantor.

Entah mengapa, begitu Nino turun dari Avanza inventaris kantorku, tiba-tiba air mata meleleh di pipiku. Aku menangis. Terbayang olehku bagaimana perjuangan para pendiri Republik ini yang ikhlas, rela, tanpa pamrih mengorbankan harta, darah, dan nyawanya untuk bangsa dan Tanah Air. Teringat perjuangan Bung Tomo dan semangat arek-arek Surabaya pada tahun 1945. Banyak hal tiba-tiba muncul di benakku. Tangisku pun semakin menjadi. Sambil nyetir, berkali-kali kuusap air mata dengan sapu tanganku.

Apakah ini karena “awal dari proses penyadaran” dalam diriku karena kegembiraan setelah kemarin sore mendapat kabar bahwa Bung Tomo akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional? Ataukah sebuah “penyimpangan psikologis” umur 40-an? Yang jelas, mendadak sontak aku merasa bahwa aku “bukan siapa-siapa” yang belum bisa “berbuat apa-apa” bagi negeri ini. Aku merasa sangat kecil. Kerdil.

Di tengah kemacetan perempatan Tanah Baru, Ciganjur, tangisku semakin menjadi. Padahal, aku sudah mengutuki diriku sendiri, “Kamu kok cengeng amat?” “Siapa sih kamu?” “Masa bodoh sajalah dengan situasi dan kondisi sekelilingmu!” “Urus saja keluargamu, nggak usah neko-neko.” Begitu aku mengomeli diriku sendiri. Namun, pada saat yang sama hatiku meratap, “Ya, Allah, ya Rabb, ampuni dosaku. Lindungi ruh para pejuang, terimalah jasa mereka yang telah berjuang untuk negeri ini, untuk kemanusiaan, untuk kesejahteraan bangsa tanpa pamrih.”

Ulang Tahun ke-83 Ibu Hj. Sulistina Sutomo

Posted in Cinta & Obsesi on Oktober 27, 2008 by masyon

Pada hari Sabtu, 25 Oktober 2008, Redaksi Visimedia diundang untuk menghadiri resepsi ulang tahun istri Bung Tomo, Ibu Hj. Sulistina Sutomo yang ke-83. Bagi Visimedia, undangan tersebut merupakan sebuah kehormatan yang tiada tara. Karena ultah sederhana yang dirayakan oleh putra-putri alm. Bung Tomo di Casablanca Mansion itu hanya dihadiri oleh keluarga besar dan kerabat dekat, serta beberapa wartawan dari radio dan televisi swasta.

Pada kesempatan itu, Visimedia menyerahkan hadiah ulang tahun berupa foto Ibu Tina saat masih muda. Foto hasil reproduksi berukuran 60 x 90 cm tersebut oleh Visimedia diberi kalimat ucapan “83 tahun Hj. Sulistina Sutomo, Selamat Ulang Tahun Pendamping Setia Sang Pejuang” dan di bagian bawahnya “ditempeli” tiga cover buku karya Bung Tomo dan Ibu Tina (Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo Menggugat, dan Bung Tomo Suamiku) yang pernah diterbitkan Visimedia. Keluarga besar Bung Tomo tampak gembira menerima hadiah yang menurut Visimedia masih kurang berharga dibandingkan dengan jasa-jasa Bung Tomo dan Ibu Tina terhadap bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Setelah penyerahan foto itu, Mas Bambang Sulistomo, putra kedua Bung Tomo mendaulat Visimedia untuk memberikan sepatah dua patah kata ucapan selamat, serta pesan dan kesan. “Selamat ulang tahun pendamping setia Sang Pejuang, semoga sisa usia yang dianugerahi-Nya semakin membawa kebahagiaan dan berkah bagi Ibu Tina beserta keluarga besar, dan bagi seluruh anak bangsa ini. Kami baru bisa membalas jasa-jasa Ibu Tina dan Bung Tomo dengan menerbitkan karya-karya, pengalaman pribadi beliau ketika berjuang. Semoga karya beliau berdua bisa bermanfaat bagi generasi muda demi kejayaan Indonesia. Amin.” Demikian “sambutan dadakanku”.

Acara ultah itu sendiri tampak lain dari yang lain. Di sana tidak terdengar ingar-bingar musik kontemporer, tetapi hanya organ tunggal yang mengiringi satu dua vokalis menyanyikan lagu-lagu perjuangan “tempo doeloe”, seperti Jembatan Merah, Surabaya, dan Hymne Pahlawan. Suasana ini seo-lah-olah membawa hadirin ke masa lalu, masa-masa awal Republik yang penuh semangat berjuang dan berkorban, sarat rasa cinta bangsa dan Tanah Air. Selamat ulang tahun. Semoga.

Pidato Bung Tomo Menjelang Pertempuran 10 November 1945

Posted in Tentang Pahlawan on Oktober 21, 2008 by masyon

Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!

Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.

Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.

Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,

didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana

Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.
Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.

Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia,
ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian

Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe

Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,
Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.

Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!