Pesta demokrasi coy……
Awali dengan demonstrasi coy….
Demonstrasi para capres menggumbar janji
Demonstrasi para caleg menebar mimpi…
Demonstrasi parpol uji nyali meski cekak rezeki
Demonstrasi bikin baliho, spanduk, backdrop, poster, banner, kaos, syal partai……
Tempel di sana-sini….
Bentangkan di tiang listrik, telepon, pepohonan yang merangas
Gak peduli trotoar makin gak nyaman, pepohonan merana, jembatan penyeberangan semrawut……
Masa bodoh dengan estetika….. yang penting bisa jadi model
minimal model bahan tertawaan rakyat…… Banggakah engkau?
Pemilu sebulan lagi……
Rasa acuh tak acuh, masa bodoh, bercampur dengan keinginan kami–rakyat kecil–mencoba mengingat lambang dan nomor urut partai
Sambil membayangkan mata yang penat menatap wajah dan (juga nomor urut) caleg yang hendak mewakili (padahal memaksakan diri menjadi wakil kami) di lembar-lembar suara nanti
Harap-harap cemas bercampur takut apa jadinya negeri nanti, bangsa ini kemudian hari…..
Capres, caleg, partai akankah benar2 menepati janji
adakah mereka ingin memperbaiki negeri, mengangkat derajat kami?
Aku bukan meramal, hanya memprediksi…….. satu dua minggu, dua tiga bulan setelah pemilu
akan ada banyak calon yang tak jadi….. stres dan depresi…..
RSJ pada akhirnya penuh penghuni……….
Suami istri akan banyak yang cerai berai!
Sahabatku semua, terutama sahabatku yang mencalonkan diri,
aku hanya berpesan:
“Kuatkan niat dan tekadmu jika memang itu panggilan nurani memperbaiki negeri….
Bangun optimismemu dengan ridho Illahi, bangkitkan semangatmu untuk kesejahteraan kami.
Namun, jika engkau hanya ingin cari rezeki, berniat memperkaya diri, lebih baik urungkan niatmu, mundurlah jauh-jauh hari……
mumpung engkau sekalian belum bangkrut, belum merugi,
agar engkau sekalian tidak depresi!” (Depok, 11 Maret 09/00.34)
