Arsip untuk Uneg-uneg kategori

HARKITNAS

Posted in Uneg-uneg on Mei 20, 2009 by masyon

<p>Dulu, zamannya kita sekolah, setiap memperingati Harkitnas 20 Mei (dan juga hari2 besar nasional lainnya), kita melaksanakan upacara bendera dengan hikmat… tak jarang malamnya ada renungan suci di TMP (taman makam pahlawan)….. Sering kali bulu kuduk kita merinding, bahkan air mata meleleh tanpa kita sadari saat mendengarkan alunan lagu “Mengheningkan Cipta”, “Gugur Bunga”, bahkan “Indonesia Raya”…. Kita pun sering diingatkan betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, para founding fathers dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan…. Apalagi saat itu kita diberi pelajaran PMP dan PSPB…. Lengkap sudah (sebenarnya) bekal kita menjadi anak bangsa.

Lalu, ketika kita dewasa…mata kita terbuka. Kita menyaksikan betapa berbedanya aneka teori di sekolah, di lapangan upacara, dengan kenyataan yang ada…. Kita terperangah melihat tingkah polah (oknum) pejabat, pemimpin, aparat pemerintah dari pusat sampai dusun terpencil yang sungguh memuakkan. Korupsi, manipulasi, memperkaya diri dengan jalan yang tak semestinya dari zaman dulu sampai sekarang masih saja terjadi… bahkan semakin menjadi-jadi. Kemerosotan moral tanpa henti, tiada terkendali! Kemiskinan pun tetap saja membumi di Bumi Pertiwi. Aaaahhhh……

Kini, seabad lebih setahun….. konon kita sudah bangkit… Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati, walau tanpa greget, tanpa nyali untuk memperbaiki negeri, mengangkat martabat sendiri…. Kita pun menjadi makhluk instan, pragmatis, dan egoistis…. buah dari hilangnya greget nasionalisme dan patriotisme dalam sanubari.

Masih pantaskah kita menyebut HARKITNAS sebagai hari kebangkitan nasional saat para pemimpin berebut kursi? Saat bayi harus mati tersiram kuah soto mi? Saat hedonisme kita tak bisa terhenti? Saat hukum masih diperdagangkan? Saat korupsi menjadi kebudayaan?

Namun, apa ya kalau HARKITNAS harus berganti definisi menjadi hari kesakitan nasional? Betapa mengenaskan! Betapa memilukan! Tidaaaaaaaakkkkkk…… Jangan menangis Indonesiaku! Sembuhlah negeriku! Sadarlah bangsaku! (11:03)

Panggung Sandiwara

Posted in Uneg-uneg on Mei 5, 2009 by masyon

Lagu yang dipopulerkan Achmad Albar tiba-tiba mengiang di telinga….. “Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah, kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani….. setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan….. . bla bla bla.”

Ya, dunia memang sandiwara dengan segala lakon dengan segala pemain. Aku jadi pemain, engkau juga. Dia menjadi aktor, mereka pun menjadi tokoh sentral sandiwara. Aku bisa menjadi penonton. Engkau bisa jadi pemirsa. Dia, mereka pun bisa menjadi penikmat. Komplet pokoknya.

Negeri Pancasila ini baru saja mementaskan sandiwara besar yang menjadi tontonan kita semua, PEMILIHAN UMUM atau pemilu. Pemilu ini tidak akan menjadi sandiwara yang menarik jika tidak ada tokoh antagonis yang menguasai pentas. Tidak lagi bernyawa jika tidak ada Durna dan Sengkuni. Hambar jika tidak ada tokoh tertindas yang pantas dikasihani. Sandiwara itu juga tidak akan lucu jika tidak ada badut, pelawak, Cangik. Limbuk, dan para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Jika tanpa tokoh-tokoh itu…….pemilu akan seperti pada masa Orde Baru, biasa-biasa saja ketika dipentaskan dan sesudahnya.

Pemilu yang baru lalu ternyata bukan hanya sandiwara satu babak. Dia bisa mdenjadi dua babak, trilogi, kwartet, dan seterusnya dengan centang-perenang tokoh dan peristiwa. Dengan ragam cerita berliku. Dari bentuk kekecewaan ketidakpuasan menuju sebuah koalisi besar, dari bentuk pertahanan diri hingga saling serang. Dari stres hingga tawar-menawar capres/cawapres. Semuanya enak ditonton. Semua layak dinikmati… …. tetap saja belum berakhir.

Masih harus ada lagi episode baru, babak lanjutan. Kali ini babak Antasari Azhar……. Dan kita kembali menjadi penonton, penikmat sandiwara itu….. Bagaimana endingnya? Bisakah kita memprediksi seperti menebak ending sinetron di TV? Sebagai penonton, tentu saja ada di antara kita yang hanya merasa “biasa-biasa saja”, ada yang penasaran, ada yang cemas gundah gulana, dan ada yang ketakutan tiada tara. Ada pula yang mencoba membelokkan dan memparodikan cerita. Dan, semuanya menambah gairah pertunjukan sandiwara itu……..

Sandiwara belum akan berakhir. Kita masih bisa menonton. Masih bisa pula ikut casting dan lolos membintanginya. …. AYO lanjutkan sandiwara kita dengan peran masing2….. . aaaaahhh…. . ngantuk, padahal kerjaan numpuk! (13.43)

Apa?

Posted in Uneg-uneg on April 20, 2009 by masyon

Apa yang kita cari hingga kita berlari tanpa henti?
Apa yang kita tunggu hingga kita harus termangu?
Apa yang kita harapkan sampai kita tak pernah berhenti berharap?
Apa yang kita tuju hingga kita terus berusaha maju?
Apa yang ingin kita impikan hingga kita tertidur lelap?

Aneka tanda tanya itu mendera kita setiap saat
dan kita tak juga mampu menjawabnya
namun, saat jawaban tepat datang
kita selalu terlambat, kita pun menjadi bodoh
kita sudah layu……. kita bukan apa-apa
kita bukan siapa-siapa ternyata….

Kita hanyalah makhluk serba gundah
kita sekadar makhluk kumpulan tanda tanya
tak lebih
sebab ketika kita sudah tak gundah lagi
saat kita bisa memberi makna pada tanda tanya itu
kita (lagi-lagi) terlambat. MATI!

Adakah yang kau tahu, yang lebih dari itu sahabatku?

(DEPOK, Hari Kartini 09, pk 01:30)

Maklum, Mohon Maklum, & Memaklumi

Posted in Uneg-uneg on Februari 3, 2009 by masyon

Istilah “maklum” termasuk istilah familiar di telinga kita. Dia sangat dekat dengan kita dalam keseharian. Dia sering menjadi modal dasar “kepengecutan” kita dalam segala hal. Dia pun tidak jarang menjadi kambing hitam atas keterlambatan, kesalahan, kesengajaan, kekurangan, kegilaan, bahkan kebakhilan dan kepicikan kita.

“Maklum, saya ngejar setoran,” alasan sopir angkot yang melanggar aturan.

“Maklumlah, kita ini kan orang timur,” begitu celetuk Fulan saat mengomentarai suatu keadaan.

“Harap maklum,” kata penutup surat yang sering salah kaprah.

“Mohon dimaklumi, saya kan hanya tamatan SMA,” bilang Wati yang kalah debat dengan temennya yang tamatan SMP.

“Maklum lah Ma, si Iyem itu kan hanya orang kampung,” jelas Tuan Majikan kepada Nyonya Majikan saat mengomentari kekurangan pembantunya.

Dalam KBBI, istilah “maklum” diartikan (v) paham, mengerti, tahu, dan (a) dapat dipahami. Memaklumi diartikan memahami, mengetahui. Mohon maklum di KBBI tidak ada, tapi bisa diartikan sebagai permohonan agar dipahami, dimengerti, atau diketahui……

Sayang sekali ya, sehari-hari sebagian besar dari kita ini hanya memakai yang “maklum” dan “mohon maklum”. Kita sangat enggan “memaklumi”. Akibatnya, jalanan sering macet nggak keruan, bahkan menimbulkan kecelakaan fatal; banjir dengan sampah bertebaran masuk ke rumah-rumah; gas elpiji sering jadi langka; tengah malam berisik gak “memaklumi” tetangga; perkelahian antarpelajar merajalela; guru menampar murid-muridnya; oknum artis foto-foto bugil; perceraian bertebaran akibat “mohon dimaklumi”; teror menjadi tradisi; bahkan perang menjadi alasan untuk berdamai.

Kultur dan psikis kita memang masih senang mengemis daripada memberi. Masih suka “memohon maklum” daripada “memaklumi”. Masih sering “menyesalkan” ketimbang “menyesali”. Padahal, jika setiap saat kita semua bersedia “memaklumi”, yakin seyakin-yakinnya, tidak akan ada lagi “maklum” dan “mohon maklum” yang membikin bumi memanas menyaingi matahari. Bumi menjadi damai. (09.46)

SEJARAH & KITA

Posted in Uneg-uneg on Desember 2, 2008 by masyon

“Historia vitae magistra”, sejarah adalah guru kehidupan. Begitu kata Cicero, filsuf Yunani Kuno. “Pengalaman adalah guru terbaik”, begitu kata orang-orang bijak. Bagaimana dengan sejarah Indonesia?

Barangkali kita termasuk bangsa yang kurang atau tidak memahami sejarah. Bahkan, mungkin tidak mau peduli dengan sejarah. Ketika sejarah diputar-balikkan, peran orang-orang berjasa (pahlawan sejati) diberangus, dan tokoh-tokoh munafik ditonjolkan sebagai pahlawan sebagai tokoh sentral sejarah selama bertahun-tahun, kita hanya diam, tak mampu berkata apa-apa, apa lagi berbuat. Namun, ketika sejarah yang sebenarnya ditulis, ketika kebenaran diungkapkan, kita menjadi kebakaran jenggot. Marah! Kita bereaksi hingga kebenaran sejarah menjadi kontroversial.

Sebagai sebuah peristiwa, sejarah adalah ein maleg, sekali terjadi. Namun, sebagai kisah, dia sering berulang dengan model dan bentuk yang mirip. Di sini, kita lah yang harus mengarifinya. Mampukah? Dulu, multipartai dianggap gagal, tetapi kini kita mengulanginya lagi atas nama demokrasi. Dulu, negara kita hancur akibat ulah petinggi yang pada korupsi, kini pun berulang kembali. Dulu, bangsa kita dijajah oleh bangsa asing, kini terulang kembali dalam bentuk dominasi ekonomi asing habis-habisan, kita tak pernah mau peduli.

Sejarah menjadi sekadar catatan buram yang harus kita tinggalkan karena “kesibukan” kita menyongsong masa depan? Tragis sekali kita ini. Bukankah sebagai masa lalu, sejarah adalah cermin yang paling bijaksana untuk berkaca dan menata masa depan kita?

Ya Azzawajalla, lindungi kami dari ketidak-benaran, ampuni kekeliruan kami, terangi hati kami dengan cahaya kebenaran-Mu. Jadikanlah sejarah kami sebagai pedoman bagi kami untuk menjadi makhluk paling bijak yang Engkau kehendaki. Amien.

Kerja

Posted in Uneg-uneg on November 18, 2008 by masyon

Apa yang kamu cari dengan bekerja? Apa yang dia dapatkan saat berkarya? Apa yang kita peroleh dengan cucuran peluh dan tegangnya otak?

“Aku cari uang untuk keluarga,” begitu kata beberapa teman.

“Aku sih cuma daripada nganggur, ” kata teman yang lain.

“Aku ingin melunasi utang-utangku,” tegas Fulan

“Aku pengen beli rumah dan mobil, ” alasan si Badu.

“Biar bisa dugem dan cari cewek,” kilah Bidu

“Cari kenalan dan jodoh, kalau udah dapet berhenti,” celetuk Sinta

“Buat beli lipstick dan peralatan make-up lainnya,” jelas Santi

Lalu?

Sejatinya apa yang berada di balik kata-kata, alasan, dan penjelasan tersebut ketika kita semua tidak pernah merasa sampai kepadanya? Ketika rumah dan mobil terbeli kita pun masih terus bekerja, saat lipstickĀ  sudah tersedia toh kita tetap berangkat ke kantor, bahkan saat jodoh sudah di pelukan pun kita harus bangun pagi-pagi agar terhindar dari kemacetan saat berangkat kerja.

Begitulah romantika bekerja. Semakin kita keras mencapainya semakin tak terkejar apa yang ingin kita temukan. Bekerja telah menjadi nafsu, bahkan pada sampai titik terendah: kita korupsi. Entah sendiri, entah berjamaah!

Terus gimana dong?

Kalau aku salah ngomong bisa menjerumuskan. Kalau benar omonganku nanti disangka ngutip pendapat para ahli.

Ya sudah, aku coba mendefinisikan buat diriku sendiri, “Kerja adalah aktualisasi diri sambil berinvestasi, terutama investasi rohani menyongsong panggilan Illahi.”

Setuju? Ambil! Nggak setuju? Delete! Gitu aja kok repot ya Gus? :)

TragiKomedi Inu Kencana

Posted in Uneg-uneg on Juli 25, 2008 by masyon

Setengah jam yang lalu, aku menelpon Inu Kencana, dosen IPDN yang terkenal vokal itu loh. Tujuanku ingin menyampaikan keprihatinan atas pemecatannya dari IPDN. Sahabat, guru kehidupan, sekaligus salah seorang idolaku itu menyambut dengan gembiranya. Dari seberang, kudengar dia berkata dengan lantang, “Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarokatuh? Saya sekarang sudah dipecat dari IPDN.”

Kemudian, dengan seksama kudengarkan pernyataannya bahwa dia sekarang muter-muter memberi ceramah, minggu ini di Riau. Bahkan, menurutnya dia juga dicalonkan menjadi bakal calon gubernur dan walikota sekaligus. Lalu, kami membahas soal buku. Dia menawarkan buku DEPDAGRI UNDERCOVER untuk diterbitkan, karena setelah ditawarkan ke salah satu penerbit, penerbit tersebut “tidak berani”. Aku candai dia, “Jangan pakai judul itu Pak. Lebih baik pakai judul Akhirnya Inu Kencana Dipecat.” Dan dia pun setuju dengan judul cemerlang itu, meski aku sendiri bimbang. Mungkin nggak buku itu aku terbitkan?

Barangkali, buku itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua –bahwa seperti kata Rendra–keberanian menjadi cakrawala. Ya, keberanian Inu Kencana Syafii juga menjadi cakrawala, tetapi cakrawala pembatas yang kasat mata antara tragedi dan komedi, antara balada dan dagelan. Tragikomedi. Satu episode sandiwara yang tengah dipentaskan di Bumi Indonesia tercinta, di antara ribuan sandiwara sejenis, dari yang tingkat tinggi kelas Senayan hingga kelas sandal jepit, maling ayam.

Jakarta, 25 Juli 08, pk. 15.37

SONTOLOYO

Posted in Uneg-uneg on Juli 19, 2008 by masyon
Kata “sontoloyo” belakangan populer. Lucunya yang memopulerkannya bukan orang Jawa, tapi orang Batak. Adalah Syamsir Siregar, Kepala BIN yang gerah melihat ada menteri, anggota dewan, dan orang-orang parpol yang tidak konsisten dan memahami masalah kenaikan harga BBM. Kata itu kemudian menjadi populer setelah ucapan Kepala BIN dilansir media cetak dan elektronik.
Maka, ketika kasus korupsi di DPR semakin terkuak dan menjadi perhatian publik, Ketua DPR Agung Laksono pun segera berkata bahwa “anak buahnya sontoloyo”. Jadi, kata itu pun tambah ngepop saja. Makanan apa sih sontoloyo itu? Kata “sontoloyo” berasal dari bahasa Jawa yang dalam KBBI diartikan dengan konyol, tidak beres, bodoh. Kata ini lebih sering digunakan orang untuk memaki orang lain. Pertanyaannya kemudian: Siapa sih sebenarnya orang Indonesia yang tidak sontoloyo? Aku? Jelas sontoloyo. Kamu? Sontoloyo juga. Dia, mereka? Ya sontoloyo.
Nggak percaya kalo kita semua sontoloyo? Buktikan sendiri. Coba deh tepat tengah malam kita merenung sejenak, 10, 20, 30 menit. Rasakan dan nikmati kesendirian, keheningan, kesunyian, dan keilahian. Pasti kita akan mendapati betapa sontoloyonya kita. Hidup sontoloyo!
Wednesday, 16 July, 2008 10:37 AM

Demokrasi, Pilkada, Uang

Posted in Uneg-uneg on Juli 19, 2008 by masyon
Setelah melewati tiga hari ( Sabtu, 5 Juli sd Senin, 7 Juli 2008 ) yang cukup melelahkan, mengisi acara (dari ngecuprus masalah penulisan di depan guru-guru, bedah buku Revolusi 45 sampai Kudeta 66 dan Menguak Rahasia Tulisan & Tanda Tangan, sampai ikut hadir di TAS FM) pada pameran buku super murah di Gedung Nasional Indonesia, Kediri, selesai sudah tugasku di sana. Pagi ini aku harus kembali ke Jakarta (kayak lagunya Koes Plus).
Dalam perjalanan dari Kediri menuju Surabaya tadi malam, sampai Jombang sekitar pukul 24.00, aku mendengarkan berita dari sebuah radio siaran daerah Jombang. Dalam berita itu, reporter radio tersebut menanyakan pesan dan harapan beberapa warga Jombang terhadap rencana pemilihan Bupati & Wakil Bupati Jombang.
Dari tiga orang warga yang suaranya diperdengarkan, dua orang ibu (profesinya pedagang) mengatakan senada, “Senang sekarang bisa memilih bupatinya secara langsung, tidak seperti zaman Orde Baru, harapannya semoga kepemimpinan baru membawa ke arah kemajuan, kebaikan, dan kesejahteraan. Namun, sebaiknya pada saat pencoblosan diberi sangu (ongkos) untuk menggantikan waktu dan tenaga yang tersita. Dalam pilkades saja diberi ongkos, masak sih pilbup tidak? Kan pilbub itu modalnya lebih besar dan dapatnya nanti juga lebih besar dibandingkan dengan pilkades?”
Masygul? No no. Heran? No no no. Masa bodoh? Oh tidak. Trus? Sedih? Mengapa harus bersedih? Wong saking bengongnya aku langsung ketiduran sampe kantor cabang di seputaran Tenggilis. Terbangun, masuk kamar, tidur lagi. Belum sampai 1/4 jam mimpi buruk menghampiriku. Tubuhku kejepit di sebuah pintu dan aku melihat mayat-mayat berserakan di dalam ruangan yang pengap. Sungguh, aku berteriak-teriak minta tolong hingga membangunkan beberapa orang teman yang tertidur pulas. “Mas, Mas, bangun. Kenapa? Mimpi buruk ya? Istighfar…., Mas”
Ciganjur, Tuesday, 8 July, 2008 1:33 PM
Dari Bandara Sukarno-Hatta langsung ke kantor dan nulis uneg-uneg ini di FS