<p>Dulu, zamannya kita sekolah, setiap memperingati Harkitnas 20 Mei (dan juga hari2 besar nasional lainnya), kita melaksanakan upacara bendera dengan hikmat… tak jarang malamnya ada renungan suci di TMP (taman makam pahlawan)….. Sering kali bulu kuduk kita merinding, bahkan air mata meleleh tanpa kita sadari saat mendengarkan alunan lagu “Mengheningkan Cipta”, “Gugur Bunga”, bahkan “Indonesia Raya”…. Kita pun sering diingatkan betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, para founding fathers dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan…. Apalagi saat itu kita diberi pelajaran PMP dan PSPB…. Lengkap sudah (sebenarnya) bekal kita menjadi anak bangsa.
Lalu, ketika kita dewasa…mata kita terbuka. Kita menyaksikan betapa berbedanya aneka teori di sekolah, di lapangan upacara, dengan kenyataan yang ada…. Kita terperangah melihat tingkah polah (oknum) pejabat, pemimpin, aparat pemerintah dari pusat sampai dusun terpencil yang sungguh memuakkan. Korupsi, manipulasi, memperkaya diri dengan jalan yang tak semestinya dari zaman dulu sampai sekarang masih saja terjadi… bahkan semakin menjadi-jadi. Kemerosotan moral tanpa henti, tiada terkendali! Kemiskinan pun tetap saja membumi di Bumi Pertiwi. Aaaahhhh……
Kini, seabad lebih setahun….. konon kita sudah bangkit… Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati, walau tanpa greget, tanpa nyali untuk memperbaiki negeri, mengangkat martabat sendiri…. Kita pun menjadi makhluk instan, pragmatis, dan egoistis…. buah dari hilangnya greget nasionalisme dan patriotisme dalam sanubari.
Masih pantaskah kita menyebut HARKITNAS sebagai hari kebangkitan nasional saat para pemimpin berebut kursi? Saat bayi harus mati tersiram kuah soto mi? Saat hedonisme kita tak bisa terhenti? Saat hukum masih diperdagangkan? Saat korupsi menjadi kebudayaan?
Namun, apa ya kalau HARKITNAS harus berganti definisi menjadi hari kesakitan nasional? Betapa mengenaskan! Betapa memilukan! Tidaaaaaaaakkkkkk…… Jangan menangis Indonesiaku! Sembuhlah negeriku! Sadarlah bangsaku! (11:03)
