Arsip untuk Debu Pencinta kategori

Jangan (Pernah) Merasa Lelah

Posted in Debu Pencinta on September 1, 2009 by masyon

Kadang-kadang badan kita merasa capai. Loyo. Letih. Tak jarang otak kita tumpul. Mandeg. Stagnan. Gak bisa mikir lagi. Pada saat-saat seperti inilah titik nadir kita sebagai manusia rasanya berada di puncak. Diam. Sepi. Dan bodoh. Saat seperti ini laksana jiwa telah mati sebelum mampu berbuat apa-apa.

Ya, memang keletihan badan, ketumpulan otak, dan kematian jiwa kerap melanda eksistensi kita sebagai manusia. Kita seolah-olah menjadi tidak berarti bagi siapa pun. Jangankan bagi orang lain, bagi diri sendiri saja kita gak ada artinya.  Menyedihkan bukan?

Namun, karena kita belum mati, kita mesti bangkit. Kita harus menghela napas. Menarik napas panjang dan dalam, menyimpannya di perut atau dada sebentar, kemudian mengembuskannya dengan pelan. Dengan disertai doa kepada Yang Kuasa, Insya Allah segala kelumpuhan itu akan menghilang. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru dan mengalir ke seluruh tubuh akan menggugah kesadaran kita kembali sebagai manusia.

Lalu? Lalu? Lalu kita harus bangkit. Jangan pernah merasa lelah. Allah, Tuhan kita memberikan bermiliar-miliar kenikmatan, fasilitas, kesenangan, ide, pikiran, energi, dan sebagainya harus kita manfaatkan kembali untuk kemaslahatan kita sebagai manusia. Bukan hanya sebagai manusia secara individual (pribadi), melainkan juga sebagai makhluk sosial (komunal) yang harus bergabung dengan manusia lain. Kita harus segera bangkit. Berpikir. Bekerja.

Teguran, kritik, saran, peringatan, atau warning entah dari mana asalnya (dari Tuhan, alam, atasan, bawahan, rakyat, tetangga, teman, suami, istri, anak, atau yang lain) dan bagaimana pun bentuk/wujudnya merupakan bahan refleski diri atas kekurangan, kebodohan, ketidakprofesionalan, bahkan kekufuran kita. Kita harus menerima, merenunginya. Kemudian mengambil sikap, berpikir, dan bertindak memperbaiki diri, memperbaharui keadaan. Senyum harus kembali tersungging. Semangat harus bangkit dan bergelora kembali.

Kesempatan bukan untuk ditinggalkan dan disia-siakan. Dia harus selalu diraih sebelum menghilang ditelan sang waktu yang tak mau kompromi.  Kekalahan bukan untuk ditangisi, tetapi harus menjadi cambuk untuk meraih kemenangan pada kemudian hari. Kegagalan bukan harus disesali sebagai tragedi, tetapi harus disikapi sebagai sebuah awal keberhasilan. Kesengsaraan dan ksedihan  bukan untuk dikhianati, tetapi harus dinikmati hingga dia bersedia berubah wujud  menjadi kebahagiaan sejati. Dan, semua ini bisa terjadi jika kita tidak pernah merasa lelah! Semuanya juga akan terwujud berkat campur tangan-Nya jika kita tidak merasa lelah berpikir dan berkarya. Dont worry be happy Yon! Insya Allah.

DEPOK, 2 September 2009 pk. 00.25 WIB

ULANG TAHUN

Posted in Debu Pencinta on Juni 15, 2009 by masyon

Waktu bergulir cepat. Uban bertambah. Umur bertambah, sekaligus jatahnya berkurang. Setiap tahun kita selalu berulang tahun. Di antara kita ada yg merayakan ulang tahun secara besar-besaran, mewah, meriah, bahkan di hotel berbintang atau pesta kebun di sebuah vila. Ada yang sekadar mengundang tetangga kiri-kanan, depan-belakang, dengan tumpeng sederhana. Sangat banyak pula yang tidak apa-apa alias tanpa apa pun karena toh hari-hari hari itu sama saja. Sama-sama 24 jam, sama2 mengurangi jatah umur. Ada pula yang berdiam tafakur, mensyukuri nikmat, mengingat dosa pada keheningan malam.

15 Juni 2009, tak terasa usiaku sudah 41 tahun. Aku ulang tahun. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tidak ada perayaan, tidak ada tumpengan. Alhamdulillah… puja dan puji syukur kepada Sang Kholik yang telah membuatku ada dan masih ada hingga tahun ke-41 ini. Sejak 14 Juni aku mengungkapkan perasaan dengan kata-kata sederhana: “Alhamdulillah…. Karena Engkau aku ada, karena Engkau pula aku masih ada.” Lalu, “Ingin tertidur lelap bersamanya, memeluknya… (orang-orang tercinta)” Kemudian, pada hari H aku mengatakan, “Nambah umur: TQ 2 Alloh SWT, kontemplasi, insipirasi, happy, kerja keras, semangat, dan terus mencintai! Siap bergumul kembali dengan si Happy Monday…”

Umurku telah bertambah, sekaligus jatahku mengirup udara di dunia berkurang! Entah kurang berapa? Hanya Dia yang Mahatahu. Dan, bagiku ulang tahun adalah kontemplasi, yakni mensyukuri nikmat, menghitung kembali dosa-dosa. Ulang tahun juga sebuah inspirasi atau sumber ide terhebat untuk berbuat pada kemudian hari. Ulang tahun berarti kebahagiaan, karena aku mendapatkan ucapan selamat dan doa dari istri, anak, saudara, sahabat yang tak lagi bisa kuhitung satu persatu. Ada yang secara langsung, ada yang melalui telepon, SMS, email, atau ekspresi lewat tag, luv, gift, komentar di FB, FS, Tagged, dan lain-lain. Ucapan selamat dan doa itu menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Ulang tahun bagiku juga sebuah teguran agar aku terus bekerja keras dalam menghadapi hidup, menghidupi diri sendiri dan keluarga. Kerja keras untuk aktualisasi diri di hadapan masyarakat, sekaligus kerja keras sebagai sebuah upaya ibadah kepada-Nya. Ulang tahun adalah semangat untuk terus berani menatap masa depan tanpa gamang: dengan pikiran, kata-kata, dan tindakanku. Ulang tahun adalah cinta, terus-menerus mencintai, karena tanpa cinta, baik dari-Nya maupun dari sesama… ulang tahun tidak ada apa-apanya. Tidak berarti. Karenanya dengan terus dan selalu mencintai, kita akan tetap ada. Sahabatku semua, terima kasih atas segala ucapan dan doa kalian. Semoga Alloh mengabulkan ucapan dan doa terbaik umat-Nya, sekaligus Dia membalas kebaikan kalian dengan berjuta kebaikan lagi…..

Montong, 15 Juni 2009 (16:58)

PEMILU SEBULAN LAGI

Posted in Debu Pencinta on Maret 10, 2009 by masyon

Pesta demokrasi coy……
Awali dengan demonstrasi coy….
Demonstrasi para capres menggumbar janji
Demonstrasi para caleg menebar mimpi…
Demonstrasi parpol uji nyali meski cekak rezeki
Demonstrasi bikin baliho, spanduk, backdrop, poster, banner, kaos, syal partai……
Tempel di sana-sini….
Bentangkan di tiang listrik, telepon, pepohonan yang merangas
Gak peduli trotoar makin gak nyaman, pepohonan merana, jembatan penyeberangan semrawut……
Masa bodoh dengan estetika….. yang penting bisa jadi model
minimal model bahan tertawaan rakyat…… Banggakah engkau?

Pemilu sebulan lagi……
Rasa acuh tak acuh, masa bodoh, bercampur dengan keinginan kami–rakyat kecil–mencoba mengingat lambang dan nomor urut partai
Sambil membayangkan mata yang penat menatap wajah dan (juga nomor urut) caleg yang hendak mewakili (padahal memaksakan diri menjadi wakil kami) di lembar-lembar suara nanti

Harap-harap cemas bercampur takut apa jadinya negeri nanti, bangsa ini kemudian hari…..
Capres, caleg, partai akankah benar2 menepati janji
adakah mereka ingin memperbaiki negeri, mengangkat derajat kami?

Aku bukan meramal, hanya memprediksi…….. satu dua minggu, dua tiga bulan setelah pemilu
akan ada banyak calon yang tak jadi….. stres dan depresi…..
RSJ pada akhirnya penuh penghuni……….
Suami istri akan banyak yang cerai berai!

Sahabatku semua, terutama sahabatku yang mencalonkan diri,
aku hanya berpesan:
“Kuatkan niat dan tekadmu jika memang itu panggilan nurani memperbaiki negeri….
Bangun optimismemu dengan ridho Illahi, bangkitkan semangatmu untuk kesejahteraan kami.
Namun, jika engkau hanya ingin cari rezeki, berniat memperkaya diri, lebih baik urungkan niatmu, mundurlah jauh-jauh hari……
mumpung engkau sekalian belum bangkrut, belum merugi,
agar engkau sekalian tidak depresi!” (Depok, 11 Maret 09/00.34)

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Posted in Debu Pencinta on Februari 24, 2009 by masyon

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Entah, tiba2 aku begitu saja menuliskan kalimat itu di “status” FBku. Setelah kutulis, aku sendiri bingung. Apa maksudku? Kupikir sejenak kalimat itu. Kalimat sederhana itu aku maksudkan sbg spirit yang memotivasi diriku sendiri.

Aku memang harus mengejar apa yang kuinginkan, meraih cita-cita, merajut cinta dan persaudaraan, merenda masa depan, memungut kebajikan di mana pun berada, menggali sumur kearifan, menelusuri belantara kehidupan, menerjang badai tantangan, menghajar musuh2 yang menghadang, merobohkan tembok2 penghalang, mendaki tebing terjal keangkuhan, menuruni lembah keniscayaan, untuk meraih matahari. Matahari tak boleh hanya dipandang sebagai pembawa cahaya, tak bisa dilihat sebagai penerang saja. Matahari adalah sumber kehidupan yang harus kita genggam, kita telan, hingga kita menjadi dirinya. Menjadi penerang dunia, menjadi sumber kehidupan……

Matahari memang harus kuraih dengan senyum, semangat, cinta, optimisme, kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, hati, otak, dan keringat. Matahari akan melumat dan membakar habis siapa saja yang berusaha menggapainya dengan keculasan, kebimbangan, kemunafikan, kebohongan, kemalasan, ketidakjujuran, kepicikan, ketamakan, kedengkian, keraguan, ketidaksadaran.

“Ayooo, raihlah matahari, jadilah dirinya tanpa syarat, paling tidak buat dirimu sendiri!” begitu teriak sang jiwa tenang yang bersemayam. (11.55)

Pagi Ini Aku Menangis

Posted in Debu Pencinta on November 3, 2008 by masyon

Pukul 07.15, Senin, 3 November 2008, tidak seperti biasa (berangkat ke kantor agak siang), setelah mengantar sekolah Nino (anak lelakiku), aku langsung berangkat ke kantor.

Entah mengapa, begitu Nino turun dari Avanza inventaris kantorku, tiba-tiba air mata meleleh di pipiku. Aku menangis. Terbayang olehku bagaimana perjuangan para pendiri Republik ini yang ikhlas, rela, tanpa pamrih mengorbankan harta, darah, dan nyawanya untuk bangsa dan Tanah Air. Teringat perjuangan Bung Tomo dan semangat arek-arek Surabaya pada tahun 1945. Banyak hal tiba-tiba muncul di benakku. Tangisku pun semakin menjadi. Sambil nyetir, berkali-kali kuusap air mata dengan sapu tanganku.

Apakah ini karena “awal dari proses penyadaran” dalam diriku karena kegembiraan setelah kemarin sore mendapat kabar bahwa Bung Tomo akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional? Ataukah sebuah “penyimpangan psikologis” umur 40-an? Yang jelas, mendadak sontak aku merasa bahwa aku “bukan siapa-siapa” yang belum bisa “berbuat apa-apa” bagi negeri ini. Aku merasa sangat kecil. Kerdil.

Di tengah kemacetan perempatan Tanah Baru, Ciganjur, tangisku semakin menjadi. Padahal, aku sudah mengutuki diriku sendiri, “Kamu kok cengeng amat?” “Siapa sih kamu?” “Masa bodoh sajalah dengan situasi dan kondisi sekelilingmu!” “Urus saja keluargamu, nggak usah neko-neko.” Begitu aku mengomeli diriku sendiri. Namun, pada saat yang sama hatiku meratap, “Ya, Allah, ya Rabb, ampuni dosaku. Lindungi ruh para pejuang, terimalah jasa mereka yang telah berjuang untuk negeri ini, untuk kemanusiaan, untuk kesejahteraan bangsa tanpa pamrih.”

Debu Pencinta

Posted in Debu Pencinta on Juli 18, 2008 by masyon

Permisi, kulanuwun, excuse me. Izinkan aku menulis ya Rabbku. Menulis apa saja yang bisa kutulis. Menulis untuk diriku sendiri. Bagiku menulis adalah hidup. Dan hidup berarti harus menghidupi.

Aku hanya satu di antara bermega-megatriliun hasil karya-Mu lainnya. Aku laksana debu. Namun, aku tidak ingin seperti debu yang hanya mengotori lubang hidung, debu jalanan, atau debu yang mengotori barang apa pun. Aku ingin menjadi debu yang bermanfaat, debu hidup yang menghidupi. Debu yang menulis untuk kehidupan.

Ya Rahman, ya Rahim. Izinkan aku menjadi debu pencinta. Pencinta kedamaian, kasih sayang, persaudaraan, keberagaman, perbedaan, kekompakan, ilmu, pengetahuan, pemikiran, pencinta jalan lurus. Pencita segala yang pantas dicinta. Mohon tidak Kau jadikan aku debu penista, pemaki, dan pembenci meski ada jalan yang berkelok.

Wahai Sang Pencipta, adrenalinku tersalurkan dengan menulis, tersurat atau tak tersurat. Aku ingin setiap saat menulis, baik dengan tangan maupun dengan hati. Dengan tangan akan kususun huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Dengan hati akan kurangkai hingga membentuk pagina-pagina kehidupan kini dan mendatang.

Perkenankan hatiku berpesan, “Sebagai pencinta, menulislah selagi bisa, menulislah jika itu kau anggap kewajiban. Sebab menulis bukan hobimu, menulis adalah jalan hidupmu.”