Kadang-kadang badan kita merasa capai. Loyo. Letih. Tak jarang otak kita tumpul. Mandeg. Stagnan. Gak bisa mikir lagi. Pada saat-saat seperti inilah titik nadir kita sebagai manusia rasanya berada di puncak. Diam. Sepi. Dan bodoh. Saat seperti ini laksana jiwa telah mati sebelum mampu berbuat apa-apa.
Ya, memang keletihan badan, ketumpulan otak, dan kematian jiwa kerap melanda eksistensi kita sebagai manusia. Kita seolah-olah menjadi tidak berarti bagi siapa pun. Jangankan bagi orang lain, bagi diri sendiri saja kita gak ada artinya. Menyedihkan bukan?
Namun, karena kita belum mati, kita mesti bangkit. Kita harus menghela napas. Menarik napas panjang dan dalam, menyimpannya di perut atau dada sebentar, kemudian mengembuskannya dengan pelan. Dengan disertai doa kepada Yang Kuasa, Insya Allah segala kelumpuhan itu akan menghilang. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru dan mengalir ke seluruh tubuh akan menggugah kesadaran kita kembali sebagai manusia.
Lalu? Lalu? Lalu kita harus bangkit. Jangan pernah merasa lelah. Allah, Tuhan kita memberikan bermiliar-miliar kenikmatan, fasilitas, kesenangan, ide, pikiran, energi, dan sebagainya harus kita manfaatkan kembali untuk kemaslahatan kita sebagai manusia. Bukan hanya sebagai manusia secara individual (pribadi), melainkan juga sebagai makhluk sosial (komunal) yang harus bergabung dengan manusia lain. Kita harus segera bangkit. Berpikir. Bekerja.
Teguran, kritik, saran, peringatan, atau warning entah dari mana asalnya (dari Tuhan, alam, atasan, bawahan, rakyat, tetangga, teman, suami, istri, anak, atau yang lain) dan bagaimana pun bentuk/wujudnya merupakan bahan refleski diri atas kekurangan, kebodohan, ketidakprofesionalan, bahkan kekufuran kita. Kita harus menerima, merenunginya. Kemudian mengambil sikap, berpikir, dan bertindak memperbaiki diri, memperbaharui keadaan. Senyum harus kembali tersungging. Semangat harus bangkit dan bergelora kembali.
Kesempatan bukan untuk ditinggalkan dan disia-siakan. Dia harus selalu diraih sebelum menghilang ditelan sang waktu yang tak mau kompromi. Kekalahan bukan untuk ditangisi, tetapi harus menjadi cambuk untuk meraih kemenangan pada kemudian hari. Kegagalan bukan harus disesali sebagai tragedi, tetapi harus disikapi sebagai sebuah awal keberhasilan. Kesengsaraan dan ksedihan bukan untuk dikhianati, tetapi harus dinikmati hingga dia bersedia berubah wujud menjadi kebahagiaan sejati. Dan, semua ini bisa terjadi jika kita tidak pernah merasa lelah! Semuanya juga akan terwujud berkat campur tangan-Nya jika kita tidak merasa lelah berpikir dan berkarya. Dont worry be happy Yon! Insya Allah.
DEPOK, 2 September 2009 pk. 00.25 WIB