Arsip untuk Cinta & Obsesi kategori

Idul Fitri Alias Lebaran

Posted in Cinta & Obsesi on September 18, 2009 by masyon

Tak terasa, Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H telah berada di ambang pintu. Di depan kita semua. Keheningan sekaligus kegaduhan seremonial puasa Ramadhan, tarawih, tadarus, membayar zakat segera usai. Lantas, geliat duniawi, hedonis — atas nama menyambut lebaran–  di pusat-pusat perbelanjaan mendominasi hati dan otak kita. Kemacetan lalu lintas pun mewarnai “perilaku kebudayaan” kita tersebut.

Masyarakat Indonesia (bukan hanya yang beragama Islam) memang sangat antusias menyambut kedatangan hari fitrah itu. Mudik sebagai sebuah tradisi kembali ke kampung halaman seolah menjadi keharusan kaum urban. Keharusan yang memang bukan basa-basi, karena sebagain besar orang yang mudik “berusaha” kembali ke akar, kembali ke asal, kembali ke jati diri. Meskipun ada juga yang sekadar daripada tidak mudik, tetap saja semangat 45 menuju kampung halaman mewarnai jiwa mereka.

Menarik ketika membaca iklan sebuah harian di Jawa Tengah dengan momentum Idul Fitri. Koran Jateng itu meng-otak-atik gathuk-kan LEBAR-LIBUR-LABUR-LUBER-LEBUR. Kata-kata itu aku pinjam di sini!

LEBAR (lebaran) dalam bahasa Jawa berarti selesai, yakni merupakan perwujudan rasa syukur setelah selesai menunaikan ibadah selama sebulan Ramadhan. Lebaran berarti berbagi dengan sesama. Berbagi maaf, berbagi rezeki, berbagi keceriaan, berbagi (rasa) cinta. Bukan berbagi kedengkian, iri hati, kemarahan dan hal-hal negatif lainnya.

LIBUR, karena hampir semua orang menghentikan aktivitas bisnis, politik, pemerintahan, dan lain-lain, kemudian menjadikannya waktu untuk berkumpul, bertemu sanak saudara, sahabat, dan handai taulan. Di sini, sekat-sekat jabatan, pangkat, golongan seolah hilang menjadi egaliter…. semua sederajat.

LABUR, saatnya kita semua berbenah. Membersihkan dan mempercantik rumah dan pekarangan. Mempercantik penampilan fisik, badan, pakaian untuk saling bersilaturahmi dengan sesama. Sekaligus “melabur” jiwa dengan siraman suci hingga noda2 kesalahan sebagai makhluk sosial habis tak berbekas.

LUBER, melimpah. Saat Idul Fitri, selayaknya rezeki semua orang melimpah. Yang bekerja mendapatkan tunjangan hari raya (THR), pengusaha/pedagang meraih keuntungan, dhuafa/fakir miskin memperoleh zakat dari orang-orang yang mampu dan kaya. Semuanya melimpah. Hati pun harus melimpahkan rasa kemanusian sedemikian rupa, sehingga semua merasakan kelimpahan rahmat-Nya.

LEBUR. Saatnya semua orang melebur dosa, salah, dan khilaf yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Semua saling memaafkan tanpa terkecuali. Semua kembali bersih. Suci tak bernoda.

LEBAR-LIBUR-LABUR-LUBER-LEBUR ini jika kita mau dan mampu melaksanakan, memaknai, dan mengambil segala kearifannya, tentu perintah “Dan berpuasalah kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” menjadi sebuah realitas yang manis. Kenyataan yang indah. Bukankah takwa itu bukan sebuah pelajaran teori tentang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, melainkan sebuah “perintah” yang harus diejawantahkan bahwa dengan berpuasa (dan ibadah lain selama sebulan Ramadhan) manusia haruslah meningkat nilai atau kualitas kemanusiaannya?

Ok fren. Aku telah memaafkanmu, maafkan aku. (Montong, 18 September 2009)

15 Tahun Bahtera

Posted in Cinta & Obsesi on Mei 24, 2009 by masyon

Waktu cepat berlalu. Rasanya, aku pakai seragam abu2 putih belum lama. Ternyata sudah 23 tahun yang lalu. Dan tahun ini Noni (14, si sulung) juga sudah harus berseragam abu2 putih……

Rasanya, baru kemarin kami pacaran dengan segudang duka-cita dan tetesan air mata. Seolah baru hari ini kami menikah dengan segala kesederhanaan dan (banyak) cibiran dari mereka yang tidak suka terhadap kebahagiaan kami. Namun, ternyata itu sudah 15 tahun lalu.

25 Mei 1994, tepat 15 tahun lalu kami berikrar di depan penghulu untuk saling mencitai hingga akhir zaman. Seperti baru saja terjadi. Apakah memang waktu cepat berlalu? Peribahasa Prancis mengatakan, “Cinta membuat waktu berlalu dan waktu membuat cinta berlalu.” Mungkin benar, cinta kami yang tak aus oleh panas, tak hilang oleh gelombang membuat waktu itu semakin cepat. Tapi, kami tak ingin waktu membuat cinta kami berlalu…..

Kami tetap saling memupuk rasa itu, meski aku kadang masih sedikit nakal dengan melirik kanan kiri. Meski aku (pernah) mendua hati, aku tetap tidak sanggup berpaling darinya….. Aku tetap menjaga dan memelihara cinta kami dan membiarkan waktu berlalu.

Ya Robb…. bahteraku sudah 15 tahun. Aku masih ingin menjadi nahkoda yang bijaksana di antara coba dan goda. Kami tetap akan menerjang gelombang, mengarungi ombak, melawan badai, serta menjaga kedua titipan-Mu, Noni dan Nino, dengan sepenuh hati, sekuat jiwa raga. Kami tetap akan berlayar menuju titah-Mu… sakinah mawadah warohmah. Karenanya, terangi jalan kami, kuatkan hati kami, tajamkan mata kami, dan jaga ruh kami. (Depok 00:30)

BUMIKU

Posted in Cinta & Obsesi on April 22, 2009 by masyon

Hari ini konon Hari Bumi:

Bumi, earth, world atau entah apa sebutan yang pas buat tempat yang kita diami dengan segala keserakahan dan kecurangan ini. Dia tampak begitu renta nestapa. Hutan beton memacang urat nadinya tanpa belas kasihan. Dengan alasan kesejahteraan penghuninya, perutnya dibor, dikeruk, disedot segala macam isinya. Dengan dalih pemenuhan kebutuhan, hutan-hutannya dibalak hampir tak tersisa, dan juga digantikan aneka perkebunan.

Bumiku….. Nasibnya semakin malang. Satu bikin hari khusus buat dirinya, jutaan lain merampas dan memporak-porandakannya. Satu pohon ditanam, sejuta pohon dibabat. Secuil areal direhabilitasi direboisasi, berjuta hektar lainnya dirusak dibantai. Seekor panda disayangi, dikarantina, dianak-pinakkan, seribu gajah dimusnahkan untuk diambil gadingnya. Satu kendaraan dirancang bebas polusi, lima juta lainnya diumbar di jalanan tebarkan bisa ke angkasa.

Andai kita mampu melihat air mata sang bumi? Jika kita bisa merasakan penderitaannya? Seandainya kita mau mendengar suara keluh kesahnya? Seumpama kita sanggup mendengar jeritannya? Apa yang akan kita perbuat? Akan tetap membutakan mata, menutup telinga? Akankah otak kita sanggup berpikir bagaimana memperbaikinya? Akankah tangan kita mampu berbuat untuk mengembalikan keindahannya? Atau dengan segala nafsu rendah kita akan tetap membabat, merusak, dan menghancurkannya atas anjuran berhala kemajuan?

Bumiku yang malang, bumiku yang semakin kerontang, bumiku yang kian keriput. Maafkan aku dan miliaran saudaraku yang hilang kepedulian terhadapmu. Tersenyumlah, berbahagialah engkau dengan saudara-saudaraku yang lain –yang jumlahnya sangat sedikit– yang masih punya rasa malu kepadamu, mereka yang menyayangimu dengan berjuta ekspresinya. (MONTONG, 12:59)

Selamat Pagi Indonesia

Posted in Cinta & Obsesi on Februari 5, 2009 by masyon

Pagi ini, sebuah SMS manis masuk ke HPku, “Selamat pagi Mas, selamat pagi Indonesia, selamat pagi semua. Selamat beraktivitas, smg Allah SWT selalu meridhoi apa yang kita lakukan. Amien YRB”

Sebelum membalas, aku sempet berpikir, “Tumben nih orang, bawa-bawa Indonesia segala? Apakah dia mengingatkan aku bahwa kita punya sesuatu bernama Indonesia? Atau sekadar iseng krn dia tiba2 teringat bahwa dia juga bagian yang bernama Indonesia?” Apa pun maksudnya, SMS itu ternyata memang mengingatkanku akan INDONESIA.

Dulu (abad 19), orang yang pertama kali menemukan kata “Indonesia” itu adalah Abel Tasman (penemu Tasmania, kepulauan di selatan Australia). Kemudian pada zaman Pergerakan Nasional (awal 1900an), nama itu disepakati oleh para founding fathers untuk menamai negara kepulauan kita sekarang ini. Sekaligus untuk menyebut diri sebagai bangsa yang besar, majemuk (heterogen) dalam segala hal, unik, sopan santun (konon), di wilayah bekas jajahan bangsa Kincir Angin alias Walanda di wilayah Asia Tenggara. Ini berarti sebuah konsensus, kesepakatan.

Maka, lahirlah ormas/orpol dg membawa nama “INDONESIA”, spt Indische Partij (Partai Indonesia), PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI, dan lainnya, bahkan dalam Sumpah Pemuda 28 Okt 1928, tiga keputusannya menyebutkan Indonesia, dan sejak itu pula ada lagu W.R. Supratman “Indonesia Raya” menjadi lagu kebangsaan….. Dan seterusnya hingga 17 Agustus 1945, “INDONESIA” menjadi “trade mark” kita, sebagai nama negara, bangsa, kebudayaan, semangat, hingga cita-cita bersama.

Ya, Indonesia yang indah dengan segala problematikanya sekarang ini adalah milik kita. Berarti kita memiliki INDONESIA. Namun, sayang sekali, karena kita merasa memiliki, kita sering melupakannya, mencampakkannya, mengoyaknya, mencibirnya, mencurinya. Banyak di antara kita yang korupsi karena, “toh Indonesia milik kita”. Ada yang menjarah hutan habis2an karena “hutan Indonesia adalah punya saya”. Tidak sedikit pula yang merampas, memeras, mencopet, mencuri milik orang Indonesia (yang lain) karena “toh sama2 Indonesia”. Bahkan, ada yang membela mati2an pemimpinnya yang keblinger karena mengindentikkannya sebagai “Pemimpin Indonesia”, sehinga swargo katut neroko nunut (ke surga terbawa, ke neraka ikut juga), hingga sangat fanatik “Right or wrong is my country!”. Intinya banyak yang tersesat, tidak jelas jutrungannya.

Selamat pagi Indonesia. Barangkali semakin indah jika mind set kita sedikit digeser, yakni “memiliki” digeser sekian derajat “menjadi”. Ini adalah istilah yang aku pinjam dari Erick Form. Kita “memiliki Indonesia” berarti kita “menguasai Indonesia”, dengan “menjadi” berarti kita “menjadi Indonesia”. Dengan “menjadi Indonesia”, kita akan semakin bijak dalam menata, mengelola, memanfaatkan, menumbuhkembangkan, mencintai, memaknai, menyanyangi, bahkan membenci sekalipun. Karena Indonesia adalah diri kita sendiri.

Selamat pagi Indonesiaku. Tersenyumlah menyambut pagi yang indah ini. Cumbulah kehidupan dengan birahi Indonesia. Setubuhilah bumi pertiwi dengan penis Indonesia. Orgasmelah bersama ejakulasi kedamain bernama Indonesia. Salam super sukses luar biasa! (09.59)

Ulang Tahun ke-83 Ibu Hj. Sulistina Sutomo

Posted in Cinta & Obsesi on Oktober 27, 2008 by masyon

Pada hari Sabtu, 25 Oktober 2008, Redaksi Visimedia diundang untuk menghadiri resepsi ulang tahun istri Bung Tomo, Ibu Hj. Sulistina Sutomo yang ke-83. Bagi Visimedia, undangan tersebut merupakan sebuah kehormatan yang tiada tara. Karena ultah sederhana yang dirayakan oleh putra-putri alm. Bung Tomo di Casablanca Mansion itu hanya dihadiri oleh keluarga besar dan kerabat dekat, serta beberapa wartawan dari radio dan televisi swasta.

Pada kesempatan itu, Visimedia menyerahkan hadiah ulang tahun berupa foto Ibu Tina saat masih muda. Foto hasil reproduksi berukuran 60 x 90 cm tersebut oleh Visimedia diberi kalimat ucapan “83 tahun Hj. Sulistina Sutomo, Selamat Ulang Tahun Pendamping Setia Sang Pejuang” dan di bagian bawahnya “ditempeli” tiga cover buku karya Bung Tomo dan Ibu Tina (Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo Menggugat, dan Bung Tomo Suamiku) yang pernah diterbitkan Visimedia. Keluarga besar Bung Tomo tampak gembira menerima hadiah yang menurut Visimedia masih kurang berharga dibandingkan dengan jasa-jasa Bung Tomo dan Ibu Tina terhadap bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Setelah penyerahan foto itu, Mas Bambang Sulistomo, putra kedua Bung Tomo mendaulat Visimedia untuk memberikan sepatah dua patah kata ucapan selamat, serta pesan dan kesan. “Selamat ulang tahun pendamping setia Sang Pejuang, semoga sisa usia yang dianugerahi-Nya semakin membawa kebahagiaan dan berkah bagi Ibu Tina beserta keluarga besar, dan bagi seluruh anak bangsa ini. Kami baru bisa membalas jasa-jasa Ibu Tina dan Bung Tomo dengan menerbitkan karya-karya, pengalaman pribadi beliau ketika berjuang. Semoga karya beliau berdua bisa bermanfaat bagi generasi muda demi kejayaan Indonesia. Amin.” Demikian “sambutan dadakanku”.

Acara ultah itu sendiri tampak lain dari yang lain. Di sana tidak terdengar ingar-bingar musik kontemporer, tetapi hanya organ tunggal yang mengiringi satu dua vokalis menyanyikan lagu-lagu perjuangan “tempo doeloe”, seperti Jembatan Merah, Surabaya, dan Hymne Pahlawan. Suasana ini seo-lah-olah membawa hadirin ke masa lalu, masa-masa awal Republik yang penuh semangat berjuang dan berkorban, sarat rasa cinta bangsa dan Tanah Air. Selamat ulang tahun. Semoga.

Indahnya Surau Kami (Sebuah Kisah dari Lereng Bukit)

Posted in Cinta & Obsesi on Juli 19, 2008 by masyon
Kami adalah sekumpulan manusia yang tinggal di sebuah desa terpencil. Desa kecil nun jauh dari pusat keramaian kota. Desa kami berada di lereng bukit hijau. dengan sungai mengalir 30-40 meter di bawahnya. Kami hidup penuh kedamaian, kasih sayang, dan kebersamaan. Meski, ada satu dua warga nonmuslim, penganut aliran kepercayaan, kami semua tidak pernah mempersoalkannya. Di antara kami pun ada yang lebih NU, ada pula yang agak Muhammadiyah, tak sedikit yang islam kejawen.
Beberapa bulan sebelumnya kami risau. Surau peninggalan nenek moyang kami sudah reyot, nyaris roboh. Kami risau karena kami semua termasuk penduduk yang “kurang berada”. Namun, kerisauan kami tidak berlangsung lama. Dengan semangat yang kami miliki, kami rembug desa dan segera beraksi. Di antara kami saling mendukung. Ada yang menyumbang uang, ada yang mengirimkan kayu, ada pula yang menyumbang makanan dan minuman saat pelaksanaan renovasi. Yang paling banyak menyumbang tenaga. Sama sekali kami tidak meminta sumbangan dari pihak luar. Apalagi “ngencleng” di pinggir jalan. Alhamdulillah.
Kami sangat bangga dengan keberadaan surau itu. Kami sangat bahagia ketika maghrib tiba sebagian besar dari kami bersama-sama melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Demikian pula ketika subuh dan isya tiba. Apalagi saat bulan Ramadhan, surau kami terasa megah dengan beragam ritual hablum minallah dan hablum minnannass. Kami sangat gembira menyaksikan anak-anak bisa beribadah dan belajar di sana. Maha Suci Allah, Tuhan yang mempercayai kami untuk membesarkan dan mendidik mereka.
Ya Allah, penguasa seluruh alam. Kami mohon pertahankan keutuhan, kedamaian, kebersamaan, dan kebahagiaan di antara kami. Kami panjatkan doa kepada-Mu, jagalah surau kami dengan sinar keagungan-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya, dari perpecahan, dari godaan nafsu rendah kami, serta dari godaan setan yang terkutuk. Jauhkanlah kami dari nafsu duniawi yang merugikan, dari iri dengki, menang sendiri, merasa superior, dan dari sifat-sifat asosial. Ya, Azza Wazzalla, hanya kepadamu kami berlindung, hanya kepada-Mu kami memohon. Semoga.
Ciganjur, 14 Juli 08 (dikutip dari catatan yang tersimpan dalam kenangan puluhan tahun)
Kutulis karena rasa cinta, keprihatinan, kegeraman, kegelisahan, ketidakpuasan, dan harapan karena belum adanya musholla di lingkungan tempat tinggalku.