SANG PENCINTA

Yon

Yon

Menurut Bapak dan Ibuku yang kemudian dilagalitaskan dalam akta kelahiran, aku dilahirkan di rumah kontrakan (Rumah Pak De Sikoes), di Pringkuku, pinggir jalan raya Pacitan-Solo, pada hari Sabtu Wage, 15 Juni 1968 (sudah tua ya?).

Sejak bayi aku sudah diajak pindah-pindah tempat tinggal. Ini karena Bapak dan Ibu sepasang guru SD yang harus nurut manut, sendika dhawuh oleh perintah atasan. Dari Kecamatan Pringkuku, kami pindah ke Desa Karangrejo, Kec. Arjosari pada tahun 1970, terus ke Desa Jatimalang di kecamatan yang sama tahun 1973. Tahun 1978 Bapak diangkat jadi rektor SD Inpres Karanggede 1, kami sekeluarga pun harus pindah ke Desa Karanggede yang jaraknya 10 km dari kota kecamatan Arjosari, 20 km dari Kota Pacitan. Jarak 10 km itu saat itu hanya bisa ditempuh dengan naik sepeda onthel atau jalan kaki. Maklum jalanannya naik turun dan berliku dengan lebar tak lebih dari 2 meter, dengan sebelah kiri bukit batu dan sebelah kanan sungai yang cukup dalam.

Tahun 1980 aku menamatkan sekolah dasar dan harus masuk SMP. Saat itu di Kabupaten Pacitan baru ada tiga SMP negeri, SMP 1, 2, dan 3. Syukurlah aku bisa masuk SMP 1 yang favorit (dan kini telah melahirkan seorang presiden RI bernama SBY). Jadi, aku harus hidup indekos. Mau tak mau, sejak umur 12 tahun aku harus jauh dari orangtua.

Singkatnya, setelah tamat SMPN 1 Pacitan (1983), aku masuk SMAN 271 Pacitan (sekarang SMAN 1) hingga tamat 1986. Setamat SMA bingung, sanggup apa tidak orang tuaku membiayai kuliahku. Alhamdulillah aku masuk penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) di Unpad Bandung Jurusan Sejarah (pilihan kedua) sampai tamat pada tahun 1993. Bandung dengan segala romantikanya telah menggemblengku menjadi manusia. Manusia dalam arti sebenarnya. Nakal, bejat, brengsek. Bandung mengajariku segalanya, mengajakku belajar dari kenakalan, kebejatan, dan kebrengsekan menjadi pencinta. Di sana pun kutemukan cinta pada diri anak mertua yang kini memberiku dua buah hati (Noni, 13 th dan Nino, 5 th).

Kini di sisa hidupku, aku dan keluarga tinggal di kota penyangga metropolititan di selatan Jakarta, Kota Depok. Sang Pencinta yang liar dan nakal ini harus memainkan dan melanjutkan sandiwara kehidupannya dengan terus “bermain huruf, kata, kalimat, paragraf, dan pagina”. Semuanya dengan segenap cinta. Entah sampai kapan.

3 Tanggapan ke “SANG PENCINTA”

  1. Mas.. aku erna yang di FS.. Piye kabare? Whalah Mas tyt isih tuwo aku, hiks..hiks…eh aku akhirnya nyusul ikut-ikut temen2 nyoba nulis di wordpress.. Mohon comment, saran dan kritiknya yha? ( ehm dengan kata lain kunjungi blogku yha? ) Thanks…

  2. Alhamdulillah… tidak banyak orang yang punya pengalaman seperti mas Yon. Bahkan anak jaman sekarang mana tahu sepeda onthel?

    Bandung memang unique, dari bejat bisa menjadi sang pecinta…

    Jangan pernah lelah menulis, sukses untuk mas Yon!

  3. TQ Mbak Endang (keke-tea) atas komentarnya…. aku blom lelah menuliskan uneg2, kata hati, pengalaman, dan banyak hal lagi. Hanya sang waktu dan kesempatan yang kadang-kadang susah diajak kompromi. Gitu deh…

Tinggalkan Balasan