Tempat Sampahku
Kalian tahu apa tempat sampah itu
Ya… tempat sampah,
Tempat membuang aneka sampah yang tersisa
tak terpakai, tak layak digunakan, tak bermanfaat
Tempat sampah identik dengan kotor dan bau
Betul begitu, bukan?
Tapi tidak bagiku.
Tempat sampahku terlalu anggun
teramat manis
Meski di sana-sini ada luka
goresan lama yang tak juga hilang
luka baru yang juga membekas
bahkan derita berkepanjangan
akibat kurang perhatian dan perawatan
Sudah dua tahun aku memiliki tempat sampah itu
Selama irtu, dia tetap kupergunakan untuk membuang
aneka sampah….. karena memang dia tempat sampah!
Sampahku menumpuk di sana
Dia tetap sabar dan tahan hingga luber, penuh
dan hilang ditelan waktu
Sampah kerinduan, sampah cinta, sampah kemunafikan
Banyak kutimbun di sana
Tak jarang sampah sisa kejujuran pun kulemparkan
Dua tahun pula kusayangi tempat sampah itu
Dengan caraku… bersama segenap cintaku
kucoba menambal luka2nya
kucoba membersihkan jahitan-jahitan luka barunya
kucoba melaburnya dengan warna-warna lain
karena aku mengharapkan harmoni tercipta
di sana
Ini bukan mengharapkan simpati darinya agar dia
tetap bersedia jadi tempat sampahku
Bukan itu… sama sekali bukan.
Karena aku pun terlalu tulus menjaganya
Merawatnya dengan cintaku agar dia tetap mewangi
di antara bau busuk dunia.
tentu sambil tetap kulempari sampah-sampah baru
tetap sampah yang sama
(sampah cinta, sampah kerinduan, sampah kemunafikan,
dan sampah sisa kejujuran)
Tempat sampahku terlalu anggun untuk disia-siakan
terlalu mulia untuk dihinakan
sungguh, aku bersumpah
tak rela jika ada tangan, hati, serta otak kotor dan kerdil
menyakitinya, menambah luka-luka di keliling temboknya
di relung dalam, hatinya!
aku bersumpah akan menjaganya hingga sang waktu
menghentikanku
Hingga Tuhan memutuskan melarangku membuang sampah
kepadanya
Hingga Dia meluluh-lantakkan cintaku kepadanya.
Karena dia tempat sampahku yang istimewa.
Dia yang selalu kurindukan dan kucinta!
Depok 12/09/10. (23.05)
Dan air mataku pun meleleh lagi….
September 12, 2010 pada 4:45 pm
cinta, sedih, bahagia, luka beraduk menjadi adonan yang mengharu-biru hatiku