Panggung Sandiwara
Lagu yang dipopulerkan Achmad Albar tiba-tiba mengiang di telinga….. “Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah, kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani….. setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan….. . bla bla bla.”
Ya, dunia memang sandiwara dengan segala lakon dengan segala pemain. Aku jadi pemain, engkau juga. Dia menjadi aktor, mereka pun menjadi tokoh sentral sandiwara. Aku bisa menjadi penonton. Engkau bisa jadi pemirsa. Dia, mereka pun bisa menjadi penikmat. Komplet pokoknya.
Negeri Pancasila ini baru saja mementaskan sandiwara besar yang menjadi tontonan kita semua, PEMILIHAN UMUM atau pemilu. Pemilu ini tidak akan menjadi sandiwara yang menarik jika tidak ada tokoh antagonis yang menguasai pentas. Tidak lagi bernyawa jika tidak ada Durna dan Sengkuni. Hambar jika tidak ada tokoh tertindas yang pantas dikasihani. Sandiwara itu juga tidak akan lucu jika tidak ada badut, pelawak, Cangik. Limbuk, dan para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Jika tanpa tokoh-tokoh itu…….pemilu akan seperti pada masa Orde Baru, biasa-biasa saja ketika dipentaskan dan sesudahnya.
Pemilu yang baru lalu ternyata bukan hanya sandiwara satu babak. Dia bisa mdenjadi dua babak, trilogi, kwartet, dan seterusnya dengan centang-perenang tokoh dan peristiwa. Dengan ragam cerita berliku. Dari bentuk kekecewaan ketidakpuasan menuju sebuah koalisi besar, dari bentuk pertahanan diri hingga saling serang. Dari stres hingga tawar-menawar capres/cawapres. Semuanya enak ditonton. Semua layak dinikmati… …. tetap saja belum berakhir.
Masih harus ada lagi episode baru, babak lanjutan. Kali ini babak Antasari Azhar……. Dan kita kembali menjadi penonton, penikmat sandiwara itu….. Bagaimana endingnya? Bisakah kita memprediksi seperti menebak ending sinetron di TV? Sebagai penonton, tentu saja ada di antara kita yang hanya merasa “biasa-biasa saja”, ada yang penasaran, ada yang cemas gundah gulana, dan ada yang ketakutan tiada tara. Ada pula yang mencoba membelokkan dan memparodikan cerita. Dan, semuanya menambah gairah pertunjukan sandiwara itu……..
Sandiwara belum akan berakhir. Kita masih bisa menonton. Masih bisa pula ikut casting dan lolos membintanginya. …. AYO lanjutkan sandiwara kita dengan peran masing2….. . aaaaahhh…. . ngantuk, padahal kerjaan numpuk! (13.43)
Mei 30, 2009 pada 6:46 am
CAPRES DAN CAWAPRES MULAI SALING SERANG
Hardikan, kecaman, hinaan mulai dilakukan para capres dan cawapres. Tim sukses pun tak mau ketinggalan, mulai melancarkan aksi balasan.
Mendengar kata demi kata aksi tersebut, hati serasa miris jadinya. mereka saling memburukkan, membingungkan saling serang mempertontonkan pola kampanye yang tidak sehat.
Sempitnya fikiran tim sukses pemenangan capres dan cawapres tentang strategi dan karakter calon yang diusung semakin terlihat jelas. Mereka tidak menjelaskan kepada publik apa visi dan misi capres dan cawapresnya. Yang terjadi saling serang, saling memburukkan, debat kusir. Semua yang dilakukan justru akan semakin memperparah keadaan.
Dalam mata khayal, terbayang bagaimana jika budaya saling menyerang ini berimbas ke tingkat bawah. Semua bisa menimbulkan gesekan antar simpatisan calon. Yang kalah akan terjajah, marah, sehingga menimbulkan tawuran antar pendukung.