Arsip untuk Mei, 2009

15 Tahun Bahtera

Posted in Cinta & Obsesi on Mei 24, 2009 by masyon

Waktu cepat berlalu. Rasanya, aku pakai seragam abu2 putih belum lama. Ternyata sudah 23 tahun yang lalu. Dan tahun ini Noni (14, si sulung) juga sudah harus berseragam abu2 putih……

Rasanya, baru kemarin kami pacaran dengan segudang duka-cita dan tetesan air mata. Seolah baru hari ini kami menikah dengan segala kesederhanaan dan (banyak) cibiran dari mereka yang tidak suka terhadap kebahagiaan kami. Namun, ternyata itu sudah 15 tahun lalu.

25 Mei 1994, tepat 15 tahun lalu kami berikrar di depan penghulu untuk saling mencitai hingga akhir zaman. Seperti baru saja terjadi. Apakah memang waktu cepat berlalu? Peribahasa Prancis mengatakan, “Cinta membuat waktu berlalu dan waktu membuat cinta berlalu.” Mungkin benar, cinta kami yang tak aus oleh panas, tak hilang oleh gelombang membuat waktu itu semakin cepat. Tapi, kami tak ingin waktu membuat cinta kami berlalu…..

Kami tetap saling memupuk rasa itu, meski aku kadang masih sedikit nakal dengan melirik kanan kiri. Meski aku (pernah) mendua hati, aku tetap tidak sanggup berpaling darinya….. Aku tetap menjaga dan memelihara cinta kami dan membiarkan waktu berlalu.

Ya Robb…. bahteraku sudah 15 tahun. Aku masih ingin menjadi nahkoda yang bijaksana di antara coba dan goda. Kami tetap akan menerjang gelombang, mengarungi ombak, melawan badai, serta menjaga kedua titipan-Mu, Noni dan Nino, dengan sepenuh hati, sekuat jiwa raga. Kami tetap akan berlayar menuju titah-Mu… sakinah mawadah warohmah. Karenanya, terangi jalan kami, kuatkan hati kami, tajamkan mata kami, dan jaga ruh kami. (Depok 00:30)

HARKITNAS

Posted in Uneg-uneg on Mei 20, 2009 by masyon

<p>Dulu, zamannya kita sekolah, setiap memperingati Harkitnas 20 Mei (dan juga hari2 besar nasional lainnya), kita melaksanakan upacara bendera dengan hikmat… tak jarang malamnya ada renungan suci di TMP (taman makam pahlawan)….. Sering kali bulu kuduk kita merinding, bahkan air mata meleleh tanpa kita sadari saat mendengarkan alunan lagu “Mengheningkan Cipta”, “Gugur Bunga”, bahkan “Indonesia Raya”…. Kita pun sering diingatkan betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, para founding fathers dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan…. Apalagi saat itu kita diberi pelajaran PMP dan PSPB…. Lengkap sudah (sebenarnya) bekal kita menjadi anak bangsa.

Lalu, ketika kita dewasa…mata kita terbuka. Kita menyaksikan betapa berbedanya aneka teori di sekolah, di lapangan upacara, dengan kenyataan yang ada…. Kita terperangah melihat tingkah polah (oknum) pejabat, pemimpin, aparat pemerintah dari pusat sampai dusun terpencil yang sungguh memuakkan. Korupsi, manipulasi, memperkaya diri dengan jalan yang tak semestinya dari zaman dulu sampai sekarang masih saja terjadi… bahkan semakin menjadi-jadi. Kemerosotan moral tanpa henti, tiada terkendali! Kemiskinan pun tetap saja membumi di Bumi Pertiwi. Aaaahhhh……

Kini, seabad lebih setahun….. konon kita sudah bangkit… Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati, walau tanpa greget, tanpa nyali untuk memperbaiki negeri, mengangkat martabat sendiri…. Kita pun menjadi makhluk instan, pragmatis, dan egoistis…. buah dari hilangnya greget nasionalisme dan patriotisme dalam sanubari.

Masih pantaskah kita menyebut HARKITNAS sebagai hari kebangkitan nasional saat para pemimpin berebut kursi? Saat bayi harus mati tersiram kuah soto mi? Saat hedonisme kita tak bisa terhenti? Saat hukum masih diperdagangkan? Saat korupsi menjadi kebudayaan?

Namun, apa ya kalau HARKITNAS harus berganti definisi menjadi hari kesakitan nasional? Betapa mengenaskan! Betapa memilukan! Tidaaaaaaaakkkkkk…… Jangan menangis Indonesiaku! Sembuhlah negeriku! Sadarlah bangsaku! (11:03)

Panggung Sandiwara

Posted in Uneg-uneg on Mei 5, 2009 by masyon

Lagu yang dipopulerkan Achmad Albar tiba-tiba mengiang di telinga….. “Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah, kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani….. setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan….. . bla bla bla.”

Ya, dunia memang sandiwara dengan segala lakon dengan segala pemain. Aku jadi pemain, engkau juga. Dia menjadi aktor, mereka pun menjadi tokoh sentral sandiwara. Aku bisa menjadi penonton. Engkau bisa jadi pemirsa. Dia, mereka pun bisa menjadi penikmat. Komplet pokoknya.

Negeri Pancasila ini baru saja mementaskan sandiwara besar yang menjadi tontonan kita semua, PEMILIHAN UMUM atau pemilu. Pemilu ini tidak akan menjadi sandiwara yang menarik jika tidak ada tokoh antagonis yang menguasai pentas. Tidak lagi bernyawa jika tidak ada Durna dan Sengkuni. Hambar jika tidak ada tokoh tertindas yang pantas dikasihani. Sandiwara itu juga tidak akan lucu jika tidak ada badut, pelawak, Cangik. Limbuk, dan para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Jika tanpa tokoh-tokoh itu…….pemilu akan seperti pada masa Orde Baru, biasa-biasa saja ketika dipentaskan dan sesudahnya.

Pemilu yang baru lalu ternyata bukan hanya sandiwara satu babak. Dia bisa mdenjadi dua babak, trilogi, kwartet, dan seterusnya dengan centang-perenang tokoh dan peristiwa. Dengan ragam cerita berliku. Dari bentuk kekecewaan ketidakpuasan menuju sebuah koalisi besar, dari bentuk pertahanan diri hingga saling serang. Dari stres hingga tawar-menawar capres/cawapres. Semuanya enak ditonton. Semua layak dinikmati… …. tetap saja belum berakhir.

Masih harus ada lagi episode baru, babak lanjutan. Kali ini babak Antasari Azhar……. Dan kita kembali menjadi penonton, penikmat sandiwara itu….. Bagaimana endingnya? Bisakah kita memprediksi seperti menebak ending sinetron di TV? Sebagai penonton, tentu saja ada di antara kita yang hanya merasa “biasa-biasa saja”, ada yang penasaran, ada yang cemas gundah gulana, dan ada yang ketakutan tiada tara. Ada pula yang mencoba membelokkan dan memparodikan cerita. Dan, semuanya menambah gairah pertunjukan sandiwara itu……..

Sandiwara belum akan berakhir. Kita masih bisa menonton. Masih bisa pula ikut casting dan lolos membintanginya. …. AYO lanjutkan sandiwara kita dengan peran masing2….. . aaaaahhh…. . ngantuk, padahal kerjaan numpuk! (13.43)