BUMIKU

Hari ini konon Hari Bumi:

Bumi, earth, world atau entah apa sebutan yang pas buat tempat yang kita diami dengan segala keserakahan dan kecurangan ini. Dia tampak begitu renta nestapa. Hutan beton memacang urat nadinya tanpa belas kasihan. Dengan alasan kesejahteraan penghuninya, perutnya dibor, dikeruk, disedot segala macam isinya. Dengan dalih pemenuhan kebutuhan, hutan-hutannya dibalak hampir tak tersisa, dan juga digantikan aneka perkebunan.

Bumiku….. Nasibnya semakin malang. Satu bikin hari khusus buat dirinya, jutaan lain merampas dan memporak-porandakannya. Satu pohon ditanam, sejuta pohon dibabat. Secuil areal direhabilitasi direboisasi, berjuta hektar lainnya dirusak dibantai. Seekor panda disayangi, dikarantina, dianak-pinakkan, seribu gajah dimusnahkan untuk diambil gadingnya. Satu kendaraan dirancang bebas polusi, lima juta lainnya diumbar di jalanan tebarkan bisa ke angkasa.

Andai kita mampu melihat air mata sang bumi? Jika kita bisa merasakan penderitaannya? Seandainya kita mau mendengar suara keluh kesahnya? Seumpama kita sanggup mendengar jeritannya? Apa yang akan kita perbuat? Akan tetap membutakan mata, menutup telinga? Akankah otak kita sanggup berpikir bagaimana memperbaikinya? Akankah tangan kita mampu berbuat untuk mengembalikan keindahannya? Atau dengan segala nafsu rendah kita akan tetap membabat, merusak, dan menghancurkannya atas anjuran berhala kemajuan?

Bumiku yang malang, bumiku yang semakin kerontang, bumiku yang kian keriput. Maafkan aku dan miliaran saudaraku yang hilang kepedulian terhadapmu. Tersenyumlah, berbahagialah engkau dengan saudara-saudaraku yang lain –yang jumlahnya sangat sedikit– yang masih punya rasa malu kepadamu, mereka yang menyayangimu dengan berjuta ekspresinya. (MONTONG, 12:59)

Tinggalkan Balasan