Arsip untuk April, 2009

BUMIKU

Posted in Cinta & Obsesi on April 22, 2009 by masyon

Hari ini konon Hari Bumi:

Bumi, earth, world atau entah apa sebutan yang pas buat tempat yang kita diami dengan segala keserakahan dan kecurangan ini. Dia tampak begitu renta nestapa. Hutan beton memacang urat nadinya tanpa belas kasihan. Dengan alasan kesejahteraan penghuninya, perutnya dibor, dikeruk, disedot segala macam isinya. Dengan dalih pemenuhan kebutuhan, hutan-hutannya dibalak hampir tak tersisa, dan juga digantikan aneka perkebunan.

Bumiku….. Nasibnya semakin malang. Satu bikin hari khusus buat dirinya, jutaan lain merampas dan memporak-porandakannya. Satu pohon ditanam, sejuta pohon dibabat. Secuil areal direhabilitasi direboisasi, berjuta hektar lainnya dirusak dibantai. Seekor panda disayangi, dikarantina, dianak-pinakkan, seribu gajah dimusnahkan untuk diambil gadingnya. Satu kendaraan dirancang bebas polusi, lima juta lainnya diumbar di jalanan tebarkan bisa ke angkasa.

Andai kita mampu melihat air mata sang bumi? Jika kita bisa merasakan penderitaannya? Seandainya kita mau mendengar suara keluh kesahnya? Seumpama kita sanggup mendengar jeritannya? Apa yang akan kita perbuat? Akan tetap membutakan mata, menutup telinga? Akankah otak kita sanggup berpikir bagaimana memperbaikinya? Akankah tangan kita mampu berbuat untuk mengembalikan keindahannya? Atau dengan segala nafsu rendah kita akan tetap membabat, merusak, dan menghancurkannya atas anjuran berhala kemajuan?

Bumiku yang malang, bumiku yang semakin kerontang, bumiku yang kian keriput. Maafkan aku dan miliaran saudaraku yang hilang kepedulian terhadapmu. Tersenyumlah, berbahagialah engkau dengan saudara-saudaraku yang lain –yang jumlahnya sangat sedikit– yang masih punya rasa malu kepadamu, mereka yang menyayangimu dengan berjuta ekspresinya. (MONTONG, 12:59)

Apa?

Posted in Uneg-uneg on April 20, 2009 by masyon

Apa yang kita cari hingga kita berlari tanpa henti?
Apa yang kita tunggu hingga kita harus termangu?
Apa yang kita harapkan sampai kita tak pernah berhenti berharap?
Apa yang kita tuju hingga kita terus berusaha maju?
Apa yang ingin kita impikan hingga kita tertidur lelap?

Aneka tanda tanya itu mendera kita setiap saat
dan kita tak juga mampu menjawabnya
namun, saat jawaban tepat datang
kita selalu terlambat, kita pun menjadi bodoh
kita sudah layu……. kita bukan apa-apa
kita bukan siapa-siapa ternyata….

Kita hanyalah makhluk serba gundah
kita sekadar makhluk kumpulan tanda tanya
tak lebih
sebab ketika kita sudah tak gundah lagi
saat kita bisa memberi makna pada tanda tanya itu
kita (lagi-lagi) terlambat. MATI!

Adakah yang kau tahu, yang lebih dari itu sahabatku?

(DEPOK, Hari Kartini 09, pk 01:30)