“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”
“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”
Entah, tiba2 aku begitu saja menuliskan kalimat itu di “status” FBku. Setelah kutulis, aku sendiri bingung. Apa maksudku? Kupikir sejenak kalimat itu. Kalimat sederhana itu aku maksudkan sbg spirit yang memotivasi diriku sendiri.
Aku memang harus mengejar apa yang kuinginkan, meraih cita-cita, merajut cinta dan persaudaraan, merenda masa depan, memungut kebajikan di mana pun berada, menggali sumur kearifan, menelusuri belantara kehidupan, menerjang badai tantangan, menghajar musuh2 yang menghadang, merobohkan tembok2 penghalang, mendaki tebing terjal keangkuhan, menuruni lembah keniscayaan, untuk meraih matahari. Matahari tak boleh hanya dipandang sebagai pembawa cahaya, tak bisa dilihat sebagai penerang saja. Matahari adalah sumber kehidupan yang harus kita genggam, kita telan, hingga kita menjadi dirinya. Menjadi penerang dunia, menjadi sumber kehidupan……
Matahari memang harus kuraih dengan senyum, semangat, cinta, optimisme, kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, hati, otak, dan keringat. Matahari akan melumat dan membakar habis siapa saja yang berusaha menggapainya dengan keculasan, kebimbangan, kemunafikan, kebohongan, kemalasan, ketidakjujuran, kepicikan, ketamakan, kedengkian, keraguan, ketidaksadaran.
“Ayooo, raihlah matahari, jadilah dirinya tanpa syarat, paling tidak buat dirimu sendiri!” begitu teriak sang jiwa tenang yang bersemayam. (11.55)