Pagi ini, sebuah SMS manis masuk ke HPku, “Selamat pagi Mas, selamat pagi Indonesia, selamat pagi semua. Selamat beraktivitas, smg Allah SWT selalu meridhoi apa yang kita lakukan. Amien YRB”
Sebelum membalas, aku sempet berpikir, “Tumben nih orang, bawa-bawa Indonesia segala? Apakah dia mengingatkan aku bahwa kita punya sesuatu bernama Indonesia? Atau sekadar iseng krn dia tiba2 teringat bahwa dia juga bagian yang bernama Indonesia?” Apa pun maksudnya, SMS itu ternyata memang mengingatkanku akan INDONESIA.
Dulu (abad 19), orang yang pertama kali menemukan kata “Indonesia” itu adalah Abel Tasman (penemu Tasmania, kepulauan di selatan Australia). Kemudian pada zaman Pergerakan Nasional (awal 1900an), nama itu disepakati oleh para founding fathers untuk menamai negara kepulauan kita sekarang ini. Sekaligus untuk menyebut diri sebagai bangsa yang besar, majemuk (heterogen) dalam segala hal, unik, sopan santun (konon), di wilayah bekas jajahan bangsa Kincir Angin alias Walanda di wilayah Asia Tenggara. Ini berarti sebuah konsensus, kesepakatan.
Maka, lahirlah ormas/orpol dg membawa nama “INDONESIA”, spt Indische Partij (Partai Indonesia), PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI, dan lainnya, bahkan dalam Sumpah Pemuda 28 Okt 1928, tiga keputusannya menyebutkan Indonesia, dan sejak itu pula ada lagu W.R. Supratman “Indonesia Raya” menjadi lagu kebangsaan….. Dan seterusnya hingga 17 Agustus 1945, “INDONESIA” menjadi “trade mark” kita, sebagai nama negara, bangsa, kebudayaan, semangat, hingga cita-cita bersama.
Ya, Indonesia yang indah dengan segala problematikanya sekarang ini adalah milik kita. Berarti kita memiliki INDONESIA. Namun, sayang sekali, karena kita merasa memiliki, kita sering melupakannya, mencampakkannya, mengoyaknya, mencibirnya, mencurinya. Banyak di antara kita yang korupsi karena, “toh Indonesia milik kita”. Ada yang menjarah hutan habis2an karena “hutan Indonesia adalah punya saya”. Tidak sedikit pula yang merampas, memeras, mencopet, mencuri milik orang Indonesia (yang lain) karena “toh sama2 Indonesia”. Bahkan, ada yang membela mati2an pemimpinnya yang keblinger karena mengindentikkannya sebagai “Pemimpin Indonesia”, sehinga swargo katut neroko nunut (ke surga terbawa, ke neraka ikut juga), hingga sangat fanatik “Right or wrong is my country!”. Intinya banyak yang tersesat, tidak jelas jutrungannya.
Selamat pagi Indonesia. Barangkali semakin indah jika mind set kita sedikit digeser, yakni “memiliki” digeser sekian derajat “menjadi”. Ini adalah istilah yang aku pinjam dari Erick Form. Kita “memiliki Indonesia” berarti kita “menguasai Indonesia”, dengan “menjadi” berarti kita “menjadi Indonesia”. Dengan “menjadi Indonesia”, kita akan semakin bijak dalam menata, mengelola, memanfaatkan, menumbuhkembangkan, mencintai, memaknai, menyanyangi, bahkan membenci sekalipun. Karena Indonesia adalah diri kita sendiri.
Selamat pagi Indonesiaku. Tersenyumlah menyambut pagi yang indah ini. Cumbulah kehidupan dengan birahi Indonesia. Setubuhilah bumi pertiwi dengan penis Indonesia. Orgasmelah bersama ejakulasi kedamain bernama Indonesia. Salam super sukses luar biasa! (09.59)