Arsip untuk Februari, 2009

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Posted in Debu Pencinta on Februari 24, 2009 by masyon

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Entah, tiba2 aku begitu saja menuliskan kalimat itu di “status” FBku. Setelah kutulis, aku sendiri bingung. Apa maksudku? Kupikir sejenak kalimat itu. Kalimat sederhana itu aku maksudkan sbg spirit yang memotivasi diriku sendiri.

Aku memang harus mengejar apa yang kuinginkan, meraih cita-cita, merajut cinta dan persaudaraan, merenda masa depan, memungut kebajikan di mana pun berada, menggali sumur kearifan, menelusuri belantara kehidupan, menerjang badai tantangan, menghajar musuh2 yang menghadang, merobohkan tembok2 penghalang, mendaki tebing terjal keangkuhan, menuruni lembah keniscayaan, untuk meraih matahari. Matahari tak boleh hanya dipandang sebagai pembawa cahaya, tak bisa dilihat sebagai penerang saja. Matahari adalah sumber kehidupan yang harus kita genggam, kita telan, hingga kita menjadi dirinya. Menjadi penerang dunia, menjadi sumber kehidupan……

Matahari memang harus kuraih dengan senyum, semangat, cinta, optimisme, kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, hati, otak, dan keringat. Matahari akan melumat dan membakar habis siapa saja yang berusaha menggapainya dengan keculasan, kebimbangan, kemunafikan, kebohongan, kemalasan, ketidakjujuran, kepicikan, ketamakan, kedengkian, keraguan, ketidaksadaran.

“Ayooo, raihlah matahari, jadilah dirinya tanpa syarat, paling tidak buat dirimu sendiri!” begitu teriak sang jiwa tenang yang bersemayam. (11.55)

Selamat Pagi Indonesia

Posted in Cinta & Obsesi on Februari 5, 2009 by masyon

Pagi ini, sebuah SMS manis masuk ke HPku, “Selamat pagi Mas, selamat pagi Indonesia, selamat pagi semua. Selamat beraktivitas, smg Allah SWT selalu meridhoi apa yang kita lakukan. Amien YRB”

Sebelum membalas, aku sempet berpikir, “Tumben nih orang, bawa-bawa Indonesia segala? Apakah dia mengingatkan aku bahwa kita punya sesuatu bernama Indonesia? Atau sekadar iseng krn dia tiba2 teringat bahwa dia juga bagian yang bernama Indonesia?” Apa pun maksudnya, SMS itu ternyata memang mengingatkanku akan INDONESIA.

Dulu (abad 19), orang yang pertama kali menemukan kata “Indonesia” itu adalah Abel Tasman (penemu Tasmania, kepulauan di selatan Australia). Kemudian pada zaman Pergerakan Nasional (awal 1900an), nama itu disepakati oleh para founding fathers untuk menamai negara kepulauan kita sekarang ini. Sekaligus untuk menyebut diri sebagai bangsa yang besar, majemuk (heterogen) dalam segala hal, unik, sopan santun (konon), di wilayah bekas jajahan bangsa Kincir Angin alias Walanda di wilayah Asia Tenggara. Ini berarti sebuah konsensus, kesepakatan.

Maka, lahirlah ormas/orpol dg membawa nama “INDONESIA”, spt Indische Partij (Partai Indonesia), PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI, dan lainnya, bahkan dalam Sumpah Pemuda 28 Okt 1928, tiga keputusannya menyebutkan Indonesia, dan sejak itu pula ada lagu W.R. Supratman “Indonesia Raya” menjadi lagu kebangsaan….. Dan seterusnya hingga 17 Agustus 1945, “INDONESIA” menjadi “trade mark” kita, sebagai nama negara, bangsa, kebudayaan, semangat, hingga cita-cita bersama.

Ya, Indonesia yang indah dengan segala problematikanya sekarang ini adalah milik kita. Berarti kita memiliki INDONESIA. Namun, sayang sekali, karena kita merasa memiliki, kita sering melupakannya, mencampakkannya, mengoyaknya, mencibirnya, mencurinya. Banyak di antara kita yang korupsi karena, “toh Indonesia milik kita”. Ada yang menjarah hutan habis2an karena “hutan Indonesia adalah punya saya”. Tidak sedikit pula yang merampas, memeras, mencopet, mencuri milik orang Indonesia (yang lain) karena “toh sama2 Indonesia”. Bahkan, ada yang membela mati2an pemimpinnya yang keblinger karena mengindentikkannya sebagai “Pemimpin Indonesia”, sehinga swargo katut neroko nunut (ke surga terbawa, ke neraka ikut juga), hingga sangat fanatik “Right or wrong is my country!”. Intinya banyak yang tersesat, tidak jelas jutrungannya.

Selamat pagi Indonesia. Barangkali semakin indah jika mind set kita sedikit digeser, yakni “memiliki” digeser sekian derajat “menjadi”. Ini adalah istilah yang aku pinjam dari Erick Form. Kita “memiliki Indonesia” berarti kita “menguasai Indonesia”, dengan “menjadi” berarti kita “menjadi Indonesia”. Dengan “menjadi Indonesia”, kita akan semakin bijak dalam menata, mengelola, memanfaatkan, menumbuhkembangkan, mencintai, memaknai, menyanyangi, bahkan membenci sekalipun. Karena Indonesia adalah diri kita sendiri.

Selamat pagi Indonesiaku. Tersenyumlah menyambut pagi yang indah ini. Cumbulah kehidupan dengan birahi Indonesia. Setubuhilah bumi pertiwi dengan penis Indonesia. Orgasmelah bersama ejakulasi kedamain bernama Indonesia. Salam super sukses luar biasa! (09.59)

Maklum, Mohon Maklum, & Memaklumi

Posted in Uneg-uneg on Februari 3, 2009 by masyon

Istilah “maklum” termasuk istilah familiar di telinga kita. Dia sangat dekat dengan kita dalam keseharian. Dia sering menjadi modal dasar “kepengecutan” kita dalam segala hal. Dia pun tidak jarang menjadi kambing hitam atas keterlambatan, kesalahan, kesengajaan, kekurangan, kegilaan, bahkan kebakhilan dan kepicikan kita.

“Maklum, saya ngejar setoran,” alasan sopir angkot yang melanggar aturan.

“Maklumlah, kita ini kan orang timur,” begitu celetuk Fulan saat mengomentarai suatu keadaan.

“Harap maklum,” kata penutup surat yang sering salah kaprah.

“Mohon dimaklumi, saya kan hanya tamatan SMA,” bilang Wati yang kalah debat dengan temennya yang tamatan SMP.

“Maklum lah Ma, si Iyem itu kan hanya orang kampung,” jelas Tuan Majikan kepada Nyonya Majikan saat mengomentari kekurangan pembantunya.

Dalam KBBI, istilah “maklum” diartikan (v) paham, mengerti, tahu, dan (a) dapat dipahami. Memaklumi diartikan memahami, mengetahui. Mohon maklum di KBBI tidak ada, tapi bisa diartikan sebagai permohonan agar dipahami, dimengerti, atau diketahui……

Sayang sekali ya, sehari-hari sebagian besar dari kita ini hanya memakai yang “maklum” dan “mohon maklum”. Kita sangat enggan “memaklumi”. Akibatnya, jalanan sering macet nggak keruan, bahkan menimbulkan kecelakaan fatal; banjir dengan sampah bertebaran masuk ke rumah-rumah; gas elpiji sering jadi langka; tengah malam berisik gak “memaklumi” tetangga; perkelahian antarpelajar merajalela; guru menampar murid-muridnya; oknum artis foto-foto bugil; perceraian bertebaran akibat “mohon dimaklumi”; teror menjadi tradisi; bahkan perang menjadi alasan untuk berdamai.

Kultur dan psikis kita memang masih senang mengemis daripada memberi. Masih suka “memohon maklum” daripada “memaklumi”. Masih sering “menyesalkan” ketimbang “menyesali”. Padahal, jika setiap saat kita semua bersedia “memaklumi”, yakin seyakin-yakinnya, tidak akan ada lagi “maklum” dan “mohon maklum” yang membikin bumi memanas menyaingi matahari. Bumi menjadi damai. (09.46)