Apa yang kamu cari dengan bekerja? Apa yang dia dapatkan saat berkarya? Apa yang kita peroleh dengan cucuran peluh dan tegangnya otak?
“Aku cari uang untuk keluarga,” begitu kata beberapa teman.
“Aku sih cuma daripada nganggur, ” kata teman yang lain.
“Aku ingin melunasi utang-utangku,” tegas Fulan
“Aku pengen beli rumah dan mobil, ” alasan si Badu.
“Biar bisa dugem dan cari cewek,” kilah Bidu
“Cari kenalan dan jodoh, kalau udah dapet berhenti,” celetuk Sinta
“Buat beli lipstick dan peralatan make-up lainnya,” jelas Santi
Lalu?
Sejatinya apa yang berada di balik kata-kata, alasan, dan penjelasan tersebut ketika kita semua tidak pernah merasa sampai kepadanya? Ketika rumah dan mobil terbeli kita pun masih terus bekerja, saat lipstickĀ sudah tersedia toh kita tetap berangkat ke kantor, bahkan saat jodoh sudah di pelukan pun kita harus bangun pagi-pagi agar terhindar dari kemacetan saat berangkat kerja.
Begitulah romantika bekerja. Semakin kita keras mencapainya semakin tak terkejar apa yang ingin kita temukan. Bekerja telah menjadi nafsu, bahkan pada sampai titik terendah: kita korupsi. Entah sendiri, entah berjamaah!
Terus gimana dong?
Kalau aku salah ngomong bisa menjerumuskan. Kalau benar omonganku nanti disangka ngutip pendapat para ahli.
Ya sudah, aku coba mendefinisikan buat diriku sendiri, “Kerja adalah aktualisasi diri sambil berinvestasi, terutama investasi rohani menyongsong panggilan Illahi.”
Setuju? Ambil! Nggak setuju? Delete! Gitu aja kok repot ya Gus?