Arsip untuk November, 2008

Kerja

Posted in Uneg-uneg on November 18, 2008 by masyon

Apa yang kamu cari dengan bekerja? Apa yang dia dapatkan saat berkarya? Apa yang kita peroleh dengan cucuran peluh dan tegangnya otak?

“Aku cari uang untuk keluarga,” begitu kata beberapa teman.

“Aku sih cuma daripada nganggur, ” kata teman yang lain.

“Aku ingin melunasi utang-utangku,” tegas Fulan

“Aku pengen beli rumah dan mobil, ” alasan si Badu.

“Biar bisa dugem dan cari cewek,” kilah Bidu

“Cari kenalan dan jodoh, kalau udah dapet berhenti,” celetuk Sinta

“Buat beli lipstick dan peralatan make-up lainnya,” jelas Santi

Lalu?

Sejatinya apa yang berada di balik kata-kata, alasan, dan penjelasan tersebut ketika kita semua tidak pernah merasa sampai kepadanya? Ketika rumah dan mobil terbeli kita pun masih terus bekerja, saat lipstickĀ  sudah tersedia toh kita tetap berangkat ke kantor, bahkan saat jodoh sudah di pelukan pun kita harus bangun pagi-pagi agar terhindar dari kemacetan saat berangkat kerja.

Begitulah romantika bekerja. Semakin kita keras mencapainya semakin tak terkejar apa yang ingin kita temukan. Bekerja telah menjadi nafsu, bahkan pada sampai titik terendah: kita korupsi. Entah sendiri, entah berjamaah!

Terus gimana dong?

Kalau aku salah ngomong bisa menjerumuskan. Kalau benar omonganku nanti disangka ngutip pendapat para ahli.

Ya sudah, aku coba mendefinisikan buat diriku sendiri, “Kerja adalah aktualisasi diri sambil berinvestasi, terutama investasi rohani menyongsong panggilan Illahi.”

Setuju? Ambil! Nggak setuju? Delete! Gitu aja kok repot ya Gus? :)

Pagi Ini Aku Menangis

Posted in Debu Pencinta on November 3, 2008 by masyon

Pukul 07.15, Senin, 3 November 2008, tidak seperti biasa (berangkat ke kantor agak siang), setelah mengantar sekolah Nino (anak lelakiku), aku langsung berangkat ke kantor.

Entah mengapa, begitu Nino turun dari Avanza inventaris kantorku, tiba-tiba air mata meleleh di pipiku. Aku menangis. Terbayang olehku bagaimana perjuangan para pendiri Republik ini yang ikhlas, rela, tanpa pamrih mengorbankan harta, darah, dan nyawanya untuk bangsa dan Tanah Air. Teringat perjuangan Bung Tomo dan semangat arek-arek Surabaya pada tahun 1945. Banyak hal tiba-tiba muncul di benakku. Tangisku pun semakin menjadi. Sambil nyetir, berkali-kali kuusap air mata dengan sapu tanganku.

Apakah ini karena “awal dari proses penyadaran” dalam diriku karena kegembiraan setelah kemarin sore mendapat kabar bahwa Bung Tomo akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional? Ataukah sebuah “penyimpangan psikologis” umur 40-an? Yang jelas, mendadak sontak aku merasa bahwa aku “bukan siapa-siapa” yang belum bisa “berbuat apa-apa” bagi negeri ini. Aku merasa sangat kecil. Kerdil.

Di tengah kemacetan perempatan Tanah Baru, Ciganjur, tangisku semakin menjadi. Padahal, aku sudah mengutuki diriku sendiri, “Kamu kok cengeng amat?” “Siapa sih kamu?” “Masa bodoh sajalah dengan situasi dan kondisi sekelilingmu!” “Urus saja keluargamu, nggak usah neko-neko.” Begitu aku mengomeli diriku sendiri. Namun, pada saat yang sama hatiku meratap, “Ya, Allah, ya Rabb, ampuni dosaku. Lindungi ruh para pejuang, terimalah jasa mereka yang telah berjuang untuk negeri ini, untuk kemanusiaan, untuk kesejahteraan bangsa tanpa pamrih.”