Arsip untuk Oktober, 2008

Ulang Tahun ke-83 Ibu Hj. Sulistina Sutomo

Posted in Cinta & Obsesi on Oktober 27, 2008 by masyon

Pada hari Sabtu, 25 Oktober 2008, Redaksi Visimedia diundang untuk menghadiri resepsi ulang tahun istri Bung Tomo, Ibu Hj. Sulistina Sutomo yang ke-83. Bagi Visimedia, undangan tersebut merupakan sebuah kehormatan yang tiada tara. Karena ultah sederhana yang dirayakan oleh putra-putri alm. Bung Tomo di Casablanca Mansion itu hanya dihadiri oleh keluarga besar dan kerabat dekat, serta beberapa wartawan dari radio dan televisi swasta.

Pada kesempatan itu, Visimedia menyerahkan hadiah ulang tahun berupa foto Ibu Tina saat masih muda. Foto hasil reproduksi berukuran 60 x 90 cm tersebut oleh Visimedia diberi kalimat ucapan “83 tahun Hj. Sulistina Sutomo, Selamat Ulang Tahun Pendamping Setia Sang Pejuang” dan di bagian bawahnya “ditempeli” tiga cover buku karya Bung Tomo dan Ibu Tina (Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo Menggugat, dan Bung Tomo Suamiku) yang pernah diterbitkan Visimedia. Keluarga besar Bung Tomo tampak gembira menerima hadiah yang menurut Visimedia masih kurang berharga dibandingkan dengan jasa-jasa Bung Tomo dan Ibu Tina terhadap bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Setelah penyerahan foto itu, Mas Bambang Sulistomo, putra kedua Bung Tomo mendaulat Visimedia untuk memberikan sepatah dua patah kata ucapan selamat, serta pesan dan kesan. “Selamat ulang tahun pendamping setia Sang Pejuang, semoga sisa usia yang dianugerahi-Nya semakin membawa kebahagiaan dan berkah bagi Ibu Tina beserta keluarga besar, dan bagi seluruh anak bangsa ini. Kami baru bisa membalas jasa-jasa Ibu Tina dan Bung Tomo dengan menerbitkan karya-karya, pengalaman pribadi beliau ketika berjuang. Semoga karya beliau berdua bisa bermanfaat bagi generasi muda demi kejayaan Indonesia. Amin.” Demikian “sambutan dadakanku”.

Acara ultah itu sendiri tampak lain dari yang lain. Di sana tidak terdengar ingar-bingar musik kontemporer, tetapi hanya organ tunggal yang mengiringi satu dua vokalis menyanyikan lagu-lagu perjuangan “tempo doeloe”, seperti Jembatan Merah, Surabaya, dan Hymne Pahlawan. Suasana ini seo-lah-olah membawa hadirin ke masa lalu, masa-masa awal Republik yang penuh semangat berjuang dan berkorban, sarat rasa cinta bangsa dan Tanah Air. Selamat ulang tahun. Semoga.

Pidato Bung Tomo Menjelang Pertempuran 10 November 1945

Posted in Tentang Pahlawan on Oktober 21, 2008 by masyon

Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!

Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.
Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.

Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.

Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,

didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana

Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.
Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.

Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia,
ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian

Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe

Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,
Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.

Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!