Mengapa Bung Tomo Harus Jadi Pahlawan Nasional?

Bung Karno bilang bahwa bangsa yang besar yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawan. Persoalannya, siapa yang pantas menjadi pahlawan? Kriteria apa yang melandasinya? Pengajuan dari keluarga? Pengakuan yang disertai syarat-syarat formal dari pemerintah? Pengakuan dari mayoritas anak bangsa? Atau objektivitas dan subjektivitas tertentu untuk kepentingan tertentu.

Bagaimana orang sekaliber Bung Tomo bisa tidak mendapatkan gelar pahlawan nasional? Dulu, pada tahun 1982-1983, DPRD Jawa Timur mengajukannya agar Bung Tomo diangkat menjadi pahlawan nasional, tetapi ditolak oleh Mensos Nani Soedarsono dengan alasan perjuangan Bung Tomo bersifat lokal (yang tentunya ini merupakan alasan politis karena Bung Tomo sangat berseberangan dengan Soeharto dengan rezim Orde Baru-nya). Apapun alasannya, sebenarnya sangat ironis, bahkan tragis, jika orang sekaliber Bung Tomo tidak diangkat menjadi pahlawan nasional, sedangkan banyak pahlawan ecek-ecek, bahkan pahlawan kesiangan yang dengan tiba-tiba dianugerahi gelar pahlawan nasional. Bahkan, begitu meninggal langsung dimakamkan di taman makam pahlawan.

Kemaarin aku dapat bocoran berita menggembirakan. Berita itu menyatakan bahwa berkas-berkas pengajuan agar Bung Tomo diangkat pahlawan nasional dari jajaran Pemda Jawa Timur, Dinas Sosial Jawa Timur, dan Kota Surabaya sudah masuk ke “pusat”. Alhamdulillah. Aku termasuk orang yang berbahagia dan bangga mendengar berita itu. Semoga orang “pusat” bisa mempertimbangkan dan memutuskan dengan nurani bahwa memang Bung Tomo layak diangkat menjadi pahlawan nasional.

Jika Bung Tomo mendapatkan pengakuan itu, berarti anak-anak bangsa, generasi muda tidak akan mengalami missing link, kehilangan garis sejarah yang sebenarnya. Anak-anak bangsa akan terbuka matanya akan sosok pahlawan sejati yang (mungkin tidak ada duanya di Republik ini) yang pada gilirannya mereka bisa memahami sejarah bangsanya secara utuh. Tidak sepotong-sepotong dengan kebohongan di sana-sini akibat kepentingan politis oknum-oknum tertentu.

Beberapa alasan yang bisa dijadikan pertimbangan agar Bung Tomo sesegera mungkin mendapatkan gelar terhormat itu.

  1. Tanpa mengurangi peran sejarah para pejuang lainnya, Pertempuran 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, tidak mungkin terjadi tanpa peran strategis Bung Tomo yang dengan semangatnya yang luar biasa menggelorakan semangat arek-arek Soerabaja untuk bertempur melawan Inggris yang diboncengi NICA, melalui Radio Pemberontakan yang dibentuknya bersama teman-temannya.
  2. Bung Tomo adalah salah satu pendiri TNI, Anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata seluruh Jawa dan Madura. Pada tanggal 05 Oktober 1947 dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia bersama Jenderal Soedirman, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Surjadarma, Laksamana Nazir, dan sebagainya dengan pangkat jenderal mayor TNI AD yang bertugas sebagai Koordinator AD, AL, dan AU di bidang informasi dan perlengkapan perang.
  3. Bung Tomo adalah pejuang yang selalu mengingat dan melaksanakan wejangan Jenderal Sudirman, bahwa sebagai prajurit jangan sampai tergoda harta, tahta, dan wanita yang bisa menghancurkan harga diri, bangsa, dan negara.
  4. Bung Tomo adalah pejuang yang konsisten membela kebenaran serta kepentingan bangsa dan negara. Ketika diminta PM Amir Syarifuddin untuk memilih apakah akan tetap menajdi jenderal atau agitator yang terus menggelorakan semangat rakyat dengan pidato-pidatonya, Bung Tomo memilih mundur dari jabatannya di TNI. Dia pun selalu mengkritisi sikap para pemimpin, tak terkecuali Bung Karno pada masa Orde Lama dan Soeharto pada masa Orde Baru. Hingga dia harus mendekam di Penjara Nirbaya pada akhir dekade 1970-an karena kritik-kritiknya yang pedas terhadap Soeharto.
  5. Bung Tomo adalah pahlawan sejati. Dia akan menitikkan air mata haru dan bangga ketika melihat Sang Saka Merah Putih dikibarkan. Dan dia pun akan segera mengangkat tangan dengan sikap menghormat sempurna setiap melewati taman makam pahlawan, di mana pun berada. Kebiasaan itu dia dia ajarkan, bahkan dia paksakan kepada anak-anaknya, terutama kepada anak lelaki satu-satunya, Bambang Sulistomo.

Masih ragukah kita dengan kepahlawanannya?

Tinggalkan Balasan