TragiKomedi Inu Kencana

Setengah jam yang lalu, aku menelpon Inu Kencana, dosen IPDN yang terkenal vokal itu loh. Tujuanku ingin menyampaikan keprihatinan atas pemecatannya dari IPDN. Sahabat, guru kehidupan, sekaligus salah seorang idolaku itu menyambut dengan gembiranya. Dari seberang, kudengar dia berkata dengan lantang, “Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarokatuh? Saya sekarang sudah dipecat dari IPDN.”

Kemudian, dengan seksama kudengarkan pernyataannya bahwa dia sekarang muter-muter memberi ceramah, minggu ini di Riau. Bahkan, menurutnya dia juga dicalonkan menjadi bakal calon gubernur dan walikota sekaligus. Lalu, kami membahas soal buku. Dia menawarkan buku DEPDAGRI UNDERCOVER untuk diterbitkan, karena setelah ditawarkan ke salah satu penerbit, penerbit tersebut “tidak berani”. Aku candai dia, “Jangan pakai judul itu Pak. Lebih baik pakai judul Akhirnya Inu Kencana Dipecat.” Dan dia pun setuju dengan judul cemerlang itu, meski aku sendiri bimbang. Mungkin nggak buku itu aku terbitkan?

Barangkali, buku itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua –bahwa seperti kata Rendra–keberanian menjadi cakrawala. Ya, keberanian Inu Kencana Syafii juga menjadi cakrawala, tetapi cakrawala pembatas yang kasat mata antara tragedi dan komedi, antara balada dan dagelan. Tragikomedi. Satu episode sandiwara yang tengah dipentaskan di Bumi Indonesia tercinta, di antara ribuan sandiwara sejenis, dari yang tingkat tinggi kelas Senayan hingga kelas sandal jepit, maling ayam.

Jakarta, 25 Juli 08, pk. 15.37

Tinggalkan Balasan