Indahnya Surau Kami (Sebuah Kisah dari Lereng Bukit)

Kami adalah sekumpulan manusia yang tinggal di sebuah desa terpencil. Desa kecil nun jauh dari pusat keramaian kota. Desa kami berada di lereng bukit hijau. dengan sungai mengalir 30-40 meter di bawahnya. Kami hidup penuh kedamaian, kasih sayang, dan kebersamaan. Meski, ada satu dua warga nonmuslim, penganut aliran kepercayaan, kami semua tidak pernah mempersoalkannya. Di antara kami pun ada yang lebih NU, ada pula yang agak Muhammadiyah, tak sedikit yang islam kejawen.
Beberapa bulan sebelumnya kami risau. Surau peninggalan nenek moyang kami sudah reyot, nyaris roboh. Kami risau karena kami semua termasuk penduduk yang “kurang berada”. Namun, kerisauan kami tidak berlangsung lama. Dengan semangat yang kami miliki, kami rembug desa dan segera beraksi. Di antara kami saling mendukung. Ada yang menyumbang uang, ada yang mengirimkan kayu, ada pula yang menyumbang makanan dan minuman saat pelaksanaan renovasi. Yang paling banyak menyumbang tenaga. Sama sekali kami tidak meminta sumbangan dari pihak luar. Apalagi “ngencleng” di pinggir jalan. Alhamdulillah.
Kami sangat bangga dengan keberadaan surau itu. Kami sangat bahagia ketika maghrib tiba sebagian besar dari kami bersama-sama melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Demikian pula ketika subuh dan isya tiba. Apalagi saat bulan Ramadhan, surau kami terasa megah dengan beragam ritual hablum minallah dan hablum minnannass. Kami sangat gembira menyaksikan anak-anak bisa beribadah dan belajar di sana. Maha Suci Allah, Tuhan yang mempercayai kami untuk membesarkan dan mendidik mereka.
Ya Allah, penguasa seluruh alam. Kami mohon pertahankan keutuhan, kedamaian, kebersamaan, dan kebahagiaan di antara kami. Kami panjatkan doa kepada-Mu, jagalah surau kami dengan sinar keagungan-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya, dari perpecahan, dari godaan nafsu rendah kami, serta dari godaan setan yang terkutuk. Jauhkanlah kami dari nafsu duniawi yang merugikan, dari iri dengki, menang sendiri, merasa superior, dan dari sifat-sifat asosial. Ya, Azza Wazzalla, hanya kepadamu kami berlindung, hanya kepada-Mu kami memohon. Semoga.
Ciganjur, 14 Juli 08 (dikutip dari catatan yang tersimpan dalam kenangan puluhan tahun)
Kutulis karena rasa cinta, keprihatinan, kegeraman, kegelisahan, ketidakpuasan, dan harapan karena belum adanya musholla di lingkungan tempat tinggalku.

Tinggalkan Balasan