Demokrasi, Pilkada, Uang
Setelah melewati tiga hari ( Sabtu, 5 Juli sd Senin, 7 Juli 2008 ) yang cukup melelahkan, mengisi acara (dari ngecuprus masalah penulisan di depan guru-guru, bedah buku Revolusi 45 sampai Kudeta 66 dan Menguak Rahasia Tulisan & Tanda Tangan, sampai ikut hadir di TAS FM) pada pameran buku super murah di Gedung Nasional Indonesia, Kediri, selesai sudah tugasku di sana. Pagi ini aku harus kembali ke Jakarta (kayak lagunya Koes Plus).
Dalam perjalanan dari Kediri menuju Surabaya tadi malam, sampai Jombang sekitar pukul 24.00, aku mendengarkan berita dari sebuah radio siaran daerah Jombang. Dalam berita itu, reporter radio tersebut menanyakan pesan dan harapan beberapa warga Jombang terhadap rencana pemilihan Bupati & Wakil Bupati Jombang.
Dari tiga orang warga yang suaranya diperdengarkan, dua orang ibu (profesinya pedagang) mengatakan senada, “Senang sekarang bisa memilih bupatinya secara langsung, tidak seperti zaman Orde Baru, harapannya semoga kepemimpinan baru membawa ke arah kemajuan, kebaikan, dan kesejahteraan. Namun, sebaiknya pada saat pencoblosan diberi sangu (ongkos) untuk menggantikan waktu dan tenaga yang tersita. Dalam pilkades saja diberi ongkos, masak sih pilbup tidak? Kan pilbub itu modalnya lebih besar dan dapatnya nanti juga lebih besar dibandingkan dengan pilkades?”
Masygul? No no. Heran? No no no. Masa bodoh? Oh tidak. Trus? Sedih? Mengapa harus bersedih? Wong saking bengongnya aku langsung ketiduran sampe kantor cabang di seputaran Tenggilis. Terbangun, masuk kamar, tidur lagi. Belum sampai 1/4 jam mimpi buruk menghampiriku. Tubuhku kejepit di sebuah pintu dan aku melihat mayat-mayat berserakan di dalam ruangan yang pengap. Sungguh, aku berteriak-teriak minta tolong hingga membangunkan beberapa orang teman yang tertidur pulas. “Mas, Mas, bangun. Kenapa? Mimpi buruk ya? Istighfar…., Mas”
Ciganjur, Tuesday, 8 July, 2008 1:33 PM
Dari Bandara Sukarno-Hatta langsung ke kantor dan nulis uneg-uneg ini di FS