Debu Pencinta
Permisi, kulanuwun, excuse me. Izinkan aku menulis ya Rabbku. Menulis apa saja yang bisa kutulis. Menulis untuk diriku sendiri. Bagiku menulis adalah hidup. Dan hidup berarti harus menghidupi.
Aku hanya satu di antara bermega-megatriliun hasil karya-Mu lainnya. Aku laksana debu. Namun, aku tidak ingin seperti debu yang hanya mengotori lubang hidung, debu jalanan, atau debu yang mengotori barang apa pun. Aku ingin menjadi debu yang bermanfaat, debu hidup yang menghidupi. Debu yang menulis untuk kehidupan.
Ya Rahman, ya Rahim. Izinkan aku menjadi debu pencinta. Pencinta kedamaian, kasih sayang, persaudaraan, keberagaman, perbedaan, kekompakan, ilmu, pengetahuan, pemikiran, pencinta jalan lurus. Pencita segala yang pantas dicinta. Mohon tidak Kau jadikan aku debu penista, pemaki, dan pembenci meski ada jalan yang berkelok.
Wahai Sang Pencipta, adrenalinku tersalurkan dengan menulis, tersurat atau tak tersurat. Aku ingin setiap saat menulis, baik dengan tangan maupun dengan hati. Dengan tangan akan kususun huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Dengan hati akan kurangkai hingga membentuk pagina-pagina kehidupan kini dan mendatang.
Perkenankan hatiku berpesan, “Sebagai pencinta, menulislah selagi bisa, menulislah jika itu kau anggap kewajiban. Sebab menulis bukan hobimu, menulis adalah jalan hidupmu.”