Arsip untuk Juli, 2008

Mengapa Bung Tomo Harus Jadi Pahlawan Nasional?

Posted in Tentang Pahlawan on Juli 29, 2008 by masyon

Bung Karno bilang bahwa bangsa yang besar yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawan. Persoalannya, siapa yang pantas menjadi pahlawan? Kriteria apa yang melandasinya? Pengajuan dari keluarga? Pengakuan yang disertai syarat-syarat formal dari pemerintah? Pengakuan dari mayoritas anak bangsa? Atau objektivitas dan subjektivitas tertentu untuk kepentingan tertentu.

Bagaimana orang sekaliber Bung Tomo bisa tidak mendapatkan gelar pahlawan nasional? Dulu, pada tahun 1982-1983, DPRD Jawa Timur mengajukannya agar Bung Tomo diangkat menjadi pahlawan nasional, tetapi ditolak oleh Mensos Nani Soedarsono dengan alasan perjuangan Bung Tomo bersifat lokal (yang tentunya ini merupakan alasan politis karena Bung Tomo sangat berseberangan dengan Soeharto dengan rezim Orde Baru-nya). Apapun alasannya, sebenarnya sangat ironis, bahkan tragis, jika orang sekaliber Bung Tomo tidak diangkat menjadi pahlawan nasional, sedangkan banyak pahlawan ecek-ecek, bahkan pahlawan kesiangan yang dengan tiba-tiba dianugerahi gelar pahlawan nasional. Bahkan, begitu meninggal langsung dimakamkan di taman makam pahlawan.

Kemaarin aku dapat bocoran berita menggembirakan. Berita itu menyatakan bahwa berkas-berkas pengajuan agar Bung Tomo diangkat pahlawan nasional dari jajaran Pemda Jawa Timur, Dinas Sosial Jawa Timur, dan Kota Surabaya sudah masuk ke “pusat”. Alhamdulillah. Aku termasuk orang yang berbahagia dan bangga mendengar berita itu. Semoga orang “pusat” bisa mempertimbangkan dan memutuskan dengan nurani bahwa memang Bung Tomo layak diangkat menjadi pahlawan nasional.

Jika Bung Tomo mendapatkan pengakuan itu, berarti anak-anak bangsa, generasi muda tidak akan mengalami missing link, kehilangan garis sejarah yang sebenarnya. Anak-anak bangsa akan terbuka matanya akan sosok pahlawan sejati yang (mungkin tidak ada duanya di Republik ini) yang pada gilirannya mereka bisa memahami sejarah bangsanya secara utuh. Tidak sepotong-sepotong dengan kebohongan di sana-sini akibat kepentingan politis oknum-oknum tertentu.

Beberapa alasan yang bisa dijadikan pertimbangan agar Bung Tomo sesegera mungkin mendapatkan gelar terhormat itu.

  1. Tanpa mengurangi peran sejarah para pejuang lainnya, Pertempuran 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, tidak mungkin terjadi tanpa peran strategis Bung Tomo yang dengan semangatnya yang luar biasa menggelorakan semangat arek-arek Soerabaja untuk bertempur melawan Inggris yang diboncengi NICA, melalui Radio Pemberontakan yang dibentuknya bersama teman-temannya.
  2. Bung Tomo adalah salah satu pendiri TNI, Anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata seluruh Jawa dan Madura. Pada tanggal 05 Oktober 1947 dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia bersama Jenderal Soedirman, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Surjadarma, Laksamana Nazir, dan sebagainya dengan pangkat jenderal mayor TNI AD yang bertugas sebagai Koordinator AD, AL, dan AU di bidang informasi dan perlengkapan perang.
  3. Bung Tomo adalah pejuang yang selalu mengingat dan melaksanakan wejangan Jenderal Sudirman, bahwa sebagai prajurit jangan sampai tergoda harta, tahta, dan wanita yang bisa menghancurkan harga diri, bangsa, dan negara.
  4. Bung Tomo adalah pejuang yang konsisten membela kebenaran serta kepentingan bangsa dan negara. Ketika diminta PM Amir Syarifuddin untuk memilih apakah akan tetap menajdi jenderal atau agitator yang terus menggelorakan semangat rakyat dengan pidato-pidatonya, Bung Tomo memilih mundur dari jabatannya di TNI. Dia pun selalu mengkritisi sikap para pemimpin, tak terkecuali Bung Karno pada masa Orde Lama dan Soeharto pada masa Orde Baru. Hingga dia harus mendekam di Penjara Nirbaya pada akhir dekade 1970-an karena kritik-kritiknya yang pedas terhadap Soeharto.
  5. Bung Tomo adalah pahlawan sejati. Dia akan menitikkan air mata haru dan bangga ketika melihat Sang Saka Merah Putih dikibarkan. Dan dia pun akan segera mengangkat tangan dengan sikap menghormat sempurna setiap melewati taman makam pahlawan, di mana pun berada. Kebiasaan itu dia dia ajarkan, bahkan dia paksakan kepada anak-anaknya, terutama kepada anak lelaki satu-satunya, Bambang Sulistomo.

Masih ragukah kita dengan kepahlawanannya?

TragiKomedi Inu Kencana

Posted in Uneg-uneg on Juli 25, 2008 by masyon

Setengah jam yang lalu, aku menelpon Inu Kencana, dosen IPDN yang terkenal vokal itu loh. Tujuanku ingin menyampaikan keprihatinan atas pemecatannya dari IPDN. Sahabat, guru kehidupan, sekaligus salah seorang idolaku itu menyambut dengan gembiranya. Dari seberang, kudengar dia berkata dengan lantang, “Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarokatuh? Saya sekarang sudah dipecat dari IPDN.”

Kemudian, dengan seksama kudengarkan pernyataannya bahwa dia sekarang muter-muter memberi ceramah, minggu ini di Riau. Bahkan, menurutnya dia juga dicalonkan menjadi bakal calon gubernur dan walikota sekaligus. Lalu, kami membahas soal buku. Dia menawarkan buku DEPDAGRI UNDERCOVER untuk diterbitkan, karena setelah ditawarkan ke salah satu penerbit, penerbit tersebut “tidak berani”. Aku candai dia, “Jangan pakai judul itu Pak. Lebih baik pakai judul Akhirnya Inu Kencana Dipecat.” Dan dia pun setuju dengan judul cemerlang itu, meski aku sendiri bimbang. Mungkin nggak buku itu aku terbitkan?

Barangkali, buku itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua –bahwa seperti kata Rendra–keberanian menjadi cakrawala. Ya, keberanian Inu Kencana Syafii juga menjadi cakrawala, tetapi cakrawala pembatas yang kasat mata antara tragedi dan komedi, antara balada dan dagelan. Tragikomedi. Satu episode sandiwara yang tengah dipentaskan di Bumi Indonesia tercinta, di antara ribuan sandiwara sejenis, dari yang tingkat tinggi kelas Senayan hingga kelas sandal jepit, maling ayam.

Jakarta, 25 Juli 08, pk. 15.37

Indahnya Surau Kami (Sebuah Kisah dari Lereng Bukit)

Posted in Cinta & Obsesi on Juli 19, 2008 by masyon
Kami adalah sekumpulan manusia yang tinggal di sebuah desa terpencil. Desa kecil nun jauh dari pusat keramaian kota. Desa kami berada di lereng bukit hijau. dengan sungai mengalir 30-40 meter di bawahnya. Kami hidup penuh kedamaian, kasih sayang, dan kebersamaan. Meski, ada satu dua warga nonmuslim, penganut aliran kepercayaan, kami semua tidak pernah mempersoalkannya. Di antara kami pun ada yang lebih NU, ada pula yang agak Muhammadiyah, tak sedikit yang islam kejawen.
Beberapa bulan sebelumnya kami risau. Surau peninggalan nenek moyang kami sudah reyot, nyaris roboh. Kami risau karena kami semua termasuk penduduk yang “kurang berada”. Namun, kerisauan kami tidak berlangsung lama. Dengan semangat yang kami miliki, kami rembug desa dan segera beraksi. Di antara kami saling mendukung. Ada yang menyumbang uang, ada yang mengirimkan kayu, ada pula yang menyumbang makanan dan minuman saat pelaksanaan renovasi. Yang paling banyak menyumbang tenaga. Sama sekali kami tidak meminta sumbangan dari pihak luar. Apalagi “ngencleng” di pinggir jalan. Alhamdulillah.
Kami sangat bangga dengan keberadaan surau itu. Kami sangat bahagia ketika maghrib tiba sebagian besar dari kami bersama-sama melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Demikian pula ketika subuh dan isya tiba. Apalagi saat bulan Ramadhan, surau kami terasa megah dengan beragam ritual hablum minallah dan hablum minnannass. Kami sangat gembira menyaksikan anak-anak bisa beribadah dan belajar di sana. Maha Suci Allah, Tuhan yang mempercayai kami untuk membesarkan dan mendidik mereka.
Ya Allah, penguasa seluruh alam. Kami mohon pertahankan keutuhan, kedamaian, kebersamaan, dan kebahagiaan di antara kami. Kami panjatkan doa kepada-Mu, jagalah surau kami dengan sinar keagungan-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya, dari perpecahan, dari godaan nafsu rendah kami, serta dari godaan setan yang terkutuk. Jauhkanlah kami dari nafsu duniawi yang merugikan, dari iri dengki, menang sendiri, merasa superior, dan dari sifat-sifat asosial. Ya, Azza Wazzalla, hanya kepadamu kami berlindung, hanya kepada-Mu kami memohon. Semoga.
Ciganjur, 14 Juli 08 (dikutip dari catatan yang tersimpan dalam kenangan puluhan tahun)
Kutulis karena rasa cinta, keprihatinan, kegeraman, kegelisahan, ketidakpuasan, dan harapan karena belum adanya musholla di lingkungan tempat tinggalku.

SONTOLOYO

Posted in Uneg-uneg on Juli 19, 2008 by masyon
Kata “sontoloyo” belakangan populer. Lucunya yang memopulerkannya bukan orang Jawa, tapi orang Batak. Adalah Syamsir Siregar, Kepala BIN yang gerah melihat ada menteri, anggota dewan, dan orang-orang parpol yang tidak konsisten dan memahami masalah kenaikan harga BBM. Kata itu kemudian menjadi populer setelah ucapan Kepala BIN dilansir media cetak dan elektronik.
Maka, ketika kasus korupsi di DPR semakin terkuak dan menjadi perhatian publik, Ketua DPR Agung Laksono pun segera berkata bahwa “anak buahnya sontoloyo”. Jadi, kata itu pun tambah ngepop saja. Makanan apa sih sontoloyo itu? Kata “sontoloyo” berasal dari bahasa Jawa yang dalam KBBI diartikan dengan konyol, tidak beres, bodoh. Kata ini lebih sering digunakan orang untuk memaki orang lain. Pertanyaannya kemudian: Siapa sih sebenarnya orang Indonesia yang tidak sontoloyo? Aku? Jelas sontoloyo. Kamu? Sontoloyo juga. Dia, mereka? Ya sontoloyo.
Nggak percaya kalo kita semua sontoloyo? Buktikan sendiri. Coba deh tepat tengah malam kita merenung sejenak, 10, 20, 30 menit. Rasakan dan nikmati kesendirian, keheningan, kesunyian, dan keilahian. Pasti kita akan mendapati betapa sontoloyonya kita. Hidup sontoloyo!
Wednesday, 16 July, 2008 10:37 AM

Demokrasi, Pilkada, Uang

Posted in Uneg-uneg on Juli 19, 2008 by masyon
Setelah melewati tiga hari ( Sabtu, 5 Juli sd Senin, 7 Juli 2008 ) yang cukup melelahkan, mengisi acara (dari ngecuprus masalah penulisan di depan guru-guru, bedah buku Revolusi 45 sampai Kudeta 66 dan Menguak Rahasia Tulisan & Tanda Tangan, sampai ikut hadir di TAS FM) pada pameran buku super murah di Gedung Nasional Indonesia, Kediri, selesai sudah tugasku di sana. Pagi ini aku harus kembali ke Jakarta (kayak lagunya Koes Plus).
Dalam perjalanan dari Kediri menuju Surabaya tadi malam, sampai Jombang sekitar pukul 24.00, aku mendengarkan berita dari sebuah radio siaran daerah Jombang. Dalam berita itu, reporter radio tersebut menanyakan pesan dan harapan beberapa warga Jombang terhadap rencana pemilihan Bupati & Wakil Bupati Jombang.
Dari tiga orang warga yang suaranya diperdengarkan, dua orang ibu (profesinya pedagang) mengatakan senada, “Senang sekarang bisa memilih bupatinya secara langsung, tidak seperti zaman Orde Baru, harapannya semoga kepemimpinan baru membawa ke arah kemajuan, kebaikan, dan kesejahteraan. Namun, sebaiknya pada saat pencoblosan diberi sangu (ongkos) untuk menggantikan waktu dan tenaga yang tersita. Dalam pilkades saja diberi ongkos, masak sih pilbup tidak? Kan pilbub itu modalnya lebih besar dan dapatnya nanti juga lebih besar dibandingkan dengan pilkades?”
Masygul? No no. Heran? No no no. Masa bodoh? Oh tidak. Trus? Sedih? Mengapa harus bersedih? Wong saking bengongnya aku langsung ketiduran sampe kantor cabang di seputaran Tenggilis. Terbangun, masuk kamar, tidur lagi. Belum sampai 1/4 jam mimpi buruk menghampiriku. Tubuhku kejepit di sebuah pintu dan aku melihat mayat-mayat berserakan di dalam ruangan yang pengap. Sungguh, aku berteriak-teriak minta tolong hingga membangunkan beberapa orang teman yang tertidur pulas. “Mas, Mas, bangun. Kenapa? Mimpi buruk ya? Istighfar…., Mas”
Ciganjur, Tuesday, 8 July, 2008 1:33 PM
Dari Bandara Sukarno-Hatta langsung ke kantor dan nulis uneg-uneg ini di FS

Resensi: Bung Tomo Menggugat

Posted in Resensi Buku on Juli 19, 2008 by masyon

Judul : Menembus Kabut Gelap: BUNG TOMO MENGGUGAT

Kumpulan Pemikiran, Surat, dan Artikel (1955—1980)

Penulis : Soetomo (Bung Tomo)

Ukuran : 15 x 23 cm

Penerbit : Visimedia, 2008

Bung Tomo selama ini dikenal generasi muda “hanya” sebagai pahlawan yang mengobarkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Padahal, kenyataannya hingga saat ini Bung Tomo belum mendapat gelar Pahlawan Nasional. Selain itu, generasi muda juga tidak/belum tahu bahwa Bung Tomo pernah menjadi menteri (Menteri Urusan Veteran ketika Kabinet Burhanuddin Harahap) dan menjadi anggota DPR RI pada tahun 1950-an. Setelah itu, Bung Tomo yang terkenal kritis terhadap penguasa (Bung Karno dan Pak Harto) seolah-olah hilang begitu saja peranannya dalam sejarah Indonesia.

Di samping sebagai wartawan dan tentara dengan pangkat terakhir mayor jenderal, Bung Tomo dikenal dekat dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pemikiran dan tulisannya yang kritis selalu berpijak pada nasihat Pak Dirman, yakni pemimpin jangan sampai tergoda dengan harta, tahta, dan wanita. Jika sampai tergoda akan hancurlah kepemimpinan dan kewibawaannya. Pada masa Orde Baru, Bung Tomo sempat mendekam di penjara selama satu tahun (1978—1979), yakni di sebuah penjara yang terletak di sekitar Kramatjati, Jakarta Timur. Dia dipenjara karena sikap kritisnya terhadap kepemimpinan Pak Harto.

Buku ini berisi dokumen-dokumen hasil pemikiran, berupa tulisan, artikel, dan surat (baik resmi maupun tidak resmi). Di antaranya ditujukan kepada Bung Karno, Pak Harto, Presiden AS Eissenhower, anggota Partai Indonesia Raya, LVRI, dan sebagainya; serta beberapa artikel tentang kepahlawanan dan persoalan antargenerasi. Sebagian besar tulisannya merupakan kritik yang keras dan tajam terhadap situasi dan kondisi pada zamannya. Kritik yang tidak sekadar kritik. Dia juga memberikan cara-cara penyelesaian masalah, meskipun itu kesannya masih sangat sederhana.

Dalam kata pengantarnya, pengamat politik, Arbi Sanit menjelaskan sebagai berikut.

GUGATAN TOKOH BESAR

BERBASIS KEKUATAN POLITIK KECIL

Tatkala membaca buku ini sesungguhnya Anda sedang mengenali sosok, pemikiran, dan pengalaman seorang tokoh besar In­donesia yang memiliki kompleksitas kehidupan, tetapi mudah dicerna. Gambaran komplesitas itu diwarnai oleh perannya dari pejuang kemerdekaan dan pemimpin revolusi sampai menjadi perwira militer, politisi, dan menteri kabinet. Belum lagi selaku pemikir, wartawan, dan agitator ulung. Dan kesederhanaannya tampil dari kelugasan dan konsistensi berpikir, bersikap, dan bertindak. Itulah glory atau kebesaran seorang pahlawan Indonesia yang dikenal dengan sebutan Bung Tomo.

Tulisan-tulisannya yang dihimpun dalam buku ini, memuat gugatannya terhadap para pemimpin dunia dan Indonesia, sebagai wujud perjuangannya untuk mencapai cita-cita Indonesia merdeka, sebagaimana harus disarikan dari alinea kedua Pembukaan UUD 1945 menjadi demokrasi dan makmur. Adalah ketidakpedulian yang bermuara ke­pada kegagalan para pemimpin Indonesia untuk merelaisasikan cita-cita itu, sehingga kesengsaraan rakyat tidak terkendali dan bahkan tidak teratasi yang memotivasi Bung Tomo untuk memfungsikan kepalawanannya melakukan gugatan yang dimaksudkan.

Penelusuran atas karyanya ini memberikan pemahaman bahwa gugatan Bung Tomo bermakna majemuk, dalam artian dimensi dan objeknya beragam. Gugatan Bung Tomo bisa hadir berbentuk analisis kritis, sebagaimana tertangkap dari pemaparannya tentang hubungan politisi sipil dan militer yang saling menunggangi sehingga batasan perannya menjadi tidak jelas, dengan konsekuensi membahayakan demokrasi. Begitu pula tentang kritik diri atas posisinya sebagai Ketua Partai Rakyat Indonesia (PRI) yang dirangkap dengan perannya sebagai Menteri Veteran dalam Kabiner Burhanuddin Harahap, sehingga PRI hanya memperoleh dua kursi di DPR yang berarti 10% dari 20 kursi yang ditergetkan dalam pemilihan umum (pemilu) 1955.

Selain itu, gugatan Bung Tomo berarti pula sebagai tuntutan politik sebagaimana dikemukakannya dalam bentuk pembubaran DPR dan partai politik oleh pemerintah karena kinerjanya yang tidak produktif melindungi dan memperjuangkan nasib serta kepentingan rakyat, yang justeru merupakan konstituennya. Demikian pula halnya dengan desakan kepada Dwi Tunggal Soekarno-Hatta agar bersikap adil terhadap PRI dan lawan politiknya dari kelompok Angkatan 45, kelompok Yamin, dan kelompok Khaerul Saleh cs yang dianggapnya sebagai pengikut Tan Malaka. Lalu desakan itu tertangkap pula tatkala Bung Tomo meminta kerja sama erat di antara partai untuk membangun kewibawaan pemerintah, baik dalam menghadapi perbedaan dalam militer maupun di antara politisi sipil.

Gugatan Bung Tomo yang bermakna kritik tajam, jelas sekali terlihat saat ia mengoreksi Bung Karno dan para jenderal yang dilihatnya mengalami dekadensi moral karena melemahkan nilai keutuhan keluarga dengan beristeri lebih dari satu dan terjebak dalam “main perempuan”. Sikap senada dihadapkannya pula kepada Presiden Soeharto, sekalipun alasannya adalah cukongisme sebagai realisasi nepotisme dan klik, melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha nonpribumi. Dalam kaitan itu Bung Tomo mengritik keras peran asisten pribadi (aspri) dan keluarga Presiden Soeharto.

Dan gugatan Bung Tomo yang bermakna himbauan, tampak dari surat terbukanya kepada Presiden Eisenhower dari Amerika Serikat. Dipahaminya kestrateigsan posisi dan peran Amerika Serika di puncak Perang Dingin, yang dapat bermanfaat bagi Indonesia. Untuk itu Bung Tomo menghimbau agar Eisenhower mendukung kemandirian Indonesia dengan membantu pembangunan ekonomi yang sedang diusahakan oleh pemerintah. Dalam pada itu, untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan nasional yang berakar kepada pecahnya Dwi Tunggal dan konflik sipil-militer, Bung Tomo menganjurkan agar AH Nasution, Hatta, dan Sultan Hamengkubuwono IX membentuk Kabinet Zaken. Dengan demikian ia berharap agar tercipta kewibawaan pemerintah atas elit yang selalu bertikai.

Mudah dipahami bahwa keseluruhan makna gugatan Bung Tomo itu menggambarkan sikap dan perjuangannya sebagai pahlawan pada era damai, sebagai alternatif dari kepahlawanannya pada era revolusi fisik. Sungguhpun demikian, hasilnya jauh berbeda. Dalam revo­lusi fisik Bung Tomo sukses besar, sebagaimana terbukti dari kekalahan Inggris (Sekutu) pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya dan implikasi politik internasional yang menguntungkan Indonesia dalam menghadapi Belanda. Namun, kepahlawanannya pada masa damai, di medan politik, jauh dari cemerlang. Dalam Pemilu 1955, sebagaimana diakuinya sendiri, PRI berkarya jauh di bawah target. Menghadapi Pemerintahan Presiden Soekarno, ia semakin diasingkan dari lingkaran kekuasaan pemerintahan yang berawal dari pidatonya tentang sikap pemuda yang berkolaborasi dan menyinggung Bung Karno. Kemudian bukan hanya partainya yang tergolong diasingkan, melainkan juga peran politiknya di DPR pun berakhir pada tahun 1959 ketika DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan oleh Presiden Soekarno melalui sebuah dekrit.

Sangat mungkin inilah kenyataan dari tokoh besar yang tidak didukung oleh kekuatan politik secara memadai. Sebagaimana terbukti dari Pemilu 1955, PRI yang hanyalah partai kecil, tidak bisa diandalkan untuk memenangkan perjuangan politiknya. Meskipun argumen politiknya bernas, logis, dan masuk akal, karena tidak ditopang dengan dukungan yang memadai, apa pun makna operasional dari gugatan politik yang dilakukannya, bisa jadi menarik perhatian, tetapi jelas tidak punya daya pengaruh.

Rasarnya nasib yang dialami Bung Tomo di dunia politik Indonesia akan berkelanjutan. Tokoh besar seperti Amien Rais sukar memenangkan gagasan dan perjuangan politiknya, sekalipun kepeloporannya dalam reformasi diakui. Maka, calo atau broker politik, lebih mungkin menentukan nasib rakyat ketimbang tokoh besar yang menjadi pemimpin politik dan pemerintahan, kecuali jika di Indonesia bisa terbangun sistem partai yang kuat karena sederhana.

Debu Pencinta

Posted in Debu Pencinta on Juli 18, 2008 by masyon

Permisi, kulanuwun, excuse me. Izinkan aku menulis ya Rabbku. Menulis apa saja yang bisa kutulis. Menulis untuk diriku sendiri. Bagiku menulis adalah hidup. Dan hidup berarti harus menghidupi.

Aku hanya satu di antara bermega-megatriliun hasil karya-Mu lainnya. Aku laksana debu. Namun, aku tidak ingin seperti debu yang hanya mengotori lubang hidung, debu jalanan, atau debu yang mengotori barang apa pun. Aku ingin menjadi debu yang bermanfaat, debu hidup yang menghidupi. Debu yang menulis untuk kehidupan.

Ya Rahman, ya Rahim. Izinkan aku menjadi debu pencinta. Pencinta kedamaian, kasih sayang, persaudaraan, keberagaman, perbedaan, kekompakan, ilmu, pengetahuan, pemikiran, pencinta jalan lurus. Pencita segala yang pantas dicinta. Mohon tidak Kau jadikan aku debu penista, pemaki, dan pembenci meski ada jalan yang berkelok.

Wahai Sang Pencipta, adrenalinku tersalurkan dengan menulis, tersurat atau tak tersurat. Aku ingin setiap saat menulis, baik dengan tangan maupun dengan hati. Dengan tangan akan kususun huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Dengan hati akan kurangkai hingga membentuk pagina-pagina kehidupan kini dan mendatang.

Perkenankan hatiku berpesan, “Sebagai pencinta, menulislah selagi bisa, menulislah jika itu kau anggap kewajiban. Sebab menulis bukan hobimu, menulis adalah jalan hidupmu.”