mimpi ini terlalu indah hingga kita tak kuasa untuk terjaga

Posted in PUISI (kalo bisa disebut puisi) on Oktober 17, 2009 by masyon

mimpi ini terlalu indah
hingga kita tak kuasa untuk terjaga

(untuk sahabat-sahabatku….  pada saat yang tak tepat)

dalam hidup
kadang kala kita terjebak suasana
yang salah.
kita terhimpit dalam
dilema berkepanjangan
dalam mimpi saat kita tak tidur

mimpi aku memilikimu seutuhnya
menyentuhmu hingga paling dalam
kalbumu
begitu pula engkau
seakan aku ini benar
hanya milikmu

segala menjadi
tampak memesona
semua mengundang selera
untuk kita mereguknya bersama
aku dan kau
merasa bersatu tanpa jarak
tanpa jeda
aku menikmati kehangatmu
kau pun meresapi kehadiranku
tanpa jemu, apalagi
ragu….

rasa takut kehilangan
khawatir akan keselamatan
cemburu, rindu, benci, marah, curiga
mengaduk hatiku dan hatimu
seolah kau memang (hanya) milikku
seakan aku memang (cuma) punyamu
dan kita pun
menjadi buta

lalu kita jujur mengakui:
mimpi ini terlalu indah
hingga kita tak kuasa untuk terjaga

Depok (01.30), 17 Oktober 09

Idul Fitri Alias Lebaran

Posted in Cinta & Obsesi on September 18, 2009 by masyon

Tak terasa, Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H telah berada di ambang pintu. Di depan kita semua. Keheningan sekaligus kegaduhan seremonial puasa Ramadhan, tarawih, tadarus, membayar zakat segera usai. Lantas, geliat duniawi, hedonis — atas nama menyambut lebaran–  di pusat-pusat perbelanjaan mendominasi hati dan otak kita. Kemacetan lalu lintas pun mewarnai “perilaku kebudayaan” kita tersebut.

Masyarakat Indonesia (bukan hanya yang beragama Islam) memang sangat antusias menyambut kedatangan hari fitrah itu. Mudik sebagai sebuah tradisi kembali ke kampung halaman seolah menjadi keharusan kaum urban. Keharusan yang memang bukan basa-basi, karena sebagain besar orang yang mudik “berusaha” kembali ke akar, kembali ke asal, kembali ke jati diri. Meskipun ada juga yang sekadar daripada tidak mudik, tetap saja semangat 45 menuju kampung halaman mewarnai jiwa mereka.

Menarik ketika membaca iklan sebuah harian di Jawa Tengah dengan momentum Idul Fitri. Koran Jateng itu meng-otak-atik gathuk-kan LEBAR-LIBUR-LABUR-LUBER-LEBUR. Kata-kata itu aku pinjam di sini!

LEBAR (lebaran) dalam bahasa Jawa berarti selesai, yakni merupakan perwujudan rasa syukur setelah selesai menunaikan ibadah selama sebulan Ramadhan. Lebaran berarti berbagi dengan sesama. Berbagi maaf, berbagi rezeki, berbagi keceriaan, berbagi (rasa) cinta. Bukan berbagi kedengkian, iri hati, kemarahan dan hal-hal negatif lainnya.

LIBUR, karena hampir semua orang menghentikan aktivitas bisnis, politik, pemerintahan, dan lain-lain, kemudian menjadikannya waktu untuk berkumpul, bertemu sanak saudara, sahabat, dan handai taulan. Di sini, sekat-sekat jabatan, pangkat, golongan seolah hilang menjadi egaliter…. semua sederajat.

LABUR, saatnya kita semua berbenah. Membersihkan dan mempercantik rumah dan pekarangan. Mempercantik penampilan fisik, badan, pakaian untuk saling bersilaturahmi dengan sesama. Sekaligus “melabur” jiwa dengan siraman suci hingga noda2 kesalahan sebagai makhluk sosial habis tak berbekas.

LUBER, melimpah. Saat Idul Fitri, selayaknya rezeki semua orang melimpah. Yang bekerja mendapatkan tunjangan hari raya (THR), pengusaha/pedagang meraih keuntungan, dhuafa/fakir miskin memperoleh zakat dari orang-orang yang mampu dan kaya. Semuanya melimpah. Hati pun harus melimpahkan rasa kemanusian sedemikian rupa, sehingga semua merasakan kelimpahan rahmat-Nya.

LEBUR. Saatnya semua orang melebur dosa, salah, dan khilaf yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Semua saling memaafkan tanpa terkecuali. Semua kembali bersih. Suci tak bernoda.

LEBAR-LIBUR-LABUR-LUBER-LEBUR ini jika kita mau dan mampu melaksanakan, memaknai, dan mengambil segala kearifannya, tentu perintah “Dan berpuasalah kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” menjadi sebuah realitas yang manis. Kenyataan yang indah. Bukankah takwa itu bukan sebuah pelajaran teori tentang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, melainkan sebuah “perintah” yang harus diejawantahkan bahwa dengan berpuasa (dan ibadah lain selama sebulan Ramadhan) manusia haruslah meningkat nilai atau kualitas kemanusiaannya?

Ok fren. Aku telah memaafkanmu, maafkan aku. (Montong, 18 September 2009)

aku

Posted in PUISI (kalo bisa disebut puisi) on September 1, 2009 by masyon

kadang merasa paling pintar

ternyata aku masih sangat bodoh

tapi ketika aku merasa bodoh

terlalu banyak orang pintar di sekelilingku

aku pun terdiam……. sunyi

dalam diam kutelusuri diri

aku memang bodoh

apakah kebodohan harus ditangisi

disesali?

Kupikir tidak!

Dia harus dinikmati, dikaji, disetubuhi dengan hati

maka, kebodohan itu akan menjelma

jadi kepandaian sejati

Minimal menghibur diri bahwa aku bisa juga pandai

(Depok, 2 September 2009, 00.48)

Jangan (Pernah) Merasa Lelah

Posted in Debu Pencinta on September 1, 2009 by masyon

Kadang-kadang badan kita merasa capai. Loyo. Letih. Tak jarang otak kita tumpul. Mandeg. Stagnan. Gak bisa mikir lagi. Pada saat-saat seperti inilah titik nadir kita sebagai manusia rasanya berada di puncak. Diam. Sepi. Dan bodoh. Saat seperti ini laksana jiwa telah mati sebelum mampu berbuat apa-apa.

Ya, memang keletihan badan, ketumpulan otak, dan kematian jiwa kerap melanda eksistensi kita sebagai manusia. Kita seolah-olah menjadi tidak berarti bagi siapa pun. Jangankan bagi orang lain, bagi diri sendiri saja kita gak ada artinya.  Menyedihkan bukan?

Namun, karena kita belum mati, kita mesti bangkit. Kita harus menghela napas. Menarik napas panjang dan dalam, menyimpannya di perut atau dada sebentar, kemudian mengembuskannya dengan pelan. Dengan disertai doa kepada Yang Kuasa, Insya Allah segala kelumpuhan itu akan menghilang. Oksigen yang masuk ke dalam paru-paru dan mengalir ke seluruh tubuh akan menggugah kesadaran kita kembali sebagai manusia.

Lalu? Lalu? Lalu kita harus bangkit. Jangan pernah merasa lelah. Allah, Tuhan kita memberikan bermiliar-miliar kenikmatan, fasilitas, kesenangan, ide, pikiran, energi, dan sebagainya harus kita manfaatkan kembali untuk kemaslahatan kita sebagai manusia. Bukan hanya sebagai manusia secara individual (pribadi), melainkan juga sebagai makhluk sosial (komunal) yang harus bergabung dengan manusia lain. Kita harus segera bangkit. Berpikir. Bekerja.

Teguran, kritik, saran, peringatan, atau warning entah dari mana asalnya (dari Tuhan, alam, atasan, bawahan, rakyat, tetangga, teman, suami, istri, anak, atau yang lain) dan bagaimana pun bentuk/wujudnya merupakan bahan refleski diri atas kekurangan, kebodohan, ketidakprofesionalan, bahkan kekufuran kita. Kita harus menerima, merenunginya. Kemudian mengambil sikap, berpikir, dan bertindak memperbaiki diri, memperbaharui keadaan. Senyum harus kembali tersungging. Semangat harus bangkit dan bergelora kembali.

Kesempatan bukan untuk ditinggalkan dan disia-siakan. Dia harus selalu diraih sebelum menghilang ditelan sang waktu yang tak mau kompromi.  Kekalahan bukan untuk ditangisi, tetapi harus menjadi cambuk untuk meraih kemenangan pada kemudian hari. Kegagalan bukan harus disesali sebagai tragedi, tetapi harus disikapi sebagai sebuah awal keberhasilan. Kesengsaraan dan ksedihan  bukan untuk dikhianati, tetapi harus dinikmati hingga dia bersedia berubah wujud  menjadi kebahagiaan sejati. Dan, semua ini bisa terjadi jika kita tidak pernah merasa lelah! Semuanya juga akan terwujud berkat campur tangan-Nya jika kita tidak merasa lelah berpikir dan berkarya. Dont worry be happy Yon! Insya Allah.

DEPOK, 2 September 2009 pk. 00.25 WIB

ULANG TAHUN

Posted in Debu Pencinta on Juni 15, 2009 by masyon

Waktu bergulir cepat. Uban bertambah. Umur bertambah, sekaligus jatahnya berkurang. Setiap tahun kita selalu berulang tahun. Di antara kita ada yg merayakan ulang tahun secara besar-besaran, mewah, meriah, bahkan di hotel berbintang atau pesta kebun di sebuah vila. Ada yang sekadar mengundang tetangga kiri-kanan, depan-belakang, dengan tumpeng sederhana. Sangat banyak pula yang tidak apa-apa alias tanpa apa pun karena toh hari-hari hari itu sama saja. Sama-sama 24 jam, sama2 mengurangi jatah umur. Ada pula yang berdiam tafakur, mensyukuri nikmat, mengingat dosa pada keheningan malam.

15 Juni 2009, tak terasa usiaku sudah 41 tahun. Aku ulang tahun. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tidak ada perayaan, tidak ada tumpengan. Alhamdulillah… puja dan puji syukur kepada Sang Kholik yang telah membuatku ada dan masih ada hingga tahun ke-41 ini. Sejak 14 Juni aku mengungkapkan perasaan dengan kata-kata sederhana: “Alhamdulillah…. Karena Engkau aku ada, karena Engkau pula aku masih ada.” Lalu, “Ingin tertidur lelap bersamanya, memeluknya… (orang-orang tercinta)” Kemudian, pada hari H aku mengatakan, “Nambah umur: TQ 2 Alloh SWT, kontemplasi, insipirasi, happy, kerja keras, semangat, dan terus mencintai! Siap bergumul kembali dengan si Happy Monday…”

Umurku telah bertambah, sekaligus jatahku mengirup udara di dunia berkurang! Entah kurang berapa? Hanya Dia yang Mahatahu. Dan, bagiku ulang tahun adalah kontemplasi, yakni mensyukuri nikmat, menghitung kembali dosa-dosa. Ulang tahun juga sebuah inspirasi atau sumber ide terhebat untuk berbuat pada kemudian hari. Ulang tahun berarti kebahagiaan, karena aku mendapatkan ucapan selamat dan doa dari istri, anak, saudara, sahabat yang tak lagi bisa kuhitung satu persatu. Ada yang secara langsung, ada yang melalui telepon, SMS, email, atau ekspresi lewat tag, luv, gift, komentar di FB, FS, Tagged, dan lain-lain. Ucapan selamat dan doa itu menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Ulang tahun bagiku juga sebuah teguran agar aku terus bekerja keras dalam menghadapi hidup, menghidupi diri sendiri dan keluarga. Kerja keras untuk aktualisasi diri di hadapan masyarakat, sekaligus kerja keras sebagai sebuah upaya ibadah kepada-Nya. Ulang tahun adalah semangat untuk terus berani menatap masa depan tanpa gamang: dengan pikiran, kata-kata, dan tindakanku. Ulang tahun adalah cinta, terus-menerus mencintai, karena tanpa cinta, baik dari-Nya maupun dari sesama… ulang tahun tidak ada apa-apanya. Tidak berarti. Karenanya dengan terus dan selalu mencintai, kita akan tetap ada. Sahabatku semua, terima kasih atas segala ucapan dan doa kalian. Semoga Alloh mengabulkan ucapan dan doa terbaik umat-Nya, sekaligus Dia membalas kebaikan kalian dengan berjuta kebaikan lagi…..

Montong, 15 Juni 2009 (16:58)

15 Tahun Bahtera

Posted in Cinta & Obsesi on Mei 24, 2009 by masyon

Waktu cepat berlalu. Rasanya, aku pakai seragam abu2 putih belum lama. Ternyata sudah 23 tahun yang lalu. Dan tahun ini Noni (14, si sulung) juga sudah harus berseragam abu2 putih……

Rasanya, baru kemarin kami pacaran dengan segudang duka-cita dan tetesan air mata. Seolah baru hari ini kami menikah dengan segala kesederhanaan dan (banyak) cibiran dari mereka yang tidak suka terhadap kebahagiaan kami. Namun, ternyata itu sudah 15 tahun lalu.

25 Mei 1994, tepat 15 tahun lalu kami berikrar di depan penghulu untuk saling mencitai hingga akhir zaman. Seperti baru saja terjadi. Apakah memang waktu cepat berlalu? Peribahasa Prancis mengatakan, “Cinta membuat waktu berlalu dan waktu membuat cinta berlalu.” Mungkin benar, cinta kami yang tak aus oleh panas, tak hilang oleh gelombang membuat waktu itu semakin cepat. Tapi, kami tak ingin waktu membuat cinta kami berlalu…..

Kami tetap saling memupuk rasa itu, meski aku kadang masih sedikit nakal dengan melirik kanan kiri. Meski aku (pernah) mendua hati, aku tetap tidak sanggup berpaling darinya….. Aku tetap menjaga dan memelihara cinta kami dan membiarkan waktu berlalu.

Ya Robb…. bahteraku sudah 15 tahun. Aku masih ingin menjadi nahkoda yang bijaksana di antara coba dan goda. Kami tetap akan menerjang gelombang, mengarungi ombak, melawan badai, serta menjaga kedua titipan-Mu, Noni dan Nino, dengan sepenuh hati, sekuat jiwa raga. Kami tetap akan berlayar menuju titah-Mu… sakinah mawadah warohmah. Karenanya, terangi jalan kami, kuatkan hati kami, tajamkan mata kami, dan jaga ruh kami. (Depok 00:30)

HARKITNAS

Posted in Uneg-uneg on Mei 20, 2009 by masyon

<p>Dulu, zamannya kita sekolah, setiap memperingati Harkitnas 20 Mei (dan juga hari2 besar nasional lainnya), kita melaksanakan upacara bendera dengan hikmat… tak jarang malamnya ada renungan suci di TMP (taman makam pahlawan)….. Sering kali bulu kuduk kita merinding, bahkan air mata meleleh tanpa kita sadari saat mendengarkan alunan lagu “Mengheningkan Cipta”, “Gugur Bunga”, bahkan “Indonesia Raya”…. Kita pun sering diingatkan betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, para founding fathers dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan…. Apalagi saat itu kita diberi pelajaran PMP dan PSPB…. Lengkap sudah (sebenarnya) bekal kita menjadi anak bangsa.

Lalu, ketika kita dewasa…mata kita terbuka. Kita menyaksikan betapa berbedanya aneka teori di sekolah, di lapangan upacara, dengan kenyataan yang ada…. Kita terperangah melihat tingkah polah (oknum) pejabat, pemimpin, aparat pemerintah dari pusat sampai dusun terpencil yang sungguh memuakkan. Korupsi, manipulasi, memperkaya diri dengan jalan yang tak semestinya dari zaman dulu sampai sekarang masih saja terjadi… bahkan semakin menjadi-jadi. Kemerosotan moral tanpa henti, tiada terkendali! Kemiskinan pun tetap saja membumi di Bumi Pertiwi. Aaaahhhh……

Kini, seabad lebih setahun….. konon kita sudah bangkit… Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati, walau tanpa greget, tanpa nyali untuk memperbaiki negeri, mengangkat martabat sendiri…. Kita pun menjadi makhluk instan, pragmatis, dan egoistis…. buah dari hilangnya greget nasionalisme dan patriotisme dalam sanubari.

Masih pantaskah kita menyebut HARKITNAS sebagai hari kebangkitan nasional saat para pemimpin berebut kursi? Saat bayi harus mati tersiram kuah soto mi? Saat hedonisme kita tak bisa terhenti? Saat hukum masih diperdagangkan? Saat korupsi menjadi kebudayaan?

Namun, apa ya kalau HARKITNAS harus berganti definisi menjadi hari kesakitan nasional? Betapa mengenaskan! Betapa memilukan! Tidaaaaaaaakkkkkk…… Jangan menangis Indonesiaku! Sembuhlah negeriku! Sadarlah bangsaku! (11:03)

Panggung Sandiwara

Posted in Uneg-uneg on Mei 5, 2009 by masyon

Lagu yang dipopulerkan Achmad Albar tiba-tiba mengiang di telinga….. “Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah, kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani….. setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan….. . bla bla bla.”

Ya, dunia memang sandiwara dengan segala lakon dengan segala pemain. Aku jadi pemain, engkau juga. Dia menjadi aktor, mereka pun menjadi tokoh sentral sandiwara. Aku bisa menjadi penonton. Engkau bisa jadi pemirsa. Dia, mereka pun bisa menjadi penikmat. Komplet pokoknya.

Negeri Pancasila ini baru saja mementaskan sandiwara besar yang menjadi tontonan kita semua, PEMILIHAN UMUM atau pemilu. Pemilu ini tidak akan menjadi sandiwara yang menarik jika tidak ada tokoh antagonis yang menguasai pentas. Tidak lagi bernyawa jika tidak ada Durna dan Sengkuni. Hambar jika tidak ada tokoh tertindas yang pantas dikasihani. Sandiwara itu juga tidak akan lucu jika tidak ada badut, pelawak, Cangik. Limbuk, dan para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Jika tanpa tokoh-tokoh itu…….pemilu akan seperti pada masa Orde Baru, biasa-biasa saja ketika dipentaskan dan sesudahnya.

Pemilu yang baru lalu ternyata bukan hanya sandiwara satu babak. Dia bisa mdenjadi dua babak, trilogi, kwartet, dan seterusnya dengan centang-perenang tokoh dan peristiwa. Dengan ragam cerita berliku. Dari bentuk kekecewaan ketidakpuasan menuju sebuah koalisi besar, dari bentuk pertahanan diri hingga saling serang. Dari stres hingga tawar-menawar capres/cawapres. Semuanya enak ditonton. Semua layak dinikmati… …. tetap saja belum berakhir.

Masih harus ada lagi episode baru, babak lanjutan. Kali ini babak Antasari Azhar……. Dan kita kembali menjadi penonton, penikmat sandiwara itu….. Bagaimana endingnya? Bisakah kita memprediksi seperti menebak ending sinetron di TV? Sebagai penonton, tentu saja ada di antara kita yang hanya merasa “biasa-biasa saja”, ada yang penasaran, ada yang cemas gundah gulana, dan ada yang ketakutan tiada tara. Ada pula yang mencoba membelokkan dan memparodikan cerita. Dan, semuanya menambah gairah pertunjukan sandiwara itu……..

Sandiwara belum akan berakhir. Kita masih bisa menonton. Masih bisa pula ikut casting dan lolos membintanginya. …. AYO lanjutkan sandiwara kita dengan peran masing2….. . aaaaahhh…. . ngantuk, padahal kerjaan numpuk! (13.43)

BUMIKU

Posted in Cinta & Obsesi on April 22, 2009 by masyon

Hari ini konon Hari Bumi:

Bumi, earth, world atau entah apa sebutan yang pas buat tempat yang kita diami dengan segala keserakahan dan kecurangan ini. Dia tampak begitu renta nestapa. Hutan beton memacang urat nadinya tanpa belas kasihan. Dengan alasan kesejahteraan penghuninya, perutnya dibor, dikeruk, disedot segala macam isinya. Dengan dalih pemenuhan kebutuhan, hutan-hutannya dibalak hampir tak tersisa, dan juga digantikan aneka perkebunan.

Bumiku….. Nasibnya semakin malang. Satu bikin hari khusus buat dirinya, jutaan lain merampas dan memporak-porandakannya. Satu pohon ditanam, sejuta pohon dibabat. Secuil areal direhabilitasi direboisasi, berjuta hektar lainnya dirusak dibantai. Seekor panda disayangi, dikarantina, dianak-pinakkan, seribu gajah dimusnahkan untuk diambil gadingnya. Satu kendaraan dirancang bebas polusi, lima juta lainnya diumbar di jalanan tebarkan bisa ke angkasa.

Andai kita mampu melihat air mata sang bumi? Jika kita bisa merasakan penderitaannya? Seandainya kita mau mendengar suara keluh kesahnya? Seumpama kita sanggup mendengar jeritannya? Apa yang akan kita perbuat? Akan tetap membutakan mata, menutup telinga? Akankah otak kita sanggup berpikir bagaimana memperbaikinya? Akankah tangan kita mampu berbuat untuk mengembalikan keindahannya? Atau dengan segala nafsu rendah kita akan tetap membabat, merusak, dan menghancurkannya atas anjuran berhala kemajuan?

Bumiku yang malang, bumiku yang semakin kerontang, bumiku yang kian keriput. Maafkan aku dan miliaran saudaraku yang hilang kepedulian terhadapmu. Tersenyumlah, berbahagialah engkau dengan saudara-saudaraku yang lain –yang jumlahnya sangat sedikit– yang masih punya rasa malu kepadamu, mereka yang menyayangimu dengan berjuta ekspresinya. (MONTONG, 12:59)

Apa?

Posted in Uneg-uneg on April 20, 2009 by masyon

Apa yang kita cari hingga kita berlari tanpa henti?
Apa yang kita tunggu hingga kita harus termangu?
Apa yang kita harapkan sampai kita tak pernah berhenti berharap?
Apa yang kita tuju hingga kita terus berusaha maju?
Apa yang ingin kita impikan hingga kita tertidur lelap?

Aneka tanda tanya itu mendera kita setiap saat
dan kita tak juga mampu menjawabnya
namun, saat jawaban tepat datang
kita selalu terlambat, kita pun menjadi bodoh
kita sudah layu……. kita bukan apa-apa
kita bukan siapa-siapa ternyata….

Kita hanyalah makhluk serba gundah
kita sekadar makhluk kumpulan tanda tanya
tak lebih
sebab ketika kita sudah tak gundah lagi
saat kita bisa memberi makna pada tanda tanya itu
kita (lagi-lagi) terlambat. MATI!

Adakah yang kau tahu, yang lebih dari itu sahabatku?

(DEPOK, Hari Kartini 09, pk 01:30)