ULANG TAHUN

Dikirim Debu Pencinta pada Juni 15, 2009 oleh masyon

Waktu bergulir cepat. Uban bertambah. Umur bertambah, sekaligus jatahnya berkurang. Setiap tahun kita selalu berulang tahun. Di antara kita ada yg merayakan ulang tahun secara besar-besaran, mewah, meriah, bahkan di hotel berbintang atau pesta kebun di sebuah vila. Ada yang sekadar mengundang tetangga kiri-kanan, depan-belakang, dengan tumpeng sederhana. Sangat banyak pula yang tidak apa-apa alias tanpa apa pun karena toh hari-hari hari itu sama saja. Sama-sama 24 jam, sama2 mengurangi jatah umur. Ada pula yang berdiam tafakur, mensyukuri nikmat, mengingat dosa pada keheningan malam.

15 Juni 2009, tak terasa usiaku sudah 41 tahun. Aku ulang tahun. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tidak ada perayaan, tidak ada tumpengan. Alhamdulillah… puja dan puji syukur kepada Sang Kholik yang telah membuatku ada dan masih ada hingga tahun ke-41 ini. Sejak 14 Juni aku mengungkapkan perasaan dengan kata-kata sederhana: “Alhamdulillah…. Karena Engkau aku ada, karena Engkau pula aku masih ada.” Lalu, “Ingin tertidur lelap bersamanya, memeluknya… (orang-orang tercinta)” Kemudian, pada hari H aku mengatakan, “Nambah umur: TQ 2 Alloh SWT, kontemplasi, insipirasi, happy, kerja keras, semangat, dan terus mencintai! Siap bergumul kembali dengan si Happy Monday…”

Umurku telah bertambah, sekaligus jatahku mengirup udara di dunia berkurang! Entah kurang berapa? Hanya Dia yang Mahatahu. Dan, bagiku ulang tahun adalah kontemplasi, yakni mensyukuri nikmat, menghitung kembali dosa-dosa. Ulang tahun juga sebuah inspirasi atau sumber ide terhebat untuk berbuat pada kemudian hari. Ulang tahun berarti kebahagiaan, karena aku mendapatkan ucapan selamat dan doa dari istri, anak, saudara, sahabat yang tak lagi bisa kuhitung satu persatu. Ada yang secara langsung, ada yang melalui telepon, SMS, email, atau ekspresi lewat tag, luv, gift, komentar di FB, FS, Tagged, dan lain-lain. Ucapan selamat dan doa itu menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Ulang tahun bagiku juga sebuah teguran agar aku terus bekerja keras dalam menghadapi hidup, menghidupi diri sendiri dan keluarga. Kerja keras untuk aktualisasi diri di hadapan masyarakat, sekaligus kerja keras sebagai sebuah upaya ibadah kepada-Nya. Ulang tahun adalah semangat untuk terus berani menatap masa depan tanpa gamang: dengan pikiran, kata-kata, dan tindakanku. Ulang tahun adalah cinta, terus-menerus mencintai, karena tanpa cinta, baik dari-Nya maupun dari sesama… ulang tahun tidak ada apa-apanya. Tidak berarti. Karenanya dengan terus dan selalu mencintai, kita akan tetap ada. Sahabatku semua, terima kasih atas segala ucapan dan doa kalian. Semoga Alloh mengabulkan ucapan dan doa terbaik umat-Nya, sekaligus Dia membalas kebaikan kalian dengan berjuta kebaikan lagi…..

Montong, 15 Juni 2009 (16:58)

15 Tahun Bahtera

Dikirim Cinta & Obsesi pada Mei 24, 2009 oleh masyon

Waktu cepat berlalu. Rasanya, aku pakai seragam abu2 putih belum lama. Ternyata sudah 23 tahun yang lalu. Dan tahun ini Noni (14, si sulung) juga sudah harus berseragam abu2 putih……

Rasanya, baru kemarin kami pacaran dengan segudang duka-cita dan tetesan air mata. Seolah baru hari ini kami menikah dengan segala kesederhanaan dan (banyak) cibiran dari mereka yang tidak suka terhadap kebahagiaan kami. Namun, ternyata itu sudah 15 tahun lalu.

25 Mei 1994, tepat 15 tahun lalu kami berikrar di depan penghulu untuk saling mencitai hingga akhir zaman. Seperti baru saja terjadi. Apakah memang waktu cepat berlalu? Peribahasa Prancis mengatakan, “Cinta membuat waktu berlalu dan waktu membuat cinta berlalu.” Mungkin benar, cinta kami yang tak aus oleh panas, tak hilang oleh gelombang membuat waktu itu semakin cepat. Tapi, kami tak ingin waktu membuat cinta kami berlalu…..

Kami tetap saling memupuk rasa itu, meski aku kadang masih sedikit nakal dengan melirik kanan kiri. Meski aku (pernah) mendua hati, aku tetap tidak sanggup berpaling darinya….. Aku tetap menjaga dan memelihara cinta kami dan membiarkan waktu berlalu.

Ya Robb…. bahteraku sudah 15 tahun. Aku masih ingin menjadi nahkoda yang bijaksana di antara coba dan goda. Kami tetap akan menerjang gelombang, mengarungi ombak, melawan badai, serta menjaga kedua titipan-Mu, Noni dan Nino, dengan sepenuh hati, sekuat jiwa raga. Kami tetap akan berlayar menuju titah-Mu… sakinah mawadah warohmah. Karenanya, terangi jalan kami, kuatkan hati kami, tajamkan mata kami, dan jaga ruh kami. (Depok 00:30)

HARKITNAS

Dikirim Uneg-uneg pada Mei 20, 2009 oleh masyon

<p>Dulu, zamannya kita sekolah, setiap memperingati Harkitnas 20 Mei (dan juga hari2 besar nasional lainnya), kita melaksanakan upacara bendera dengan hikmat… tak jarang malamnya ada renungan suci di TMP (taman makam pahlawan)….. Sering kali bulu kuduk kita merinding, bahkan air mata meleleh tanpa kita sadari saat mendengarkan alunan lagu “Mengheningkan Cipta”, “Gugur Bunga”, bahkan “Indonesia Raya”…. Kita pun sering diingatkan betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, para founding fathers dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan…. Apalagi saat itu kita diberi pelajaran PMP dan PSPB…. Lengkap sudah (sebenarnya) bekal kita menjadi anak bangsa.

Lalu, ketika kita dewasa…mata kita terbuka. Kita menyaksikan betapa berbedanya aneka teori di sekolah, di lapangan upacara, dengan kenyataan yang ada…. Kita terperangah melihat tingkah polah (oknum) pejabat, pemimpin, aparat pemerintah dari pusat sampai dusun terpencil yang sungguh memuakkan. Korupsi, manipulasi, memperkaya diri dengan jalan yang tak semestinya dari zaman dulu sampai sekarang masih saja terjadi… bahkan semakin menjadi-jadi. Kemerosotan moral tanpa henti, tiada terkendali! Kemiskinan pun tetap saja membumi di Bumi Pertiwi. Aaaahhhh……

Kini, seabad lebih setahun….. konon kita sudah bangkit… Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati, walau tanpa greget, tanpa nyali untuk memperbaiki negeri, mengangkat martabat sendiri…. Kita pun menjadi makhluk instan, pragmatis, dan egoistis…. buah dari hilangnya greget nasionalisme dan patriotisme dalam sanubari.

Masih pantaskah kita menyebut HARKITNAS sebagai hari kebangkitan nasional saat para pemimpin berebut kursi? Saat bayi harus mati tersiram kuah soto mi? Saat hedonisme kita tak bisa terhenti? Saat hukum masih diperdagangkan? Saat korupsi menjadi kebudayaan?

Namun, apa ya kalau HARKITNAS harus berganti definisi menjadi hari kesakitan nasional? Betapa mengenaskan! Betapa memilukan! Tidaaaaaaaakkkkkk…… Jangan menangis Indonesiaku! Sembuhlah negeriku! Sadarlah bangsaku! (11:03)

Panggung Sandiwara

Dikirim Uneg-uneg pada Mei 5, 2009 oleh masyon

Lagu yang dipopulerkan Achmad Albar tiba-tiba mengiang di telinga….. “Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah, kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani….. setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan….. . bla bla bla.”

Ya, dunia memang sandiwara dengan segala lakon dengan segala pemain. Aku jadi pemain, engkau juga. Dia menjadi aktor, mereka pun menjadi tokoh sentral sandiwara. Aku bisa menjadi penonton. Engkau bisa jadi pemirsa. Dia, mereka pun bisa menjadi penikmat. Komplet pokoknya.

Negeri Pancasila ini baru saja mementaskan sandiwara besar yang menjadi tontonan kita semua, PEMILIHAN UMUM atau pemilu. Pemilu ini tidak akan menjadi sandiwara yang menarik jika tidak ada tokoh antagonis yang menguasai pentas. Tidak lagi bernyawa jika tidak ada Durna dan Sengkuni. Hambar jika tidak ada tokoh tertindas yang pantas dikasihani. Sandiwara itu juga tidak akan lucu jika tidak ada badut, pelawak, Cangik. Limbuk, dan para punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong). Jika tanpa tokoh-tokoh itu…….pemilu akan seperti pada masa Orde Baru, biasa-biasa saja ketika dipentaskan dan sesudahnya.

Pemilu yang baru lalu ternyata bukan hanya sandiwara satu babak. Dia bisa mdenjadi dua babak, trilogi, kwartet, dan seterusnya dengan centang-perenang tokoh dan peristiwa. Dengan ragam cerita berliku. Dari bentuk kekecewaan ketidakpuasan menuju sebuah koalisi besar, dari bentuk pertahanan diri hingga saling serang. Dari stres hingga tawar-menawar capres/cawapres. Semuanya enak ditonton. Semua layak dinikmati… …. tetap saja belum berakhir.

Masih harus ada lagi episode baru, babak lanjutan. Kali ini babak Antasari Azhar……. Dan kita kembali menjadi penonton, penikmat sandiwara itu….. Bagaimana endingnya? Bisakah kita memprediksi seperti menebak ending sinetron di TV? Sebagai penonton, tentu saja ada di antara kita yang hanya merasa “biasa-biasa saja”, ada yang penasaran, ada yang cemas gundah gulana, dan ada yang ketakutan tiada tara. Ada pula yang mencoba membelokkan dan memparodikan cerita. Dan, semuanya menambah gairah pertunjukan sandiwara itu……..

Sandiwara belum akan berakhir. Kita masih bisa menonton. Masih bisa pula ikut casting dan lolos membintanginya. …. AYO lanjutkan sandiwara kita dengan peran masing2….. . aaaaahhh…. . ngantuk, padahal kerjaan numpuk! (13.43)

BUMIKU

Dikirim Cinta & Obsesi pada April 22, 2009 oleh masyon

Hari ini konon Hari Bumi:

Bumi, earth, world atau entah apa sebutan yang pas buat tempat yang kita diami dengan segala keserakahan dan kecurangan ini. Dia tampak begitu renta nestapa. Hutan beton memacang urat nadinya tanpa belas kasihan. Dengan alasan kesejahteraan penghuninya, perutnya dibor, dikeruk, disedot segala macam isinya. Dengan dalih pemenuhan kebutuhan, hutan-hutannya dibalak hampir tak tersisa, dan juga digantikan aneka perkebunan.

Bumiku….. Nasibnya semakin malang. Satu bikin hari khusus buat dirinya, jutaan lain merampas dan memporak-porandakannya. Satu pohon ditanam, sejuta pohon dibabat. Secuil areal direhabilitasi direboisasi, berjuta hektar lainnya dirusak dibantai. Seekor panda disayangi, dikarantina, dianak-pinakkan, seribu gajah dimusnahkan untuk diambil gadingnya. Satu kendaraan dirancang bebas polusi, lima juta lainnya diumbar di jalanan tebarkan bisa ke angkasa.

Andai kita mampu melihat air mata sang bumi? Jika kita bisa merasakan penderitaannya? Seandainya kita mau mendengar suara keluh kesahnya? Seumpama kita sanggup mendengar jeritannya? Apa yang akan kita perbuat? Akan tetap membutakan mata, menutup telinga? Akankah otak kita sanggup berpikir bagaimana memperbaikinya? Akankah tangan kita mampu berbuat untuk mengembalikan keindahannya? Atau dengan segala nafsu rendah kita akan tetap membabat, merusak, dan menghancurkannya atas anjuran berhala kemajuan?

Bumiku yang malang, bumiku yang semakin kerontang, bumiku yang kian keriput. Maafkan aku dan miliaran saudaraku yang hilang kepedulian terhadapmu. Tersenyumlah, berbahagialah engkau dengan saudara-saudaraku yang lain –yang jumlahnya sangat sedikit– yang masih punya rasa malu kepadamu, mereka yang menyayangimu dengan berjuta ekspresinya. (MONTONG, 12:59)

Apa?

Dikirim Uneg-uneg pada April 20, 2009 oleh masyon

Apa yang kita cari hingga kita berlari tanpa henti?
Apa yang kita tunggu hingga kita harus termangu?
Apa yang kita harapkan sampai kita tak pernah berhenti berharap?
Apa yang kita tuju hingga kita terus berusaha maju?
Apa yang ingin kita impikan hingga kita tertidur lelap?

Aneka tanda tanya itu mendera kita setiap saat
dan kita tak juga mampu menjawabnya
namun, saat jawaban tepat datang
kita selalu terlambat, kita pun menjadi bodoh
kita sudah layu……. kita bukan apa-apa
kita bukan siapa-siapa ternyata….

Kita hanyalah makhluk serba gundah
kita sekadar makhluk kumpulan tanda tanya
tak lebih
sebab ketika kita sudah tak gundah lagi
saat kita bisa memberi makna pada tanda tanya itu
kita (lagi-lagi) terlambat. MATI!

Adakah yang kau tahu, yang lebih dari itu sahabatku?

(DEPOK, Hari Kartini 09, pk 01:30)

PEMILU SEBULAN LAGI

Dikirim Debu Pencinta pada Maret 10, 2009 oleh masyon

Pesta demokrasi coy……
Awali dengan demonstrasi coy….
Demonstrasi para capres menggumbar janji
Demonstrasi para caleg menebar mimpi…
Demonstrasi parpol uji nyali meski cekak rezeki
Demonstrasi bikin baliho, spanduk, backdrop, poster, banner, kaos, syal partai……
Tempel di sana-sini….
Bentangkan di tiang listrik, telepon, pepohonan yang merangas
Gak peduli trotoar makin gak nyaman, pepohonan merana, jembatan penyeberangan semrawut……
Masa bodoh dengan estetika….. yang penting bisa jadi model
minimal model bahan tertawaan rakyat…… Banggakah engkau?

Pemilu sebulan lagi……
Rasa acuh tak acuh, masa bodoh, bercampur dengan keinginan kami–rakyat kecil–mencoba mengingat lambang dan nomor urut partai
Sambil membayangkan mata yang penat menatap wajah dan (juga nomor urut) caleg yang hendak mewakili (padahal memaksakan diri menjadi wakil kami) di lembar-lembar suara nanti

Harap-harap cemas bercampur takut apa jadinya negeri nanti, bangsa ini kemudian hari…..
Capres, caleg, partai akankah benar2 menepati janji
adakah mereka ingin memperbaiki negeri, mengangkat derajat kami?

Aku bukan meramal, hanya memprediksi…….. satu dua minggu, dua tiga bulan setelah pemilu
akan ada banyak calon yang tak jadi….. stres dan depresi…..
RSJ pada akhirnya penuh penghuni……….
Suami istri akan banyak yang cerai berai!

Sahabatku semua, terutama sahabatku yang mencalonkan diri,
aku hanya berpesan:
“Kuatkan niat dan tekadmu jika memang itu panggilan nurani memperbaiki negeri….
Bangun optimismemu dengan ridho Illahi, bangkitkan semangatmu untuk kesejahteraan kami.
Namun, jika engkau hanya ingin cari rezeki, berniat memperkaya diri, lebih baik urungkan niatmu, mundurlah jauh-jauh hari……
mumpung engkau sekalian belum bangkrut, belum merugi,
agar engkau sekalian tidak depresi!” (Depok, 11 Maret 09/00.34)

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Dikirim Debu Pencinta pada Februari 24, 2009 oleh masyon

“Raihlah marahari asal dirimu gak meleleh….”

Entah, tiba2 aku begitu saja menuliskan kalimat itu di “status” FBku. Setelah kutulis, aku sendiri bingung. Apa maksudku? Kupikir sejenak kalimat itu. Kalimat sederhana itu aku maksudkan sbg spirit yang memotivasi diriku sendiri.

Aku memang harus mengejar apa yang kuinginkan, meraih cita-cita, merajut cinta dan persaudaraan, merenda masa depan, memungut kebajikan di mana pun berada, menggali sumur kearifan, menelusuri belantara kehidupan, menerjang badai tantangan, menghajar musuh2 yang menghadang, merobohkan tembok2 penghalang, mendaki tebing terjal keangkuhan, menuruni lembah keniscayaan, untuk meraih matahari. Matahari tak boleh hanya dipandang sebagai pembawa cahaya, tak bisa dilihat sebagai penerang saja. Matahari adalah sumber kehidupan yang harus kita genggam, kita telan, hingga kita menjadi dirinya. Menjadi penerang dunia, menjadi sumber kehidupan……

Matahari memang harus kuraih dengan senyum, semangat, cinta, optimisme, kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, hati, otak, dan keringat. Matahari akan melumat dan membakar habis siapa saja yang berusaha menggapainya dengan keculasan, kebimbangan, kemunafikan, kebohongan, kemalasan, ketidakjujuran, kepicikan, ketamakan, kedengkian, keraguan, ketidaksadaran.

“Ayooo, raihlah matahari, jadilah dirinya tanpa syarat, paling tidak buat dirimu sendiri!” begitu teriak sang jiwa tenang yang bersemayam. (11.55)

Selamat Pagi Indonesia

Dikirim Cinta & Obsesi pada Februari 5, 2009 oleh masyon

Pagi ini, sebuah SMS manis masuk ke HPku, “Selamat pagi Mas, selamat pagi Indonesia, selamat pagi semua. Selamat beraktivitas, smg Allah SWT selalu meridhoi apa yang kita lakukan. Amien YRB”

Sebelum membalas, aku sempet berpikir, “Tumben nih orang, bawa-bawa Indonesia segala? Apakah dia mengingatkan aku bahwa kita punya sesuatu bernama Indonesia? Atau sekadar iseng krn dia tiba2 teringat bahwa dia juga bagian yang bernama Indonesia?” Apa pun maksudnya, SMS itu ternyata memang mengingatkanku akan INDONESIA.

Dulu (abad 19), orang yang pertama kali menemukan kata “Indonesia” itu adalah Abel Tasman (penemu Tasmania, kepulauan di selatan Australia). Kemudian pada zaman Pergerakan Nasional (awal 1900an), nama itu disepakati oleh para founding fathers untuk menamai negara kepulauan kita sekarang ini. Sekaligus untuk menyebut diri sebagai bangsa yang besar, majemuk (heterogen) dalam segala hal, unik, sopan santun (konon), di wilayah bekas jajahan bangsa Kincir Angin alias Walanda di wilayah Asia Tenggara. Ini berarti sebuah konsensus, kesepakatan.

Maka, lahirlah ormas/orpol dg membawa nama “INDONESIA”, spt Indische Partij (Partai Indonesia), PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI, dan lainnya, bahkan dalam Sumpah Pemuda 28 Okt 1928, tiga keputusannya menyebutkan Indonesia, dan sejak itu pula ada lagu W.R. Supratman “Indonesia Raya” menjadi lagu kebangsaan….. Dan seterusnya hingga 17 Agustus 1945, “INDONESIA” menjadi “trade mark” kita, sebagai nama negara, bangsa, kebudayaan, semangat, hingga cita-cita bersama.

Ya, Indonesia yang indah dengan segala problematikanya sekarang ini adalah milik kita. Berarti kita memiliki INDONESIA. Namun, sayang sekali, karena kita merasa memiliki, kita sering melupakannya, mencampakkannya, mengoyaknya, mencibirnya, mencurinya. Banyak di antara kita yang korupsi karena, “toh Indonesia milik kita”. Ada yang menjarah hutan habis2an karena “hutan Indonesia adalah punya saya”. Tidak sedikit pula yang merampas, memeras, mencopet, mencuri milik orang Indonesia (yang lain) karena “toh sama2 Indonesia”. Bahkan, ada yang membela mati2an pemimpinnya yang keblinger karena mengindentikkannya sebagai “Pemimpin Indonesia”, sehinga swargo katut neroko nunut (ke surga terbawa, ke neraka ikut juga), hingga sangat fanatik “Right or wrong is my country!”. Intinya banyak yang tersesat, tidak jelas jutrungannya.

Selamat pagi Indonesia. Barangkali semakin indah jika mind set kita sedikit digeser, yakni “memiliki” digeser sekian derajat “menjadi”. Ini adalah istilah yang aku pinjam dari Erick Form. Kita “memiliki Indonesia” berarti kita “menguasai Indonesia”, dengan “menjadi” berarti kita “menjadi Indonesia”. Dengan “menjadi Indonesia”, kita akan semakin bijak dalam menata, mengelola, memanfaatkan, menumbuhkembangkan, mencintai, memaknai, menyanyangi, bahkan membenci sekalipun. Karena Indonesia adalah diri kita sendiri.

Selamat pagi Indonesiaku. Tersenyumlah menyambut pagi yang indah ini. Cumbulah kehidupan dengan birahi Indonesia. Setubuhilah bumi pertiwi dengan penis Indonesia. Orgasmelah bersama ejakulasi kedamain bernama Indonesia. Salam super sukses luar biasa! (09.59)

Maklum, Mohon Maklum, & Memaklumi

Dikirim Uneg-uneg pada Februari 3, 2009 oleh masyon

Istilah “maklum” termasuk istilah familiar di telinga kita. Dia sangat dekat dengan kita dalam keseharian. Dia sering menjadi modal dasar “kepengecutan” kita dalam segala hal. Dia pun tidak jarang menjadi kambing hitam atas keterlambatan, kesalahan, kesengajaan, kekurangan, kegilaan, bahkan kebakhilan dan kepicikan kita.

“Maklum, saya ngejar setoran,” alasan sopir angkot yang melanggar aturan.

“Maklumlah, kita ini kan orang timur,” begitu celetuk Fulan saat mengomentarai suatu keadaan.

“Harap maklum,” kata penutup surat yang sering salah kaprah.

“Mohon dimaklumi, saya kan hanya tamatan SMA,” bilang Wati yang kalah debat dengan temennya yang tamatan SMP.

“Maklum lah Ma, si Iyem itu kan hanya orang kampung,” jelas Tuan Majikan kepada Nyonya Majikan saat mengomentari kekurangan pembantunya.

Dalam KBBI, istilah “maklum” diartikan (v) paham, mengerti, tahu, dan (a) dapat dipahami. Memaklumi diartikan memahami, mengetahui. Mohon maklum di KBBI tidak ada, tapi bisa diartikan sebagai permohonan agar dipahami, dimengerti, atau diketahui……

Sayang sekali ya, sehari-hari sebagian besar dari kita ini hanya memakai yang “maklum” dan “mohon maklum”. Kita sangat enggan “memaklumi”. Akibatnya, jalanan sering macet nggak keruan, bahkan menimbulkan kecelakaan fatal; banjir dengan sampah bertebaran masuk ke rumah-rumah; gas elpiji sering jadi langka; tengah malam berisik gak “memaklumi” tetangga; perkelahian antarpelajar merajalela; guru menampar murid-muridnya; oknum artis foto-foto bugil; perceraian bertebaran akibat “mohon dimaklumi”; teror menjadi tradisi; bahkan perang menjadi alasan untuk berdamai.

Kultur dan psikis kita memang masih senang mengemis daripada memberi. Masih suka “memohon maklum” daripada “memaklumi”. Masih sering “menyesalkan” ketimbang “menyesali”. Padahal, jika setiap saat kita semua bersedia “memaklumi”, yakin seyakin-yakinnya, tidak akan ada lagi “maklum” dan “mohon maklum” yang membikin bumi memanas menyaingi matahari. Bumi menjadi damai. (09.46)