Tak terasa, Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H telah berada di ambang pintu. Di depan kita semua. Keheningan sekaligus kegaduhan seremonial puasa Ramadhan, tarawih, tadarus, membayar zakat segera usai. Lantas, geliat duniawi, hedonis — atas nama menyambut lebaran– di pusat-pusat perbelanjaan mendominasi hati dan otak kita. Kemacetan lalu lintas pun mewarnai “perilaku kebudayaan” kita tersebut.
Masyarakat Indonesia (bukan hanya yang beragama Islam) memang sangat antusias menyambut kedatangan hari fitrah itu. Mudik sebagai sebuah tradisi kembali ke kampung halaman seolah menjadi keharusan kaum urban. Keharusan yang memang bukan basa-basi, karena sebagain besar orang yang mudik “berusaha” kembali ke akar, kembali ke asal, kembali ke jati diri. Meskipun ada juga yang sekadar daripada tidak mudik, tetap saja semangat 45 menuju kampung halaman mewarnai jiwa mereka.
Menarik ketika membaca iklan sebuah harian di Jawa Tengah dengan momentum Idul Fitri. Koran Jateng itu meng-otak-atik gathuk-kan LEBAR-LIBUR-LABUR-LUBER-LEBUR. Kata-kata itu aku pinjam di sini!
LEBAR (lebaran) dalam bahasa Jawa berarti selesai, yakni merupakan perwujudan rasa syukur setelah selesai menunaikan ibadah selama sebulan Ramadhan. Lebaran berarti berbagi dengan sesama. Berbagi maaf, berbagi rezeki, berbagi keceriaan, berbagi (rasa) cinta. Bukan berbagi kedengkian, iri hati, kemarahan dan hal-hal negatif lainnya.
LIBUR, karena hampir semua orang menghentikan aktivitas bisnis, politik, pemerintahan, dan lain-lain, kemudian menjadikannya waktu untuk berkumpul, bertemu sanak saudara, sahabat, dan handai taulan. Di sini, sekat-sekat jabatan, pangkat, golongan seolah hilang menjadi egaliter…. semua sederajat.
LABUR, saatnya kita semua berbenah. Membersihkan dan mempercantik rumah dan pekarangan. Mempercantik penampilan fisik, badan, pakaian untuk saling bersilaturahmi dengan sesama. Sekaligus “melabur” jiwa dengan siraman suci hingga noda2 kesalahan sebagai makhluk sosial habis tak berbekas.
LUBER, melimpah. Saat Idul Fitri, selayaknya rezeki semua orang melimpah. Yang bekerja mendapatkan tunjangan hari raya (THR), pengusaha/pedagang meraih keuntungan, dhuafa/fakir miskin memperoleh zakat dari orang-orang yang mampu dan kaya. Semuanya melimpah. Hati pun harus melimpahkan rasa kemanusian sedemikian rupa, sehingga semua merasakan kelimpahan rahmat-Nya.
LEBUR. Saatnya semua orang melebur dosa, salah, dan khilaf yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Semua saling memaafkan tanpa terkecuali. Semua kembali bersih. Suci tak bernoda.
LEBAR-LIBUR-LABUR-LUBER-LEBUR ini jika kita mau dan mampu melaksanakan, memaknai, dan mengambil segala kearifannya, tentu perintah “Dan berpuasalah kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” menjadi sebuah realitas yang manis. Kenyataan yang indah. Bukankah takwa itu bukan sebuah pelajaran teori tentang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, melainkan sebuah “perintah” yang harus diejawantahkan bahwa dengan berpuasa (dan ibadah lain selama sebulan Ramadhan) manusia haruslah meningkat nilai atau kualitas kemanusiaannya?
Ok fren. Aku telah memaafkanmu, maafkan aku. (Montong, 18 September 2009)